Seorang ASN dan Lanjut Usia, PDP Covid-19 di Kota Serang dan Cilegon Meninggal

SERANG, (KB).- Pasien Dalam Pengawasan PDP Covid-19 di Kota Serang dan Kota Cilegon meninggal dunia. Mereka adalah pegawai Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kota Serang dan pasien lanjut usia asal Pulomerak, Kota Cilegon.

Berdasarkan informasi, PDP asal Kota Serang adalah pegawai DPK Kota Serang yang meninggal dunia, Senin (6/4/2020). Pasien tersebut merupakan aparatur sipil negara (ASN) Kota Serang yang tinggal di Jakarta, dan sempat dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Juru bicara (Jubir) Covid-19 Kota Serang W Hari Pamungkas mengatakan, yang bersangkutan meninggal dunia dengan status PDP Covid-19. Sebelumnya, pasien mengeluh sakit dan menjalani perawatan sekitar tanggal 19/3/2020 dengan gejala yang mirip dengan pasien Covid-19.

“Sebelum mengeluh sakit, dia (pasien) masih aktif dan masih ikut rapat di dinas tempat dia bekerja. Kami juga lagi tunggu konfirmasi dari Dinkes Kota Serang, minta konfirmasi dari sana juga (RS Pasar Minggu). Untuk hasil lab belum ada pada saat dirawat status PDP di RS Pasar Minggu,” katanya, Selasa (7/4/2020).

Berdasarkan keterangan keluarga, Hari menjelaskan, almarhum memiliki riwayat penyakit paru-paru dan lambung. Kemudian selama berdinas di Kota Serang almarhum tinggal bersama keluarganya di daerah Jakarta Selatan.

“Setiap hari yang bersangkutan pulang pergi Serang-Jakarta. Karena memang beliau tinggal di Jakarta,” ujarnya.

Maka dari itu, seluruh pegawai di DPK Kota Serang akan menjalani rapid test. Sebab, mereka pernah melakukan kontak langsung dengan almarhum sebelum dirawat di rumah sakit.

“Hari ini orang dinas perpustakaan dan kearsipan akan dirapid test. Tadi malam sudah minta ke Kadinkes untuk dilaksanakan sesuai ketentuan protokoler,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kota Serang Wahyu Nurjamil mengatakan, pihaknya belum mengetahui pasti bahwa pegawainya berstatus PDP. Namun, dia mengakui ASN tersebut sering kali sakit.

“Ya kami belum tahu. Kami mau menanyakan juga, pihak keluarga sedang berduka, tapi memang beliau sudah sering sakit,” ujarnya.

Sempat dirawat di RSUD Banten

Sementara itu, PDP Covid-19 asal Pulomerak, Kota Cilegon, meninggal dunia di Rumah Sakit Krakatau Medika (RSKM) Cilegon, Selasa (7/4/2020) sekitar pukul 10.00 WIB. Pasien yang merupakan satu dari tiga PDP di Kota Cilegon itu, meninggal karena serangan jantung.

Hal itu dikatakan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cilegon dr Arriadna, dalam konferensi pers, di halaman depan Kantor Dinas Komunikasi Informasi Sandi Statistik (DKISS) Kota Cilegon, Selasa (7/4/2020).

Saat itu, dr Arriadna didampingi Kapolres Cilegon AKBP Yudhis Wibisana, Dandim 0623 Cilegon Letkol Letkol Arm Rico Ricardo Sirait, serta Manajer Pelayanan Medis RSKM Cilegon Prijo Wahjuana.

Kepada wartawan, dr Arriadna mengatakan, pasien tersebut seorang perempuan asal Kecamatan Pulomerak. Ia sempat dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Banten, setelah pihaknya menetapkan status PDP.

“Pasien sempat dirujuk ke RSUD Banten, juga telah menjalani pemeriksaan swab. Hasil pemeriksaannya menunjukkan negatif corona,” katanya.

Usai mendapatkan hasil, pasien tersebut dirawat di RSKM Kota Cilegon Ahad (5/4/2020). Setelah dirawat beberapa hari, pasien meninggal dunia di rumah sakit milik PT Krakatau Steel (KS). “Jadi bukan karena corona, tapi karena serangan stroke,” ujarnya.

Meski negatif corona, kata Arriadna, namun pemulasaran jenazah tetap dilakukan sesuai prosedur Covid-19. Hal itu dilakukan karena pasien meninggal dunia dengan status PDP.

“Ibu ini kan sudah dinyatakan PDP, sehingga pemulasaran jenazah harus dilakukan sesuai prosedur,” tuturnya.

Sementara itu, Manajer Pelayanan Medis RSKM Cilegon Prijo Wahjuana mengatakan, pihaknya sedang memproses pemulasaran jenazah di RSKM Kota Cilegon. Ia membenarkan jika pasien meninggal karena serangan stroke.

“Sesuai prosedur, jenazah pasien harus dimakamkan dengan peti jenazah. Sekarang kami sedang menunggu peti jenazah,” ucapnya.

Pada bagian lain, Dandim 0623 Cilegon Letkol Arm Rico Ricardo Sirait mengimbau masyarakat untuk tidak memberikan stigma sosial kepada pasien meninggal tersebut. Mengingat kematian pasien bukan karena corona.

“Warga jangan langsung menghakimi, pasien ini bukan meninggal karena corona,” tuturnya.

Begitu pula dikatakan Kapolres Cilegon AKBP Yudhis Wibisana. Ia mengatakan, jika pemakaman akan dijaga oleh sejumlah personel.

“Kami sudah kerahkan personel mulai dari RSKM hingga tempat pemakaman. Kami harap masyarakat tidak resah. Meskipun prosesi pemakaman sesuai prosedur Covid-19, namun pasien meninggal negatif corona,” katanya. (Maskur/Rizky Putri/AH)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here