Sengketa Lahan Runway 3 Bandara Soetta, Zaki Minta Warga tak Anarkis dan Bersabar

Ahmed Zaki Iskandar.*

TANGERANG, (KB).- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang telah melakukan sejumlah langkah dalam menyikapi persoalan sengketa lahan landasan pacu atau Runway 3 Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) Tangerang yang berujung pada aksi protes warga yang belum menerima ganti rugi.

“Kami telah memanggil AP II dan melakukan pertemuan tertutup bersama Polres Tangerang, lurah, dan camat Teluknaga di pendopo,” ujar Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar, Jumat (28/6/2019).

Dalam pertemuan tersebut, kata dia, hal pertama yang dibahas adalah penanganan nasib masyarakat Desa Rawarengas yang masih bertahan, karena belum menerima ganti rugi. “Total ada 156 KK lagi,” ucapnya.

Menyikapi masalah tersebut, dia telah menginstruksikan lurah dan camat, agar melakukan penanganan yang komprehensif, meredam gejolak warga. Bahkan, dia juga telah meminta Kapolrestro Tangerang menyampaikan ke Ketua PN Tangerang, agar proses sidang sengketa lahan dipercepat.

Namun demikian, orang nomor satu di Kabupaten Tangerang tersebut tidak bisa berbuat banyak, karena masalah tersebut, berada di PN Tangerang. “Uang lahan warga sudah dititipkan ke PN. Jadi berharap, bisa cepat selesai,” ujarnya.

Oleh karena itu, dia meminta kepada warga untuk bersabar, agar tidak berbuat anarkis dan menghentikan aksi bakar ban dan naikan layang-layang, karena melanggar ketertiban umum dan mengancam keselamatan penerbangan.

“Jangan sampai warga melakukan tindakan yang mengganggu ketertiban dan ancaman keselamatan penerbangan,” ujarnya.

Ia mengatakan, pemerintah akan terus berupaya, agar warga mendapatkan hak pembayaran lahan dan bangunan mereka. Ia mengimbau, agar petugas melakukan langkah-langkah persuasif dalam penanganan masyarakat dan warga, agar menahan diri untuk tidak melakukan tindakan yang anarkis.

“Hak-hak warga pasti akan dibayarkan. Tapi, harus bersabar, karena prosesnya masih konsinyasi di Pengadilan Negeri Tangerang,” ucapnya.

Diketahui, ratusan warga Desa Rawarengas hingga kini masih bertahan, karena belum menerima ganti rugi atas bidang tanah dan rumah mereka yang tergusur proyek perluasan Bandara Soekarno-Hatta tersebut.

Seperti di RW15, saat ini 145 kepala keluarga atau 750 jiwa masih bertahan. Belakangan diketahui, jika lahan yang mereka tempati tersebut, berstatus sengketa, karena diklaim beberapa warga. Alhasil, uang ganti rugi mereka tertahan, karena dikonsinyasi atau dititipkan ke Pengadilan Negeri Tangerang. (DA)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here