Selama Masa Lebaran 2018, Penarikan Uang Tunai Capai Rp 1,944 Triliun

Kepala Kantor Perwakilan BI Banten, Rahmat Hernowo (kedua dari kanan) foto bersama Sekretaris Perusahaan PT Fajar Pikiran Rakyat, Rahmat Jamaludin, dan Pemimpin Redaksi Kabar Banten, Maksuni Husen, saat berkunjung ke Kantor Redaksi Kabar Banten, Senin (25/6/2018).*

SERANG, (KB).- Penarikan uang tunai sebelum dana masa Lebaran Idulfitri 1439 Hijriah mencapai Rp 1,944 triliun. Jumlah penarikan tersebut melebihi penyediaan dari Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Banten, yakni senilai Rp 1,8 triliun.

”Kami menyediakan uang penarikan tunai Rp 1,8 triliun, karena permintaan dari bank Rp 1,544 triliun. Tapi, ternyata, justru melebihi yang kami perkirakan,” kata Kepala Kantor Perwakilan BI Banten, Rahmat Hernowo saat berkunjung ke Kantor Redaksi Kabar Banten, Senin (25/6/2018).

Ia mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan penarikan tunai, pihaknya meminta drop dari BI Jakarta. “Alhamudillah, bisa terpenuhi,” ujarnya. Ia menuturkan, pada sepekan sejak lebaran ini, uang yang balik ke kas bank di Banten baru mencapai Rp 471 miliar.

Ia menuturkan, pada tahun politik, seperti Pilkada 2018 dan Pemilu 2019, ekonomi di Banten mengalami pertumbuhan yang positif. “Kami memperkirakan tahun 2018 bisa tumbuh sekitar 5,6 sampai dengan 6,0 persen. Kemungkinan besar akan tumbuh di angka itu. Tingkat pertumbuhan di atas nasional,” ucapnya.

Ia mengatakan, pihaknya terus berupaya menjaga tren pertumbuhan secara positif dan mencegah terjadinya kesenjangan. “Makanya, kami bersilaturahim dengan media massa, salah satunya menyerap informasi pandangan media massa mengenai kondisi ekonomi,” tuturnya.

Mengenai nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang menembus angka Rp 14.000, dia meminta masyarakat untuk tidak panik. Menurut dia, BI telah melakukan upaya berupa menaikkan suku bunga sebanyak 2 kali. Ia menuturkan, upaya tersebut dilakukan dalam rangka memperkuat stabilitas khususnya stabilitas nilai tukar terhadap perkiraan kenaikan suku bunga AS yang lebih tinggi dan meningkatnya risiko di pasar keuangan global.

Bank Indonesia meyakini kondisi ekonomi Indonesia secara keseluruhan cukup baik dan kuat. “Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar, juga dialami secara global. Bahkan, Argentina, Turki dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Artinya, kondisi ini juga akibat kondisi keuangan secara global,” katanya.

Ia mengatakan, kenaikan suku bunga tersebut merupakan bagian dari langkah kebijakan jangka pendek Bank Indonesia yang memprioritaskan kebijakan moneter pada stabilitas khususnya untuk nilai tukar rupiah. Ia menuturkan, hal lain yang akan dilakukan BI, yakni berupa kebijakan mix macro prudential.

“Supaya ekonomi tidak lesu, maka dibuat kebijakan macro prudential loan to valeu (LTV). Kami juga ingin bedakan LTV dengan berbasis lokasi. Sekarang kan basis masih nasional. Ke depan berbasis lokasi. Artinya, kondisi di Serang, Cilegon dengan Jakarta dan lain akan berbeda,” ujarnya. (MH)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here