Situs UIN SMH Banten Dibobol Mantan Admin IT

Suasana konferensi pers terkait dosen honorer yang meretas situs kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Banten di Mapolda Banten, Senin (4/3/2019).*

SERANG, (KB).- Mantan admin IT UIN SMH Banten DR (40), ditangkap Polda Banten karena nekat meretas situs kampus Islam Negeri di Banten tersebut. Akibat perbuatannya itu, situs UIN SMH Banten lumpuh atau tidak bisa diakses oleh para sivitas akademika.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, pemicu aksi nekat DR karena diduga sakit hati pernah ditegur oleh atasannya saat bekerja di UIN SMH Banten. Akibat perbuatan mantan dosen ilmu komputer itu, seluruh pelayanan berbasis online di kampus tersebut lumpuh dan tidak bisa diakses siapapun.

“Dari pemeriksaan sementara kami, motif pelaku melakukan hal itu karena dipicu sakit hati pernah ditegur bahwa yang bersangkutan jarang masuk kerja tapi absensinya penuh terus,” kata Dirreskrimsus Polda Banten Kombes Pol. Rudi Hananto saat ekspose kasus, Senin (4/3/2019).

Terungkapnya aksi nekat DR, bermula saat salah seorang pegawai UIN SMH Banten mengadu ke Pusat Teknologi Informasi dan Pangkalan Data (PTIPD) bahwa server absensi dan sistem kinerja pegawai (SKP) milik kampus tidak bisa diakses pada Senin (25/2/2019).

Setelah dipastikan, server kampus hari itu memang telah lumpuh akibat perbuatan pelaku. Pihak kampus sebetulnya telah beberapa kali mencoba untuk memperbaiki server yang telah diretas. Namun, usaha itu tetap sia-sia. Hingga akhirnya, pihak kampus terpaksa mematikan sementara server dan pelayanan online UIN SMH Banten.

Keesokan harinya, PTIPD UIN SMH Banten menemukan data bahwa server yang diretas bukan hanya pelayanan absensi dan sistem kinerja pegawai. Tapi, seluruh pelayanan berbasis online di kampus tersebut juga telah dilumpuhkan oleh pelaku.

Atas kejadian tersebut, pihak UIN SMH Banten kemudian melaporkan perkara ini ke Mapolda Banten. Merespons laporan itu, penyidik Ditreskrimsus Polda Banten kemudian berkoordinasi dengan tim Bareskrim Polri untuk mengungkap pelaku peretasan sistem layanan di UIN Banten.

Kemudian, Sabtu (2/3/2019), penyidik mulai menemukan petunjuk. Dalam proses penyelidikan, tim menemukan jejak pelaku pada web server UIN Banten yang telah mendownload file berisikan kode eksploid yang mampu melumpuhkan sistem layanan online di kampus tersebut.

Meskipun mencoba menghapus jejak digitalnya, namun tim Ditreskrimsus Polda Banten telah mendapat alat bukti yang mengarah kepada pelaku. Tak ingin menunggu waktu yang lama, penyidik kemudian menciduk DR di kediamannya di wilayah Kota Serang.

“Dia sebagai dosen, memang punya password dan kode akses untuk masuk ke server itu. Dia memang basiknya sarjana ilmu komputer, ngajar juga sebagai dosen mata kuliah ilmu komputer,” ujar Kombes Pol. Rudi Hananto.

Dari pemeriksaan sementara, penyidik belum mendapatkan pengakuan pelaku bahwa dia melakukan modus tersebut untuk diperjualbelikan ke sejumlah pihak. Namun, kata dia, penyidik terus menggali keterangan karena ada indikasi program tersebut telah dijual pelaku ke beberapa kampus di Banten.

“Kalau indikasi itu (jual beli sistem layanan UIN Banten), sementara ini tidak ada. Termasuk jual beli nilai dan sebagainya, belum kami temukan. Tapi, ada indikasi dia jual program itu ke universitas lain. Yang dia jual program terkait kemahasiswaan,” tuturnya.

Berdasarkan keterangan polisi, pelaku juga terindikasi pernah melakukan tindakan nekat serupa di UIN Banten pada 2012. Namun saat itu, kasusnya masih terbilang ringan dan bisa langsung diselesaikan oleh pihak kampus.

“Sebetulnya tahun 2012 pernah terjadi, tapi tidak dilaporkan karena ringan dan bisa di-back up kembali. Keterangan salah satu saksi dari pihak kampus menyatakan yang punya gelagat mengarah kepada pelaku. Tapi, masih kami dalami. Pelaku juga sudah kami tahan untuk kebutuhan penyelidikan,” ucapnya.

Merugikan

Di tempat yang sama, Rektor UIN Banten Prof. Fauzul Iman mengatakan, akibat perbuatan pelaku, server kampus menjadi lumpuh dan tidak bisa membuka pelayanan untuk kebutuhan sivitas akademika. Salah satunya, pelayanan kartu rencana studi (KRS) mahasiswa hingga form penilaian dosen di kampus UIN Banten.

“Semua pelayanan sampai sekarang masih terganggu karena masih perbaikan. Kejadian ini tentu merugikan buat kami, seharusnya agenda perkuliahan mulai sekarang bisa dimulai. Tapi terkendala karena ada masalah ini,” katanya.

Informasi yang diperoleh Kabar Banten, DR saat ini sudah berstatus bukan sebagai pegawai di UIN Banten. Ia sudah resmi meninggalkan kampus tersebut sejak empat bulan yang lalu, dan memilih bekerja di salah satu perusahaan di Cilegon.

“Dia ini memang dosen BLU (badan layanan umum UIN Banten) yang diperbantukan untuk IT di puskom. Yang bersangkutan selama ini memang tidak taat aturan, tidak pernah disiplin. Tapi daftar kehadirannya selalu ada. Sejak kejadian ini, makanya kami laporkan ke Polda Banten,” ujar Kabiro Akademik UIN Banten Mamat Rahmatullah menambahkan.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, pelaku kini sudah diamankan di Mapolda Banten. Dia diancam Pasal 16 Jo Pasal 30 dan atau Pasal 48 Jo Pasal 32 UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang ITE. Ancaman hukuman 8 tahun kurungan penjara. (Rifat Alhamidi/SJ)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here