Sebaiknya Memahami Taqdir

Oleh : Nasuha Abu Bakar, MA

Sahabat sahabat sejatiku, hati saya kangen sekali ingin menyapa sahabat sahabat sejatiku melalui goresan WA ini. Mungkin goresan WA ini tidak se menarik tulisan tulisan guru guru dan para kiyai yang bagaikan samudra keluasan ilmu dan wawasnnya. Goresan WA saya ini hanya sekedar hasil bincang bincang dengan guru dzikiran, yasinan dan tahlilan saya setiap malam jum’at kliwonan, yaitu pak ustadz Dzul Birri.

Ketika saya sowan dan bersilaturahim selepas acara pengajian, beliau langsung bercerita tentang pentingnya mempelajari, mendalami serta memahami kandungan tentang rukun iman.

Kami bertujuh, saya, kang Saman, kang Pardho, kang Subrata, kang Kusum, kang Marhawi dan kang Cecep dibuat terbengong bengong dan terpana. Pak ustadz Dzul Birri begitu bersemangat sekali mengupas masalah kelemahan manusia dalam memahami tentang “Taqdir Allah”.

Mula mulanya diawali oleh pertanyaan kang Cecep yang mengeluhkan putranya tidak lolos test masuk perguruan tinggi. Sedangkan kang Marhawi merasa sedih dan galau, lantaran isteri tercintanya melahirkan buah hatinya lagi lagi perempuan, padahal ini adalah anaknya yang kelima. Lima limanya perempuan. Padahal di hati kecil kang Marhawi ingin sekali anak yang kelima ini laki laki juga. Batin kang Marhawi kurang bahagia.

Berbeda dengan kang Kusum, di desanya jagoan yang diusung untuk maju dalam pemilihan kepala desa gagal kurang mendapatkan dukungan. Padahal menurut penuturan kang Kusum konon katanya banyak simpatisan calon jagoannya. Akan tetapi di hari H nya, entah apa penyebabnya, suaranya jauh sekali berbeda dengan cerita cerita sebelumnya.

Padahal kang Kusum sudah menjadi kandidat kuat untuk menduduki jabatan Kepala Dusun. Sementara yang namanya kopi,rokok, dan menjenguk orang sakit, mengantar berobat ke rumah sakit, menghadiri hajatan khitanan, pernikahan, telah banyak dilakukan oleh jagiannya kang Kusum

“Nah akang akang sekalian, mengapa suatu ketika baginda nabi saat sedang duduk asyik bersama sahabat sahabat beliau,tiba tiba dikunjungi oleh malaikat Jibril yang bertanya tentang “Iman, Islam dan Ihsan”. Bayangkan saja, setingkat sahabat nabi masih juga disuguhi pengajaran tentang “Iman, Islam dan Ihsan”. Seandainya saja itu dipandang tidak penting, mungkin Allah subhaanahu wata’alaa tidak akan repot repot mengutus utusan Nya (malaikat Jibril) kepada kekasihNya (baginda nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallama).

Disinilah kita diajarkan melalui kisah dialog malaikat Jibril dengan nabi tercinta untuk memahami akan hakikat kemauan Allah. Besar hilmah dan rahasianya buat putra kang Cecep yang tidak lolos masuk perguruan tinggi pilihannya di Bandung. Sekarang kang Cecep bisa merasakan hikmah dan rahasia di balik kegagalan ada keuntungan yang tidak terbaca sebelumnya. Anak kang Cecep bisa bantu bantu ibunya pada saat kang Cecep sedang banyak orderan jahitan seragam sekolah, dan seragam kantoran. Bahkan bisa bantu bantu ayahnya. Coba seandainya lulus kuliah di Bandung, orderan belum tentu dapat dibantu sama anak kang Cecep.

“Kang Marhawi juga awalnya sering curhat dan mengadu kepada saya, berulang ulang isterinya mengandung dan melahirkan, semuanya perempuan. Sampai yang kelima masih juga perempuan. Allah sedang memberi ni’mat dengan diawali oleh kekecewaan hati dan nafsunya. Ternyata sekarang anak anak perempuan itu sangat perhatian kepada ayah mereka. Inilah hakikat taqdir yang awalnya pahit dirasakan oleh kang Marhawi. Sekarang merasakan indahnya kasih saya putri putrinya.

Kang Kusum tidak perlu merasa penasaran, atau tidak puas dengan kemenangan lawannpolitiknya, apalagi sampai curiga ini dan itu, atau mengerahkan masa untuk membuat tuntutan. Kang Kusum dan sahabat sahabat akang lebih elok bilamana mampu memahami “Taqdir” sebagai kemauan Allah. Masih kah kang Kusum dan rombongan akang akan menolak ketentuan yang maha Menentukan, yaitu Allah subhaanahu wa ta’alaa Dzat yang Maha Kuasa.

Dialah Pemberi kekuasaan kepada hamba Nya yang dikehendaki, demikian juga Dialah Allah yang mencabut kekuasaan dari tangan hambaNya. Begitulah telah difirmankan di dalam kitab suci Alquran, surat ke 3 surat ali Imran ayat 25″ . Kita tidak perlu kecewa dengan “Taqdir Allah” karena kewajiban kita hanya berusaha di awalnya, hasil akhir kuasa Nya. ” begitulah nasihat pak ustadz Dzul Birri untuk kami para jamaahnya. Wallaahu ‘alamu bish shawaab wa ilahil musta’aan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here