Jumat, 22 Februari 2019

Semen Indonesia Kuasai Holcim

Oleh : Andriansyah Anggara

Apabila membicarakan prestasi pemeintah saat ini tentu tidak ada habisnya. Capaian kinerja dan segudang prestasi dari pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla telah banyak diakui masyarakat Indonesia bahkan di kancah internasional. Salah satu capaian terbaru pemerintah adalah melalui PT Semen Indonesia (SMGR) menyatakan telah mengakuisisi 80,6% saham Lafarge Holcim di PT Holcim Indonesia (SMCB) dengan nilai US$ 917 juta atau Rp 13,47 triliun.

Semen asal negara Swiss tersebut adalah salah satu perusahaan semen terbesar di dunia, berdiri pada tahun 1912 Holcim telah menjadi perusahaan global yang tersebar di 5 benua dan lebih dari 70 negara. PT Holcim Indonesia adalah perusahaan semen terbesar ketiga di Indonesia dengan 4 pabrik berkapasitas total 14,8 juta ton per tahun dan 30 fasilitas ready-mix. Dengan mengakuisisi Holcim, Semen Indonesia optimistis dapat memperluas jaringan di pasar dalam negeri, melakukan diversifikasi jenis produk, serta meningkatkan efisiensi biaya distribusi dan bahan baku. Total kapasitas PT Semen Indonesia menjadi 53 juta ton semen.

Rinciannya adalah PT Semen Indonesia: 38,2 juta ton dan Holcim: 14,8 juta ton. Angka tersebut dapat semakin membuat Indonesia swasembada semen dan dapat menaikan ekspor. Holcim Indonesia juga memiliki teknologi bahan bakar dari limbah yang dapat disinergikan secara luas di seluruh fasilitas Semen Indonesia Group. Di samping itu, industri semen di Indonesia juga masih memiliki tingkat pertumbuhan yang menjanjikan, didukung program investasi pemerintah dan swasta seperti Program Satu Juta Rumah, infrastruktur, dan berbagai proyek properti.

Pemerintah bukannya tanpa perlawanan, Taiheiyo Cement (Jepang), Heidelberg Cement (Jerman), dan Hongshi Cement (China) sebenarnya juga ikut bersaing mendapatkan saham mayoritas semen Holcim, bahkan perusahaan asal China ini memberikan penawaran lebih tinggi dari semen Indonesia. Namun berkat kepercayaan investor asing kepada pemerintah akhirnya Holcim lebih percaya menjual mayoritas sahamnya ke pemerintah Indonesia. Tentu hal tersebut tidak instan terjadi. Para investor telah menilai secara subjektif kinerja bagus yang diperlihatkan pemerintahsaat ini yang membuat perekonomian Indonesia maju sangat pesat sehingga para investor sangat percaya kepada pemerintah.

Fokus pemerintah pada pembangunan infrastruktur menyebabkan kebutuhan semen di Indonesia meningkat. Melihat peluang itu, Pemerintah melalui PT Semen Indonesia tentu tak tinggal diam, agar semakin menguasai pasar dalam negeri sekitar 70 juta ton, akuisisi PT Holcim dianggap sangat tepat. Selain untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri, nantinya PT Semen Indonesia akan melakukan ekspor dan menguasai beberapa negara di asia tenggara sehingga semakin meningkatkan pendapatan negara.

Manfaat lain dari akuisisi tersebut adalah PT Semen Indonesia akan semakin kuat di bidang rantai suplai, produksi, serta pemasaran di Indonesi dan Asia Tenggara sehingga dapat dengan mudah menguasai pasar Asia Tenggara bahkan hingga ke level Asia. Peluang untuk diversifikasi ke hilir juga semakin kuat dengan pengembangan bisnis beton ready-mix.

Keberhasilan pemerintahan dalam merebut perusahaan semen asing semakin menegaskan bahwa ia benar benar bekerja untuk rakyat dan benar benar memikirkan kemajuan bangsa ini. Secara perlahan melalui strategi politiknya, pemerintah saat ini mulai merebut kembali kekayaan bangsa Indonesia yang dikuasai asing, diantaranya yang sudah berhasil direbut bangsa Indonesia adalah PT Freeport Indonesia, Blok Mahakam, dan yang terakhir PT Holcim Indonesia, serta masih banyak lagi program kerja pemerintah yang secara langsung dapat dirasakan seluruh bangsa Indonesia.

Indonesia sangat membutuhkan pemimpin yang benar benar bekerja untuk bangsa dan benar benar memikirkan kemana arah bangsa Indonesia ini agar semakin maju. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita harus menghargai capaian kinerja pemerintah melihat cemerlangnya prestasi yang sudah dicapai bukan malah menghujatnya dengan mengatakan ia adalah antek asing. (Penulis adalah Pengamat ekonomi dan politik)*


Sekilas Info

Guru Bukan Kuli Ngajar

Oleh : Dr. Budi Ilham Maliki, S.Pd., MM Entah kenapa, guru sebagai pendidik sudah lupa …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *