Jumat, 20 Juli 2018

Sidang Kasus Suap Amdal Transmart, Bacakan Pembelaan Hendri Menangis

SERANG, (KB).- Terdakwa kasus suap izin analisis dampak lingkungan (Amdal) pembangunan Transmart Cilegon senilai Rp 1,5 miliar, Hendri menangis saat membacakan pembelaan atau pledoinya di Pengadilan Tipikor Serang, Rabu (23/5/2018). Politisi dari Partai Golkar tersebut menangis karena keterlibatannya dalam kasus suap tersebut hanya semata-mata agar mendapatkan pekerjaan sub kontraktor dari PT Brantas Abipraya (BA) dalam proyek pembangunan Transmart Cilegon dan tidak ada niatan lain.

Sidang pembacaan pledoi Hendri merupakan sidang lanjutan pembacaan pledoi dari dua terdakwa lainnya yaitu Wali Kota Cilegon nonaktif, Tubagus Iman Ariyadi, dan Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Cilegon nonaktif Ahmad Dita Prawira yang sempat tertunda. “Saya semata-mata hanya ingin mencari rezeki guna menafkahi istri dan anak-anak saya, karena saat itu kondisi perekonomian saya betul-betul dalam keadaan jatuh,” ujar Hendri sambil meneteskan air matanya di hadapan Ketua Majelis Hakim Efiyanto.

Ia mengatakan, saat ini dirinya memiliki 5 orang anak dan sedang membutuhkan banyak biaya untuk pendidikan dan biaya hidup sehari-hari. Sehingga dirinya cukup membutuhkan pekerjaan dalam proyek pembangunan Transmart tersebut. “Anak saya yang pertama kuliah di UI baru masuk semester enam. Anak kedua sejak ada kasus ini, saya titipkan ke keluarga di Lampung karena saya dan istri tidak sanggup membiayainya. Anak ke tiga baru saja lulus SD, kemudian anak keempat masih duduk dibangku SD dan anak kelima masih berumur 1,5 bulan,” katanya dengan nada lirih.

Ia menuturkan, selama dirinya menjalani kasus dugaan suap, istrinya hanya seorang diri mencari rezeki untuk biaya pendidikan dan anak-anaknya. “Istri saya hanya seorang bidan desa yang tinggal di sebuah kontrakan kecil di Citangkil. Disitu, istri saya mencari nafkah untuk anak-anak saya siang dan malam,” tuturnya. Akibat kasus suap yang menyeretnya, ibu kandungnya kata Hendri terpukul. Pada 23 Mei 2018 ibunya meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cilegon.

“Semenjak saya dipenjara orangtua saya sakit-sakitan. Saya merasa berdosa karena belum bisa membahagiakan mereka. Untuk itu, saya mohon yang mulia majelis hakim mempertimbangkan keringanan (hukuman) karena saya merupakan tulang punggung keluarga,” katanya. Usai pembacaan pledoi tersebut, Ketua Majelis Hakim menutup sidang. Rencananya sidang akan kembali digelar pada Rabu (6/6/2018) dengan agenda pembacaan vonis terhadap ketiga terdakwa. (FI)*


Sekilas Info

4 Tahun Lumpuh, Lansia di Cikande Tak Mampu Berobat

SERANG, (KB).- Pasangan Suami Istri Memed (73) dan Kasimah (60) warga Kampung Pandan, RT 007/RW 002, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *