”Si Teteh” Berjuang Melahirkan di Posko Pengungsian

Seorang ibu melahirkan di posko hangat Dompet Dhuafa Banten yang berlokasi di Pondok Pesantren Darul Mustafa, Desa Luhur Jaya, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Lebak, Kamis (2/1/2020).*

KABAR bahagia terselip dalam duka bencana banjir bandang yang terjadi di Kabupaten Lebak di awal tahun 2020. Seorang pengungsi melahirkan anak di posko pengungsian di Pondok Pesantren Darul Mustafa, Desa Luhur Jaya, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Lebak.

Bayi itu lahir sehari setelah banjir bandang menerjang dan meluluhlantahkan sejumlah wilayah di Kabupaten Lebak. Meski sang ibu diselimuti kecemasan, proses melahirkan tersebut berjalan lancar dan ibu beserta anaknya dalam keadaan selamat. Hal tersebut dikisahkan pimpinan cabang Dompet Duafa Banten Mokhlas Pidono.

“Di tengah suasana duka itu, seorang ibu harus melahirkan buah hatinya di posko pengungsian DD Banten, Kamis (2/1/2020) atau satu hari setelah bencana banjir bandang terjadi. Dengan dibantu tim medis, ibu yang biasa dipanggil ‘Si Teteh’ itu bisa melahirkan buah hatinya dengan selamat di tengah suasana pengungsian,” ujar Mokhlas.

Sayangnya, kata dia, ASI sang ibu tak keluar sehingga terpaksa bayi merah itu tak bisa menyedot ASI dari ibunya dan harus mencari alternatif lain.

Ia menuturkan, Dompet Dhuafa Banten turut mendirikan posko hangat di lokasi bencana sejak (2/1/2020). Dalam pemetaan DD Banten, terdapat tiga kecamatan yang menjadi titik terparah pada musibah itu, yakni Kecamatan Lebak Gedong, Cipanas dan Sajira.

DD Banten sendiri membuka posko di Pondok Pesantren Darul Mustafa, Desa Luhur Jaya, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Lebak. Dengan menerjunkan satu unit mobil tangki, satu unit mobil dapur keliling dan satu unit mobil toilet siaga. DD Banten setiap harinya harus menyediakan sebanyak 1.800 porsi makan untuk 700 pengungsi di posko hangat DD Banten.

Pondok pesantren yang digunakan sebagai posko sendiri diagendakan mulai masuk Senin (6/1/2020). Namun, berkat ketinggian hati pimpinan pesantren melihat banyaknya pengungsi, akhirnya agenda masuk pesantren diundur hingga sepekan ke depan.

“Kami hanya punya waktu sampai Rabu, 9 Januari 2020 untuk menyiapkan hunian sementara. Semoga bisa direalisasikan, karena untuk kembali ke rumah mereka itu sangat berbahaya dan rumahnya pun sudah hancur ditimbun longsor,” ujar Mokhlas.

Selain itu, Dompet Dhuafa juga berkolaborasi dengan Kampung Dongeng Cilegon menghadirkan dongeng ceria bagi anak-anak penyintas bencana sebagai pelipur lara. Lebih dari 60 anak mengikuti trauma healing di tengah posko pengungsian.

“Harapan kami, anak-anak bisa ceria setelah murung mengingat kejadian yang menimpa mereka,” ujar relawan kemanusiaan Dompet Dhuafa Banten Sofik. (Masykur Ridho)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here