Jumat, 22 Juni 2018
Situ Cijoro Bendungan

Situ Cijoro Bendungan yang Kian Memprihatinkan

KEBERADAAN sebuah situ atau waduk dimaksudkan sebagai penampungan air bagi pemenuhan kebutuhan masyarakat khususnya para petani. Namun akibat kurangnya perawatan dan terutama kepedulian masyarakat dalam ikut menjaga keberadaan bendungan itu, fungsi bendungan mulai berkurang dan bahkan hampir tak bisa lagi menjadi andalan petani untuk mengairi areal persawahannya.

Di Kabupaten Lebak, khususnya di sekitar pusat Pemerintahan Rangkasbitung, setidaknya terdapat dua buah bendungan yang kondisinya dari hari ke hari semakin memprihatinkan. Situ Palayangan yang berada di wilayah Kecamatan Cimarga saat ini hampir tak dapat lagi difungsikan sebagai sumber pengairan bagi persawahan akibat tumbuhan liar yang hampir memenuhi semua areal bendung. Serta banyaknya sampah yang sengaja dibuang oleh masyarakat.

Kondisi serupa juga terjadi pada situ atau Bendungan Cijoro di Desa Rangkasbitung Timur, Kecamatan Rangkasbitung. Bendungan yang selama ini menjadi andalan petani untuk mengairi sawah mereka kini sudah tidak berfungsi karena debit airnya mengalami pendangkalan sejak empat tahun lalu.

Saud, warga sekitar Situ Cijoro Bendungan, Desa Rangkasbitung Timur mengungkapkan, sejak 2014 Situ Cijoro Bendungan memang sudah mengalami pendangkalan. Bahkan, ketika sejak tahun itu pula tidak juga ditangani pihak terkait, sehingga kondisi pendangkalannya semakin parah. ”Seperti tahun ini, pendangkalannya semakin parah, sehingga areal persawahan disejumlah desa di Rangkasbitung sulit mendapat pasokan air,” ucap Saud.

Mengingat tidak lagi mendapatkan air dari Situ Cijoro Bendungan, maka kini areal persawahan disejumlah desa di Rangkasbitung, berubah menjadi sawah tadah hujan. Bahkan, karena menjadi sawah tadah hujan, maka musim tanam yang biasanya mampu dilakukan tiga kali dalam setahun, kini hanya mampu dua kali musim tanam. ”Kami berharap pihak terkait segera melakukan penangannya agar kondisi Situ Cijoro Bendungan kembali normal. Sehingga, sawah kami bisa terairi lagi seperti dulu,” ucapnya.

Wahyu, petani asal Kampung Cibahbul, Kelurahan Rangkasbitung Timur, yang mengaku sawahnya selalu mendapatkan air dari Situ Cijoro Bendungan, kini malah menjadi sawah tadah hujan. Untuk itu, agar bisa melakukan musim tanam selama tiga kali dalam setahun, Wahyu mendesak agar pihak terkait segera melakukan penanganan pendangkalan di Situ Cijoro Bendungan. ”Kalau tidak juga ditangani, maka sampai kapanpun sawah di desa kami akan tetap menjadi sawah tadah hujan,” kata Wahyu.

Menanggapi hal itu, Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) pada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Lebak, Dade Yanapriandi mengatakan, status Situ Cijoro Bendungan sama dengan Situ Palayangan di Kecamatan Cimarga. Dimana jika ada hal yang berkaitan dengan pemeliharaan atau penanganannya merupakan tanggung jawab Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau Ciujung Cidurian (BBWSC) Banten. ”Kami hanya mampu menginformasikannya saja ke pihak BBWSC Banten. Sebab, kalau untuk menangani atau memperbaiki situ tersebut bukan kewenangan kami,” tutur Dade Yanapriandi. (Lugay/Job)***


Sekilas Info

Wisatawan Serbu Pantai Sawarna dan Bageudur

MASSA libur panjang, seperti halnya libur Hari Raya Idulfitri sering dimanfaatkan oleh masyarakat untuk melakukan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *