Sisi ”Basyariah” Nabi Muhammad SAW

Fauzul Iman, Rektor UIN SMH Banten.*

Kehadiran Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Tuhan di muka bumi, menurut ajaran Islam, merupakan kebenaran yang tak dapat ditolak. Beberapa sumber modern seperti ditulis Michel Hart dan Montgemory Watt menegaskan adanya keyakinan tersebut.

Bahkan Hart mengakui kesuksesan spektakuler Nabi sebagai utusan Tuhan dalam mempromosikan dan memperluas pengaruh ajaran agama di dunia. Sementara Watt membentangkan meluasnya pengaruh ajaran agama oleh Nabi karena akhlak Tuhan yang melekat pada diri Nabi itu sendiri.

Keunggulan sebagai utusan Tuhan ini dibuktikan oleh peristiwa empiris yang tidak mampu menghadirkan nabi baru, siapa dan dari kalangan elite manapun yang ingin mengklaim dirinya sebagai nabi. Sumber wahyu menegaskan adanya cercaan sinis dari kaum tak beriman mengapa Tuhan mengutus seorang laki-laki bergelar Nabi lahir dari kampung yang berstrata rendah bukan dari kota kosmopolitan yang berstrata kaya.

Kecuali itu, umat yang meyakini kebenaran Nabi makin tumbuh berkembang dan jauh meluas menjulang. Bahasa Alquran yang dialirkan pada Nabi meruahkan keajaiban dahsyat mampu menumbangkan ikon syair- syair Arab yang saat itu sangat terpandang keindahannya.

Kaum tak beriman makin kalut saja/kehilangan akal dan tak berkutik lagi lalu dengan berbagai cara memadamkan ajaran Nabi. Pada akhirnya mereka ingin menjungkirbalikkan ajaran Nabi dengan sebuah ketidakberdayaan belaka berupa tuduhan tumpul yang dilontarkannya bahwa Nabi tidak lebih hanya sekadar tukang tenung.

Ketidakberdayaan kaum pengacau itu, sekali lagi, telah membuktikan kebenaran Nabi sebagai utusan Tuhan. Meski mereka sebenarnya heran pada diri Nabi yang selama ini dikecamnya sebagai anak ingusan yang lahir dari desa anta berantah. Akan tetapi tidak berarti semua yang dilakukan dikendalikan Tuhan. Nabi SAW adalah manusia biasa.

Alquran menyebutnya dengan kata yang sangat spesifik yaitu dengan kata basyar. Kata ini menunjuk langsung pada arti kulit, yaitu suatu benda yang mudah rapuh manakala terkena panas dan hujan. Kata kulit juga menggambarkan suatu benda yang membutuhkan penjagaan dan perawatan interaktif. Itu sebabnya manusia kulit mustahil akan berlangsung hidup tanpa saling bantu membantu guna memenuhi kebutuhan sosial, ekonomi dan politik.

Dalam kontek ini adalah logis kalau Nabi SAW dalam membangun kehidupannya terikat dan berfluktuasi dengan segala dimensi kemanusiaan. Oleh karena itu, dari sisi ekonomi Nabi SAW amat berkelindan dengan motif kebutuhan makan dan minum. Motif ekonomi ini juga dijelmakan Nabi dalam membangun kebijakan perekonomian umat melalui pemberlakuan jalur pungutan jizyah/pajak terhadap kaum non muslim.

Dari sisi sosial politik, Nabi SAW berhasil dengan kreatif menyusun konstitusi piagam Madinah. Robert N bella memuja konstitusi ini sebagai undang-undang yang sangat berlian dan paling modern karena mampu mengatur hubungan lintas suku dan lintas agama. Talcot Person bahkan menilai konstitusi ini hasil kerja seorang Nabi yang sangat cerdas dalam mengakomodasi kehidupan sekuler.

Relasi sekuler seorang Nabi terhadap realitas yang dihadapinya mendorong Nabi dapat memecahkan peristiwa hukum yang tidak terdiktum dalam wahyu. Nabi pernah ditegur keras oleh Tuhan karena apa yang telah diputuskannya tentang tawanan perang mengalami kekeliruan yang amat fatal. Keputusan Nabi yang memilih pendapat Abu Bakar dengan menebus tawanan perang dinilai Tuhan sangat berorientasi kepada kepentingan dunia.

Para ulama menilai keputusan Nabi yang keliru dan ditegur Tuhan itu tetap bernilai dan terkandung pahala karena merupakan hasil penalaran kreatif (ijtihad) Nabi terhadap persoalan keduniaan (sekuler).

Uraian di atas makin menegaskan sisi pemikiran kemanusiaan (basyariah) Nabi yang tidak selamanya bergantung pada lahirnya wahyu. Pemikiran di luar teks wahyu menuju kontek realitas ini merupakan sikap Nabi yang lahir dari anugerah Tuhan Yang Maha Rahman Rahim. Sikap ini membuktikan bahwa Nabi bukanlah raja yang ingin memaksakan kekuasaannya mengatur umat/rakyat. Akan tetapi, seorang Rasul Tuhan yang ingin membangun kemaslahatan dan rahmat bagi seluruh Alam. Wallahu A’lam. (Fauzul Iman/Rektor UIN SMH Banten)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here