Selamatkan Warga dari Rentenir, Pemkot Serang Didorong Dirikan BPRS

SERANG, (KB).- Pemerintah Kota (Pemkot) Serang didorong mendirikan Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS), untuk menyelamatkan masyarakat dari jeratan rentenir. Selain memperluas akses permodalan di tengah masyarakat, keberadaan BPRS juga dinilai penting dalam meningkatkan perekonomian daerah.

Hal itu dikatakan anggota Komisi II DPRD Kota Serang, Rizky Kurniawan, Kamis (28/11/2019), ketika dimintai tanggapan tentang banyaknya warga kota yang terjerat rentenir akibat sulitnya akses permodalan.

Dana yang diserahkan kepada BPRS, kata dia, bisa dikelola untuk terfokus menyejahterakan masyarakat dengan cakupan wilayah yang terjangkau. Permodalan untuk pelaku usaha kecil, kata Rizky, sebenarnya tidak hanya diberikan oleh pemerintah pusat melalui program KUR saja. Akan tetapi, pemerintah daerah juga bisa memberikan akses permodalan kepada UMKM.

“Pemkot bisa menyediakan anggaran khusus bagi pelaku UMKM. Nah, dana permodalan UMKM itu bisa dipercayakan kepada BPRS sebagai perusahaan daerah melalui berbagai program bagi usaha mikro,” kata Rizky.

Lebih lanjut, dia mengatakan, program kredit usaha mikro pada akhirnya dapat membantu meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Melalui kredit bunga rendah dan proses yang lebih mudah, usaha para pedagang pasar akan berkembang.

Dia mencontohkan eksistensi rentenir di pasar-pasar tradisional. Kondisi itu, menurut dia, tidak lepas dari paradigma yang berkembang di kalangan para pedagang bahwa proses pengajuan pinjaman di bank yang rumit.

Ajukan KUR

Sementara itu, Dinas Perdagangan, Industri dan Koperasi (Disperdaginkop) dan UKM Kota Serang menyarankan pelaku UMKM untuk mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) kepada pihak perbankan. Hal itu untuk menghindari peminjaman modal usaha ke rentenir.

Kepala Disperdaginkop dan UKM Kota Serang Yoyo Wicahyono mengatakan, jika pelaku UMKM ingin menekuni usahanya, seharusnya melaporkan ke kelurahan supaya bisa dibuatkan Izin Usaha Menengah Kecil (IUMK) oleh kelurahan. Jika berupa kelompok, maka ketua kelompoknya lapor ke Disperdaginkop supaya bisa mendapatkan pendampingan.

“Jadi nanti IUMK, Nomor Induk Berusahanya (NIB) nya kita dampingi sampai dia mempunyai persyaratan lengkap, setelah persyaratan lengkap mak memenuhi persyaratan untuk mendapatkan KUR,” ucap Yoyo saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (28/11/2019).

Ia mengatakan, kelemahan dari pelaku UMKM yaitu dalam pembukuan usaha yang digelutinya. Sehingga, pihak bank tidak bisa melakukan penilaian usaha yang digelutinya. Padahal, dengan pinjaman modal usaha melalui KUR, bunga yang diberikan tidak terlalu besar.

“Harusnya kan dicatat setiap harinya, untuk beli bahan, keuntungan penjualannya dan sebagainya. Sehingga pihak bank bisa menilai omzet dan asetnya,” tuturnya.

Ia menuturkan, solusi untuk mengajukan pinjaman modal melalui bank, LPDB atau koperasi simpan pinjam. Sebab, saat ini Disperdaginkop tidak bisa lagi memberikan bantuan modal berupa uang kepada pelaku usaha. Pihaknya hanya bisa melakukan pembinaan dan pendampingan.

“Kalau ke KUR itu bunganya 7 persen per tahun di bawah bunga komersil, kalau LPDB lebih rendah lagi hanya 5 persen tapi harus ada pendampingan dan sudah tercatat usaha minimal 2 tahun,” katanya.

Untuk solusi jangka pendek, pembentukan koperasi simpan pinjam tidak akan menyelesaikan persoalan. Akan lebih baik jika pelaku usaha ikut pada koperasi yang sudah ada. Hal itu karena, pembentukan koperasi memerlukan waktu dan penilaian cukup lama hingga mendapatkan bantuan permodalan.

“Tapi bukan Kosipa yang suka keliling tiap hari, Kosipa itu nama saja, sebenarnya itu bukan koperasi,” ujarnya.

Saat ini, ujar dia, pelaku UMKM di Kota Serang tercatat sebanyak 11.000. Sedangkan Disperdaginkop hanya mampu melakukan pembinaan terhadap 120 pelaku UMKM dalam satu tahun. Hal itu karena keterbatasan anggaran.

“Kita kan harus punya unggulan, jadi pertama yang kita bina itu kemasan, merek dagang supaya resmi dan nanti dibantu promosi untuk pemasarannya,” ujarnya. (Masykur/SJ)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here