Kamis, 20 September 2018

Sering Meletus, Status Gunung Anak Krakatau Tetap Waspada

SERANG, (KB).- Gunung Anak Krakatau (GAK) kembali meletus Rabu (11/7/2018). Letusan tersebut mengeluarkan kolom abu dengan ketinggian 200 hingga 1.000 meter di atas puncak kawah. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan, Rabu (11/7/2018), Gunung Anak Krakatau meletus sebanyak 56 kali dengan ketinggian kolom abu bervariasi.

Selama 24 jam dari pukul 00.00 – 24.00 WIB, Rabu (11/7/2018), GAK meletus sebanyak 56 kali dengan amplitudo 25-53 mm, dan durasi letusan 20-100 detik serta hembusan 141 kejadian dengan durasi 20-172 detik. Letusan GAK juga disertai lontaran abu vulkanik, pasir dan suara dentuman. Pada malam hari, sinar api dan guguran lava pijar terlihat secara visual.

Sebelumnya, Selasa (10/7/2018) Gunung Anak Krakatau meletus sebanyak 99 kali dengan amplitudo 18-54 mm dan durasi letusan 20-102 detik. Hembusan tercatat 197 kali dengan durasi 16-93 detik. Letusan disertai suara dentuman sebanyak 10 kali dan menyebabkan kaca pos pengamatan Gunung Anak Krakatau bergetar.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, dalam siaran persnya mengatakan, banyaknya letusan ini sudah berlangsung sejak tanggal 18 Juni 2018, dimana Gunung Anak Krakatau mengalami peningkatan aktivitas vulkanik. Ada pergerakan magma ke luar permukaan sehingga terjadi letusan. Namun, status Gunung Anak Krakatau tetap Waspada (level 2). Tidak ada peningkatan status gunung, ujarnya.

Ia menambahkan, status waspada ditetapkan sejak (26/1/2012) hingga sekarang. “Status Waspada artinya aktivitas vulkanik di atas normal sehingga terjadinya letusan dapat terjadi kapan saja. Tidak membahayakan selama masyarakat tidak melakukan aktivitas di dalam radius 1 km dari Gunung Anak Krakatau,” ujarnya.

Selain itu, Sutopo mengatakan, letusan Gunung Anak Krakatau yang melontarkan abu vulkanik dan pasir, tidak membahayakan penerbangan pesawat terbang. VONA (Volcano Observatory Notice For Aviation) orange. Jalur pelayaran di Selat Sunda pun tetap aman. Letusan juga tidak berbahaya selama berada di luar radius 1 km dari puncak kawah.

“Letusan Gunung Anak Krakatau adalah hal yang biasa. Gunung ini masih aktif untuk tumbuh besar dan tinggi dengan melakukan erupsi. Gunung Anak Krakatau baru muncul dari permukaan laut tahun 1927. Rata-rata tambah tinggi 4-6 meter per tahun. Energi erupsi yang dikeluarkan juga tidak besar. Sangat kecil sekali peluang terjadi letusan besar seperti letusan Gunung Krakatau pada 1883. Bahkan beberapa ahli mengatakan tidak mungkin untuk saat ini. Jadi tidak perlu dikhawatirkan”, ujarnya.

Ia menghimbau agar masyarakat tetap tenang. BPBD Provinsi Banten, BPBD Provinsi Lampung, PVMBG dan BKSDA telah melakukan langkah antisipasi. Yang penting masyarakat mematuhi rekomendasi tidak melakukan aktivitas di dalam radius 1 km dari puncak kawah. Di luar itu aman. Justru dapat menikmati fenomena erupsi Gunung Anak Krakatau dari tempat aman, ujar Sutopo. (KO)*


Sekilas Info

Program Serang Sehat Belum Memuaskan

SERANG, (KB).- Program Serang Sehat dinilai belum memuaskan. Hal tersebut salah satunya, karena masih kurangnya koordinasi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *