Selepas Subuh, Rumah Masriya “Sujud” Diterpa Angin

Rumah milik Masriya, Warga Kampung Gunung Kepuh, RT 07/RW 02, Desa Winong, Kecamatan Mancak ambruk disapu hujan deras yang disertai angin kencang pada Rabu (29/11/2017). Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa nahas itu, namun kini Masriya beserta empat orang anggota keluarganya terpaksa mengungsi di rumah saudaranya.

Masriya mengatakan, peristiwa itu terjadi pada Rabu (29/11) lalu sekitar pukul 04.30 pagi. Saat itu dirinya sedang berada di masjid yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Sedangkan di rumahnya itu ada istrinya dan juga tiga orang buah hatinya serta satu orang keponakannya. “Waktu itu hujan lebat memang, saya lagi di masjid habis shalat subuh,” ujarnya kepada Kabar Banten di lokasi, Kamis (30/11/2017).

Kemudian, ujar dia, setelah selesai shalat subuh dirinya pun pulang hendak masuk ke dalam rumah. Namun naas baginya, dirinya sudah tak menemukan rumahnya dalam kondisi utuh. Sebab rumah mungilnya itu ditemukan sudah ambruk. Melihat kondisi itu, dirinya pun langsung panic. Sebab ia sadar, jika di dalam rumah itu ada anggota keluarganya. “Pas saya pulang itu rumah sudah sujud (ambruk). Saya nangis dan minta tolong, mana disini waktu itu mati lampu. Saya takut keluarga saya kenapa napa,” katanya.

Peristiwa itu sontak membuat warga sekitar terpanggil. Mereka pun langsung berbondong-bondong membantu mengeluarkan anggota keluarganya yang masih tertimbun reruntuhan. Bahkan dua orang buah hatinya sempat tertimpa potongan kayu pada bagian pingganya. “Kakak saya yang nemuin anak saya. Dia luka dipinggangnya karena ketimpa balok,” ucapnya.

Dirinya mengaku bersyukur sebab anggota keluarganya masih terselamatkan. Walau pun rumahnya hancur, namun menurut dia yang terpenting keluarga. Namun, karena rumahnya itu kini telah hancur, dirinya beserta anggota keluarganya terpaksa harus mengungsi di rumah saudaranya yang tidak jauh dari lokasi kejadian. “Tinggal di rumah kakaknya istri dulu. Habis mau gimana lagi,” katanya.

Masriya yang hanya bekerja sebagai buruh harian lepas mengaku bingung dengan kondisinya saat ini. Penghasilannya yang thanya Rp. 30.000 perhari atau bahkan tak menentu itu tentu saja tidak cukup jika harus membangun kembali rumahnya tersebut. “Saya buruh harian lepas, kuli apa saja, angkut kelapa, kadang juga nganggur. Anak-anak sekolah satu orang SD, dan dua orang MTS,” tuturnya.

Ia menuturkan, di rumah kakaknya itu mereka harus sempit-sempitan. Sebab rumah sang kakak pun kondisinya tidak begitu besar. Oleh karena itu, bagaimana pun caranya ia harus bisa membangun kembali rumahnya tersebut. “Harus punya rumah lagi. Kalau warga suka bilang nanti lah kalau libur kita bangun, tapi apa yang mau dibangun orang matrialnya juga enggak ada,” katanya.

Menanggapi hal itu, Camat Mancak Marfudin mengaku jika dirinya sudah sempat melihat kondisi warganya tersebut. Dirinya pun akan mengupayakan bantuan melalui dinas sosial. “Sudah saya lihat yang di Winong itu. Kalau bantuan lagi diupayakan,” ujarnya. Saat disinggung terkait rumah korban yang telah masuk data rutilahu, Marfudin mengatakan, untuk mendapatkan program rutilahu, tanah tempat berdirinya rumah itu harus milik sendiri. Sedangkan Masriya, tanahnya bukan milik sendiri. “Itu mah numpah di tanah orang. Kemungkinan kalau dia mempunyai tanah bisa dimasukan,” katanya. (Dindin Hasanudin)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here