September 2019, ODHA di Banten Capai 590 Orang

SERANG, (KB).- Sepanjang tahun 2019 dari Januari hingga September, Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) baru di Banten mencapai 590 orang. Namun, secara keseluruhan dari tahun 2010 hingga tahun ini, ada 2.771 ODHA.

Tingginya penularan ini diakibatkan dengan beberapa faktor, seperti penyimpangan seksual, bergonta-ganti pasangan dan pemakaian obat-obatan terlarang dengan menggunakan jarum suntik secara bergantian.

Petugas Pendamping dari Yayasan Kotex Banten Selvi Farianti mengatakan, dari jumlah 590 tersebut merupakan orang-orang yang baru berstatus ODHA. Namun, ini masuk dalam kategori ringan, sehingga masih bisa tertangani. Hal yang dapat dilakukan untuk menanganinya adalah membantu mereka mengatasi diagnosis.

“Kemudian, mendukung mereka selama pengobatan maupun perawatan ke rumah sakit. Mendorong mereka untuk mengakses layanan secara mandiri, bermain dan tertawa bersama, serta menciptakan situasi yang nyaman,” katanya, saat memberi pemaparan pada acara lokakarya penulisan pemberitaan HIV dan AIDS bagi jurnalis se-Banten, di salah satu hotel di Kota Serang, Senin (21/10/2019).

Ia juga mengatakan, HIV bukan penyakit yang menular secara mudah. Akan tetapi, penyakit penyerta yang menularkan virus tersebut. Seperti adanya Tuberculosis (TBC) paru dan Hepatitis, karena virus HIV ini menyerang kekebalan tubuh. Sehingga mudah terserang penyakit lain, dan yang paling banyak diderita adalah dua penyakit diatas.

“Selain karena tertular dengan cairan sperma dan vagina, HIV tidak menular. Justru adanya penyakit lain yang membuat penularan itu terjadi. Jadi, HIV bukan penyakit menular yang berbahaya seperti yang dibayangkan masyarakat. Ini hanya stigma masyarakat, dan ini menjadi tugas kami dalam menangani hal tersebut,” ucapnya.

Sementara, Sekretaris II Komisi Penganggulangan AIDS (KPA) Provinsi Banten Santoso Edi Budiono mengatakan, saat ini penyakit “gonoroe” atau sifilis masih banyak terjadi di masyarakat. Sehingga, perlu adanya sosialisasi dan memberikan pemahaman terhadap masyarakat dalam penularan serta pengobatannya.

“Penyebarannya masih cukup tinggi di Banten. Karena itu, kebiasaan di masyarakat yang bergonta-ganti pasangan. Bahkan tak jarang si pasangannya ikut tertular penyakit tersebut. Padahal itu bukan kesalahan darinya, melainkan dari si pasangannya. Oleh karena itu, kami terus memberikan sosialisasi dan pemahaman kepada masyarakat,” katanya.

Penyakit itu, kata dia, masih bisa disembuhkan selama belum memasuki infeksi yang parah, namun pengobatan ini pun harus dilakukan secara rutin dan berkala. Sehingga dalam proses pemulihannya bisa tertangani secara baik dan benar. “Namun, tidak sepenuhnya sembuh, itu pun akan ada fasenya,” ucapnya.

Sedangkan Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Banten Ati Pramudji Hastuti menjelaskan, ODHA bukan seorang yang harus dihindari. Apalagi diasingkan, karena mereka pun memiliki hak untuk bisa bersosialisasi. Tugas media, ucap dia, bukan untuk menghakimi dan membuat mereka menjadi menutup diri dari lingkungan.

“Itu memang akibat perilaku mereka, tapi kita pun harus membantu mereka. Jangan justru membiarkan mereka dan mengasingkannya. Peran media sangat penting, memberitakan boleh, tapi jangan sampai membuat mereka merasa dihakimi,” ucapnya. (Rizki Putri/YA)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here