Sekolah Dasar Dilarang Tes Calistung, Disdikbud Siap Terima Aduan

SERANG, (KB).- Sekolah Dasar (SD) tidak boleh menggunakan tes baca, tulis dan hitung (calistung) pada penerimaaan murid baru tahun ajaran 2019-2020.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang SD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Serang Aber mengatakan, untuk penerimaan murid baru tingkat sekolah dasar tidak boleh melakukan tes calistung sebagai standar penerimaan.

“Mohon diinfokan kepada saya jika ada sekolah yang melakukan tes calistung pada penerimaan murid baru. Sampai sekarang saya belum terima petunjuk teknis (juknis), yang mengharuskan ada tes untuk SD,” kata Aber saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (11/3/2019).

Ia mengatakan, kalau ada murid yang tidak PAUD atau TK, tentu akan kesulitan untuk masuk ke SD karena tidak diajarkan membaca, menulis dan berhitung. Berbeda dengan murid yang masuk ke PAUD atau TK, selain bermain mereka juga diajarkan mengenal huruf dan angka.

“Untuk calon siswa yang berasal dari PAUD mungkin saja bisa. Jadi SD yang akan menerima calon murid tidak boleh melakukan tes calistung. Sesuai dengan peraturannya yakni, peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) tentang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Proses penerimaan murid SD tersebut juga dilihat dari umur. Umur bagi calon murid SD berusia 7 tahun paling rendah 6 tahun pada tanggal 1 Juli pada tahun berjalan,” katanya.

Sementara itu, Guru SDN Bhayangkari Iman mengatakan, pihaknya tidak melakukan tes pada saat penerimaan murid baru. Tetapi ada persyaratan yang harus dipenuhi saat penerimaan siswa baru tersebut, yakni fotokopi akta kelahiran, kartu keluarga dan sertifikat dari TK.

“Kami tidak melakukan tes calistung, karena kelas satu tersebut kemampuan dan pengetahuannya masih dalam ruang lingkup bermain. Sekarang di TK sistem pembelajaranya sudah lebih maju, mereka juga mengajarkan mengenalkan huruf, angka dan menulis,” ucapnya.

Ia mengatakan, di SDN Bhayangkari pada saat kelas 3 mereka diajarkan tentang kemampuan dasar khusus pada kelas 1, 2, dan 3. “Pada kemampuan dasar khusus tersebut, murid mampu atau tidak menerima pembelajaran seperti menulis angka dan baca,” tuturnya.

Ia mengatakan, jika ada guru yang mengeluh tentang murid yang tidak bisa membaca, berhitung dan menulis, harus ditanyakan tugasnya mengajarkan muridnya.

“Kembalikan lagi bahwa tugas guru ya untuk mengajari muridnya, membaca, menulis dan berhitung. Kalau guru bisa menyampaikan hal tersebut tentu bisa mengarahkan muridnya untuk bisa calistung,” katanya. (DE/YA)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here