Selama 2017, Difteri Renggut 11 Nyawa

SERANG, (KB).- Sebanyak 11 orang di Provinsi Banten meninggal dunia akibat penyakit difteri sepanjang 2017. Puncaknya wabah difteri meluas di penghujung tahun 2017 dengan temuan mencapai 205 kasus. Kepala Seksi Surveilans Imunisasi dan Krisis Kesehatan pada Dinkes Provinsi Banten Rostina mengungkapkan, berdasarkan data hingga 30 Desember 2017, kasus difteri terus mengalami peningkatan.

“Totalnya sudah mencapai 205 kasus dan 11 orang meninggal. Jumlahnya terus bertambah,” kata Rostina, kepada wartawanm Senin (1/1/2018). Rinciannya, Kabupaten Tangerang 70 kasus (5 meninggal), Kota Tangerang Selatan 35 kasus, Kota Tangerang 28 kasus, Kabupaten Serang 29 kasus (3 meninggal), Kota Serang 17 kasus dengan (1 meninggal), Kabupaten Pandeglang 17 kasus (1 meninggal), Kabupaten Lebak 6 kasus (1 meninggal), dan terakhir Kota Cilegon 3 kasus.

Sementara, hingga akhir tahun 2017 jangkauan imunisasi melalui program Outbreak Response Immunization (ORI) di Kabupaten Tangerang yaitu sudah mencapai 728.301 atau 61,09 persen dari 1.192.124 sasaran. Kabupaten Serang 275.320 atau 52,32 persen dari 526.270 sasaran, Kota Tangerang dari 618.509 sasaran sebanyak 311.161 atau 50,03 persen sudah imunisasi.

Selanjutnya, Kota Serang cakupan imunisasi mencapai 103.820 orang atau 43.53 persen dari 236.491 sasaran, dan Kota Tangerang Selatan dari 478.594 sasaran, 42,74 pesen sudah dilakukan imunisasi atau 204.530 orang.  “Per hari ini (kemarin) data terbaru yang masuk baru dari Kota Tangerang. Sekitar 53 persen penjangkauannya,” ujarnya. Pihaknya akan terus melakukan ORI hingga akhir Februari 2018 sehingga penjangkauan tahap pertama dapat mencapai 90 persen.

Kepala Dinkes Provinsi Banten Sigit Wardojo mengatakan, pihaknya akan lebih banyak melakukan penyelidikan epidemologi untuk mendapatkan gambaran terhadap masalah kesehatan atau penyakit secara lebih menyeluruh. “Artinya data yang masuk kita curigai dan kita langsung lihat di tempat. Upaya berikutnya kita perbanyak melakukan penyelidikan epidemologu, jadi begitu kita lihat langsung kita bawa ke rumah sakit,” kata Sigit.

Dijelaskan Sigit, bagi keluarga yang mengalami kontak dengan pasien difteri, pihaknya juga sudah melakukan langkah preventif dengan memberikan antibiotik selama 7-10 hari. “Untuk lingkungan sekitarnya kita lakukan ORI. Untuk penderitanya kita masukan ke ruang isolasi dan lakukan pengobatan sesuai standar dengan memberikan serum anti difteri dan antibiotik,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, kasus difteri pernah terjadi sekitar tahun 1980. Namun, pada 1990-2000 difteri sudah tidak ditemukan lagi. Ketika itu pemerintah pusat saat itu cukup berhasil melakukan imunisasi.
“Tapi pasca reformasi difteri kembali ditemukan. Mungkin karena dianggap merdeka, jadi sesuka-sukanya orang tua yang anti vaksin, sehingga sudah jarang orang tua yang imunisasi anaknya,” ujarnya. (RI)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here