Rabu, 12 Desember 2018
Ritual Adat Citorek

Serentaun Kasepuhan Citorek, Menjaga Tradisi Mendongkrak Sektor Kepariwisataan

RITUAL adat tahunan komunitas masyarakat adat Kaolotan atau Kasepuhan di masyarakat adat Baduy di Kabupaten Lebak, telah menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat luas, dan menjadi salah satu potensi yang sangat menguntungkan bagi pengembangan dunia kepariwisataan di Banten.

Sebagaimana dipercaya masyarakat luas, serentaun yang merupakan ritual adat budaya telah dilaksanakan ratusan tahun lalu, dan sebuah tradisi tahunan yang wajib dilaksanakan oleh masyarakat adat kasepuhan yang bermukim di Banten Selatan. Serta masyarakat adat Baduy yang tinggal di kaki Pegunungan Kendeng.

Pada pekan lalu misalnya, ribuan warga tumpah ruah mengikuti acara ritual adat tahunan “Serentaun” yang digelar oleh masyarakat adat Citorek. Ritual adat berupa penyampaian rasa syukur atas keberhasilan panen. Sementara itu ”Seba Baduy” yang ritual adat tahunan komunitas masyarakat Baduy sebagai bentuk bukti bakti pada pemerintah, yang dilakukan di Pendopo Kabupaten Lebak dan Pendopo Provinsi Banten, selalu berhasil menyedot perhatian pengunjung.

Kedua upacara adat memiliki tujuan yang sama yaitu bentuk rasa syukur atas karunia Sang Maha Pencipta pada hasil panen dan ladang mereka. Perbedaannya hanya terletak pada tempat dan waktu pelaksanaannya saja. Jika serentaun masyarakat adat Kaolotan dilaksanakan di tempat komunitas masyarakat adat, dengan waktu yang selalu hampir bersamaan dari tahun ke tahun. Sementara Seba Baduy dilakukan di pusat pemerintahan kabupaten dan provinsi dengan waktu yang selalu berubah.

Hal itu terjadi karena penetapan waktu serentaun didasarkan pada perhitungan tahun masehi. Sedangkan waktu pelaksanaan Seba Baduy didasarkan atas perhitungan tahun Baduy yang memiliki perbedaan waktu perhitungan dengan tahun masehi. Selain sebagai ritual tahunan, serentaun juga menjadi objek pariwisata lokal yang saat ini sedang diajukan ke Kementerian Pariwisata (Kemenpar) untuk dinobatkan sebagai warisan budaya tak beda sama dengan beberapa kebudayaan dan kesenian yang sudah tercatat di antaranya seperti Seba Baduy, Debus dan Ubrug.

”Serentaun merupakan kegiatan ungkapan rasa syukur masyarakat di Kasepuhan Citorek kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala hasil pertanian pada tahun ini. Serta berharap hasil pertanian mereka akan meningkat pada tahun yang akan datang,” ucap Wakil Bupati Lebak, Ade Sumardi kepada Kabar Banten, seusai mengikuti acara serentaun masyarakat adat Wewengkon Adat Kasepuhan Citorek, yang digelar di Desa Citorek Timur, Kecamatan Cibeber, pertengahan pekan lalu.

Menurut Ade Sumardi, serentaun juga mengandung makna sebagai ajang silaturahim anak cucu warga adat. Dimanapun warga incu putu berada pada saat serentaun wajib untuk pulang, untuk terus menjalin kebersamaan persatuan dan kesatuan keguyuban antar sesama. Karena, hidup di Citorek itu beradat, beragama dan bernegara. Semoga tradisi ini terus terjaga dari generasi ke generasi.

Dijelaskannya, Citorek merupakan wilayah kesepuhan (kasepuhan) yang terdiri dari lima desa, yaitu Desa Citorek Timur, Desa Citorek Tengah, Desa Citorek Barat, Desa Citorek Sabrang, dan Desa Citorek Kidul. Lima desa itu termasuk ke dalam Kesatuan Wewengkon Citorek. Secara administratif, kelima desa tersebut termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak. Wilayah desa itu dipimpin oleh seorang Jaro (Kepala Desa). Kelima Jaro yang ada di Kesatuan Wewengkon Citorek disebut Pandawa Lima yang dipegang oleh Kasepuhan Kejaroan.

”Masyarakat Citorek merupakan salah satu masyarakat adat yang ada di Kabupaten Lebak, Banten. Masyarakat adat Citorek hampir sama dengan masyarakat adat Cisungsang yang memiliki karakteristik lebih terbuka terhadap dunia luar, dibandingkan dengan masyarakat Suku Baduy yang juga berada di Kabupaten Lebak,” ujarnya.

Dalam wikippedia dinyatakan, wisata berbasis budaya adalah salah satu jenis kegiatan pariwisata yang menggunakan kebudayaan sebagai objeknya, dan dibedakan dari minat-minat khusus lain, seperti wisata alam, dan wisata petualangan. Pada wisata berbasis budaya itu, setidaknya terdapat 12 unsur kebudayaan yang dapat menarik kedatangan wisatawan. Antara lain, bahasa, masyarakat tradisional, kerajinan tangan, makanan dan kebiasaan makan, musik dan keseninan, sejarah suatu tempat, cara kerja dan teknologi.

Unsur lainnya adalah agama yang dinyatakan dalam cerita atau sesuatu yang dapat disaksikan, bentuk dan karakteristik arsitektur di masing-masing daerah tujuan wisata, tata cara berpakaian penduduk setempat, sistem pendidikan, serta aktivitas yang dapat dilakukan pada waktu senggang. Objek-objek tersebut tidak jarang dikemas khusus bagi penyajian untuk turis, dengan maksud agar menjadi lebih menarik. (Dini Hidayat)*


Sekilas Info

Jelang Libur Natal dan Tahun Baru, Anyer dan Tanjung Lesung Diburu Wisatawan

SERANG, (KB).- Okupansi atau tingkat hunian kamar hotel di wilayah Provinsi Banten jelang libur natal dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *