Selalu Muncul Saat Kemarau, DLH Kabupaten Serang Waspadai Pencemaran di Cidurian

SERANG, (KB).- Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Serang masih terus mewaspadai kemungkinan munculnya pencemaran limbah industri di aliran Sungai Cidurian. Hal tersebut dikarenakan limbah tersebut, merupakan masalah klasik tahunan yang selalu muncul saat musim kemarau.

Kepala Bidang Pengendalian Dampak Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Serang Suherlan mengatakan, keberadaan limbah di Cidurian tersebut, merupakan salah satu pekerjaan rumah (PR) DLH. Bagaimana caranya, agar DLH bisa mengantisipasi dan mencari solusi ketika musim kemarau tiba.

“Ini persoalan klasik tahunan yang selalu muncul pas kemarau,” katanya kepada Kabar Banten, Jumat (5/4/2019).

Salah satu upaya untuk mengantisipasi munculnya kembali limbah tersebut, yakni dengan adanya surat edaran yang diturunkan dari peraturan bupati (Perbup). Di mana surat itu menjelaskan tentang kondisi beban pencemaran pada saat kemarau.

Perusahaan yang memanfaatkan aliran sungai di sekitarnya, seperti Cidurian dilarang membuang limbah cair, meski setelah melalui proes pengelolahan ke badan sungai.

“Itu salah satu langkah pemda yang sudah dilakukan. Jadi, ditampung dan disedot, dibuang ke penampungan yang sudah ditentukan oleh perusahaan,” ujarnya.

Jika kemudian perusahaan tetap membandel dan membuang limbah cair itu ke aliran sungai, maka akan ada sanksi yang diberikan. Sanksi itu mulai dari teguran pertama sampai ketiga hingga sanksi administrasi.

“Terakhir sanksi paksaan kepada perusahaan agar patuh,” ucapnya.

Ia menuturkan, jika musim hujan, perusahaaan diperbolehkan untuk membuang limbah yang sudah diolah ke sungai.

“Kalau hujan boleh, kalau debit nol dari Pamarayan tidak ada kirimannya. Kalau Cidurian suka enggak ada aliran juga. Nol itu pas kemarau, kalau hujan ada tambahan. Karena, air dipakai untuk sawah, mendahulukan kepentingan masyarakat,” tuturnya.

Ia mengatakan, sebelumnya sempat ada tiga perusahaan yang dilaporkan ke kementerian. Ketiga perusahaan tersebut, tetap berada dalam pantauan DLH. Tujuannya, untuk mengetahui sudah sejauh mana perusahaan tersebut menindaklanjuti hasil temuan dan sanksinya.

“Ada yang sudah ambil langkah perbaikan, tapi memang kalau untuk menolkan kayanya susah. Karena, hasil buangan itu pasti ada saja,” katanya.

Ia dilema ketika masuk musim kemarau. Sebab, saat kemarau terjadi kekeringan dan akhirnya timbul pencemaran. Karena, perusahaan A membuang limbah dan perusahaan B membuang juga hingga akhirnya limbah tersebut mencemari sungai.

“Makanya, kami buat imbauan, agar dalam satu musim tertentu perusahaan itu dilarang membuang limbah ke sungai walau sudah diolah,” ujarnya. (DN)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here