Sekolah Diminta Tanamkan Empati

SERANG, (KB).- Pihak sekolah sebagai lembaga pendidikan diminta untuk dapat menanamkan jiwa empati kepada siswa di Indonesia. Hal itu diperlukan untuk menghindari terjadinya perundungan atau bullying yang sering terjadi di kalangan pelajar. Terlebih belum lama ini terjadi kasus perundungan siswi SMP yang terjadi di Pontianak.

Pengamat Pendidikan yang juga Rektor Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Sholeh Hidayat mengatakan, terjadinya perundungan karena kurang pendidikan agama dan rasa empati antarsesama. Oleh karena itu, di kalangan remaja harus ada penguatan pendidikan agama di sekolah.

“Sekolah harus menanamkan rasa kepedulian dan empati kepada siswa. Selain itu juga sekolah harus menanamkan pendidikan karakter. Terjadinya perundungan tersebut hilangnya rasa empati, sekolah bisa menanamkan itu (empati) pada aktivitas atau setiap pembelajaran di kelas,” kata Sholeh saat dihubungi Kabar Banten.

Ia menjelaskan, dengan kemajuan teknologi informasi sekarang yang semakin berkembang, generasi milenial harus bisa mengendalikan diri dan memanfatkan teknologi informasi sesuai kebutuhan. Selain itu, peran orangtua harus bisa mengontrol anak-anaknya dalam menggunakan media sosial.

“Literasi digital di kalangan siswa dan sekolah perlu ditingkatkan, serta peran orangtua. Dengan kejadian perundungan tersebut sangat memprihatinkan, hilangnya nilai-nilai kemanusiaan dan rasa empati kepada sesama,” ujarnya.

Ia mengatakan, pendidikan agama termasuk pendidikan karakter di lingkungan keluarga dan sekolah harus berjalan efektif. Serta didukung oleh masyarakat dan sama-sama harus membentengi bahkan melawan terhadap perbuatan yang membahayakan keselamatan fisik dan psikologis anak.

“Pendidikan karakter lebih diintensifkan dan komunikasi orangtua dengan sekolah lebih dioptimalkan peranannya,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan Keluarga Berencana (DP3AKKB) Banten Siti Ma’ani Nina mengatakan, perbuatan perundungan anak yang terjadi belakangan ini tidak bisa dibenarkan oleh alasan apapun. Perundungan bukanlah kenakalan biasa di kalangan anak-anak.

Terjadinya perundungan tersebut dilatarbelakangi oleh gagalnya pengasuhan, maka baik anak maupun orangtua perlu mengikuti konseling. “Perilaku tersebut dapat menjadi suatu kebiasaan dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan sosial. Peran orangtua harus mengawasi dan mengontrol aktivitas anak,” katanya.

Ia mengatakan, untuk mencegah terjadinya perundungan tersebut, perlu dilakukan dengan menanamkan pendidikan karakter. Serta menciptakan sekolah ramah anak, dan dilakukannya sosialisasi anti perundungan. “Dengan sosialisasi tersebut muncul kesadaran pada anak-anak untuk bersikap ramah dan saling mendukung satu dengan yang lainnya,” ujarnya. (DE/YA)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here