Sengketa Lahan, SMP Negeri 1 Mancak Disegel

Siswa-siswi sedang berada di luar lingkungan Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Mancak yang disegel ahli waris, Senin (9/4/2018)*

SERANG, (KB).- Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Mancak di Kecamatan Mancak, Kabupaten Serang disegel oleh ahli waris pemilik tanah, Senin (9/4/2018). Penyegelan tersebut merupakan dampak sengketa lahan antara pemilik dan pemkab Serang, setelah sebelumnya ada selisih luasan dari hasil ukur Badan Pertanahan Nasional (BPN) dengan sertifikat tanah yang ada.

Tokoh Pemuda Mancak, Anton Daeng Harahap mengatakan, penyegelan tersebut dilakukan oleh ahli waris tanah. Sebab, ahli waris mengklaim, bahwa tanah yang saat ini menjadi lahan sekolah tersebut masih milik keluarganya dan belum ada penggantian pembayaran dari pemerintah.

“Padahal, waktu itu pemerintah sudah memberikan pernyataan akan membayar pada 2006. Tapi, sampai saat ini, pernyataan dari pemerintah belum diterima oleh ahli waris pemilik tanah,” katanya kepada Kabar Banten, Senin (9/4/2018).

Ia menyayangkan aksi penyegelan tersebut. Sebab, saat ini siswa di sekolah tersebut, sedang melaksanakan ujian nasional. “Saya sebagai warga mengecam tindakan tersebut. Karena itu menghambat proses berjalannya UN yang dilaksanakan hari ini (kemarin). Saya berharap, pihak terkait dapat segera menyelesaikan permasalahan ini,” ujarnya.

Kepala SMPN 1 Mancak, Julhaeni menuturkan, tidak mengetahui awalnya. Sebab, pada saat pagi hari, dia tiba di sekolah sudah ramai. “Ternyata ramai itu, dia (ahli waris) minta tindak lanjut langkah penyegelan pertama pada 2016,” ucapnya. Ia menjelaskan, penyegelan yang dilakukan tersebut, benar adanya terkait sengketa tanah oleh ahli waris. Padahal, masalah tanah tersebut, urusan dengan orangtuanya sudah selesai. “Tapi, ini dipermasalahkan lagi,” tuturnya.

Ia mengatakan, tidak tahu awal mulanya kasus tersebut, sebab saat dia masuk ke sekolah tersebut, di sana sudah ada dokumen akta jual beli (AJB)-nya. Bahkan, di sekolah tersebut sudah ada dua akta. Saat ini, lahan tersebut sedang dilakukan proses sertifikasi dan dalam proses pengukuran oleh BPN.

“Dan ada selisih ukuran antara data tanah yang di akta dengan hasil ukur dari BPN. Nah, selisihnya itu yang dipermasalahkan dan digugat oleh ahli waris. Jadi, luasnya itu yang diukur BPN 5.200 meter persegi lebih, sedangkan dari 2 akta itu sekitar 4.900 meter persegi ada selisih sekitar 300 antara hasil ukur BPN sama akta,” katanya.

Ia menjelaskan, adanya penyegelan yang dilakukan oleh ahli waris tersebut, tidak sampai menghambat prosea ujian sekolah berstandar nasional (USBN) hari pertama. Sebab, pascapenyegelan langsung dilakukan mediasi antara Disdikbud, camat, kepala desa, polsek, dan ahli waris. “Jadi, hanya terlambat 10-15 menit palingan tadi. Setelah nego sana-sini akhirnya dibuka, karena memang lagi ujian nasional,” ujarnya.

Hasil mediasi tersebut, ucap dia, pihak terkait mempersilakan jika kemudian kasus tersebut dilarikan ke pengadilan. Dipersilakan untuk mengajukan perdata. Namun, dalam tahapan menuju pengadilan, dia tidak ingin sampai mengganggu aktivitas belajar mengajar di sekolah. “Karena, bagaimana pun kegiatan belajar mengajar harus berjalan itu harapan kami. Di sini ada 560 siswa dan yang ujian nasional ada 180 orang,” tuturnya.

Ia berharap, penyegelan tersebut tidak kembali terjadi. Sebab, bagaimana juga sekolah tersebut, merupakan milik masyarakat Mancak dan yang menyegelnya juga warga Mancak. “Kalau begitu kami sebagai aparat kan terhambat apalagi sedang ujian. Diharapkan bisa selesai secara hukum, yang perkara silakan antara Disdikbud dan penggugat jangan sampai mengganggu aktivitas belajar sekolah,” katanya.

Diselesaikan di pengadilan

Sementara, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Serang, Sarjudin menuturkan, untuk penyelesaian sengketa lahan tersebut, pihaknya akan membawa ke pengadilan. Jika kemudian dalam gugatan tersebut, Disdikbud kalah dan ahli waris menang, maka Disdikbud akan membayarnya. “Mereka minta bayar sekarang, ya enggak bisa kan ada prosedurnya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, tanah tersebut sudah dikuasai SMPN 1 Mancak sejak 1980. Bahkan, orangtuanya juga sudah menyerahkan kepada sekolah, namun setelah mereka meninggal ahli warisnya menggugat.

“Sekolah juga ada AJB-nya. Tapi, memang antara AJB sama sertifikatnya ada selisih. Ya namanya AJB enggak akan samalah dengan sertifikat, kalau sertifikat diukur benar, kalau AJB luasnya perkiran saja. Tapi, pada prinsipnya sudah dijual sama oran tuanya silakan digugat ke pengadilan,” ucapnya.

Ia mengungkapkan, ahli waris meminta bayaran tanah tersebut seharga pasaran tanah sekarang. “Mereka minta dibayar seharga pasaran tanah sekarang. Belum buka harga sih,” tuturnya. (DN)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here