Selama 2 Bulan, 11 Wilayah di Provinsi Banten Akan Alami Hari tanpa Hujan

SERANG, (KB).- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sedikitnya sebelas wilayah di Provinsi Banten akan mengalami hari tanpa hujan pada musim kemarau yang akan berakhir pada Oktober mendatang. Sebelas wilayah tersebut, tersebar dominan di Kabupaten Serang dan Kabupaten Pandeglang.

Kepala Balai Besar MKG Wilayah II Tangerang Selatan (Tangsel) Hendro Nugroho mengatakan, kondisi tersebut perlu ada antisipasi dan kesiapan berbagai pihak dalam menangani persoalan kekeringan.

“Pertengahan Oktober nanti, kami prediksi akan turun hujan. Namun, ada sebelas wilayah di Banten yang akan mengalami 60 hari tanpa hujan. Ini perlu kami antisipasi, baik untuk pertanian, kemudian kebutuhan air bersih, dan sebagainya,” katanya saat membuka kegiatan Sekolah Lapangan Iklim (SLI) BMKG di salah satu hotel Kota Serang, Rabu hingga Kamis (7-8/8/2019).

Ia menuturkan, Banten dilanda kemarau sejak Mei 2019. Puncak musim kemarau diperkirakan mulai Agustus hingga pertengahan Oktober nanti. Pada 2019 ini, ujar dia, kemarau lebih panjang dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, tidak separah 2015 lalu.

Ia menjelaskan, kegiatan SLI sebagai salah satu upaya mendukung ketahanan pangan di wilayah Banten. Dengan kegiatan tersebut, masyarakat diberi pemahaman membaca iklim, khususnya petani, agar dapat mendukung ketahanan pertanian nasional, meski pada masa kemarau.

“Apalagi saat ini kami memasuki musim kemarau. Jadi, informasi ini sangat penting bagi masyarakat, terutama petani. Kapan waktu menanam yang baik, kemudian kapan waktunya pemilihan bibit yang tepat. Jadi, mereka tahu informasi lebih awal tentang cuaca, sehingga gagal panen itu dapat dihindari,” ucapnya.

Ia menjelaskan, iklim memiliki peran yang sangat penting dalam proses budidaya pertanian. Sebab, iklim dapat memengaruhi produktivitas pertanian, sehingga pemahaman informasi dan prakiraan cuaca atau iklim bagi para penyuluh pertanian serta petani sangat diperlukan. “Tujuan ini pun, agar mereka dapat mengaplikasikan secara langsung di lapangan,” tuturnya.

Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten Agus M Tauchid mengatakan, kegiatan tersebut, sangat tepat dengan kondisi yang ada saat ini. Karena, dampak fenomena iklim sangat berpengaruh terhadap pertanian di wilayahnya. Petugas penyuluh lapangan (PPL) perlu tahu dan memahami dalam pembacaan suatu iklim yang ada di daerah.

“Ujungnya adalah proses mitigasi. Jadi, bagaimana proses perencanaan, agar musibah seperti kekeringan ini bisa kami tekan. Dengan kegiatan ini kan kami bisa membaca perubahan iklim dan pertanda fenomena alam. Jadi, petugas kami bisa menyampaikan kepada masyarakat dan petani,” katanya.

Diharapkan ketika musim-musim yang akan datang para petani bisa mengantisipasi dengan langkah-langkah yang telah diberikan oleh PPL. “Kemudian, tentu saja kerugian ini bisa dihindari, contohnya ketika musim hujan atau kemarau datang, apa saja yang harus dilakukan oleh mereka, seperti percepatan tanam, ketika kemarau akan datang,” ucapnya. (Rizki Putri/RI)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here