Selasa, 20 Februari 2018

Sekeluarga Tinggal di Bangunan Nyaris Ambruk

Satu keluarga yakni Rian bersama istri dan empat anaknya, di Kampung Pabuaran Tegal, RT/RW 011/003, Desa Binong, Kecamatan Pamarayan, Rian (42), harus rela tinggal di bangunan rumah yang nyaris ambruk. Sejak diterpa bencana puting beliung, Sabtu (21/10/2017), sampai saat ini masih belum mampu memperbaiki kondisi rumahnya karena keterbatasan ekonomi.

Rumah yang terbuat dari bilik dan beratapkan genteng tersebut, menjadi salah satu korban angin puting beliung yang sempat mengamuk dan menghantam ratusan rumah beberapa waktu lalu. Kini, kondisi rumahnya tersebut sudah miring ke kiri dan harus ditopang menggunakan bambu. Pada Sabtu (21/10) lalu, bencana angin puting beliung sempat menghantam kecamatan yaitu Kecamatan Bandung, Pamarayan dan juga Cikeusal.

Ratusan rumah pun menjadi korban bencana tersebut. Bukan hanya rumah, angin kencang yang melanda tersebut juga merobohkan beberapa pohon dan juga mengganggu aliran listrik. Rian mengatakan, rumahnya yang masuk kategori tidak layak huni tersebut pada 2 tahun belakangan sudah pernah didata oleh pihak Pemerintah Desa Binong. Namun hingga rumahnya itu terkena puting beliung, belum juga ada realisasinya. “Udah di data mah, tapi belum ada,” ujarnya kepada Kabar Banten, Ahad (12/11/2017).

Ia mengatakan, karena kondisinya yang memang terbuat dari bilik, maka saat terjadi bencana angin puting beliung beberapa minggu lalu, rumah mungilnya itu turut tersapu. Sebab, tiang penyangga rumahnya yang terbuat dari bambu tidak mampu menahan goncangan angin tersebut. “Tidak kuat nahan beban, jadi penyangganya roboh. Kalau roboh mah belum, yang kena itu bagian belakang dan samping atap gentengnya ancur karena reng bambunya enggak kuat,” katanya.

Beruntung pada saat kejadian, dirinya dan juga keluarganya tidak ada yang menjadi korban. Meski demikian, ia harus rela membiarkan rumah satu-satunya itu menjadi korban. Akibat bencana tersebut, saat ini jika hujan terjadi, keluarganya harus mengungsi di rumah saudaranya. “Kalau hujan dan angin gede, saya ngungsi ke rumah saudara. Di rumah bocor soalnya terus takut ambruk juga,” tuturnya.

Selama ini, dirinya tinggal bersama istrinya Sarni dan juga anak-anaknya yakni Risti, Alpiandi, Agus Choirul dan menantunya Iwan. Penghasilan dari pekerjaannya pun, bisa dibilang masih serba kekurangan. Sehingga, dirinya merasa tidak mampu jika harus memperbaiki rumahnya tersebut. “Kalau saya kerja bantu-bantu saja,” ucapnya.
Oleh karena itu, dirinya sangat berharap adanya bantuan dari pemerintah untuk memperbaiki rumahnya tersebut. Sejauh ini, berdasarkan keterangannya, rumahnya tersebut belum masuk data korban terdampak bencana tersebut. (Dindin Hasanudin)***


Sekilas Info

Honorarium Kegiatan & SPPD Dipangkas

SERANG, (KB).-¬†Bupati Serang, Ratu Tatu Chasanah mengeluarkan surat edaran (SE) efisiensi anggaran 2018. Untuk itu, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *