Senin, 22 Oktober 2018

Seba Baduy, Ribuan Warga Baduy Sambangi “Bapak Gede”

SERANG, (KB).- Ribuan warga baduy yang terdiri dari warga baduy dalam dan baduy luar mengikuti Seba baduy dengan menyambangi ‘Bapak Gede’ (Gubernur Banten). Ritual penyerahan hasil bumi dari masyarakat baduy tersebut dihadiri oleh Gubernur Banten, Wahidin Halim, Wakil Gubernur Banten, Andika Hazrumy, Bupati Pandeglang Irna Narulita, Pjs Bupati Lebak Ino S Rawita, serta berbagai OPD dan perwakilan dati kementerian pariwisata.

Berbagai hasil bumi seperti pisang, sayuran, dan gula merah dibawa langsung warga adat baduy dari tanah leluhurnya di Kanekes untuk diserahkan kepada ‘Bapak Gede’ (Gubernur Banten) sebagai pengakuan dari masyarakat adat baduy.

Gubernur Banten mengatakan bahwa pemerintah Provinsi Banten menerima dengan senang hati kedatangan masyarakat Baduy dalam agenda rutin tahunan Seba Baduy. Ia mengatakan bahwa pemerintah tidak akan mengganggu hak-hak adat baduy yang sudah dijaga turun temurun. “Kami juga tidak akan mengganggu hak-hal bapak, tidak akan merubah kawasan dimana bapak tinggal,” katanya saat memberikan sambutan di pendopo lama, Kota Serang, Sabtu (21/4/2018).

Menurutnya warga baduy merupakan komunitas yang dihormati karena sanggup hidup berdampingan dengan alam dan menjaga nya dengan baik, bahkan menurutnya bukan hanya Infonesia saja yang sudah mengetahui tradisi itu tetapi warga dunia pun tahu. “Makanya hari ini kami terima lengkap, polisinya ada, tentara nya ada, kepala dinasnya ada dan bupati yang cantik juga hadir disini, ujarnya.

Kepala dinas pendidikan dan kebudayaan Provinsi Banten, Engkos Kosasih mengatakan bahwa upacara tersebut dilakukan setelah masyarakat adat baduy melakukan upacara kawalu selama 3 bulan dan diakhiri dengan upacara ngalaksa. Mereka menurutnya membawa wasiat amanat leluhur yang harus dijaga seperti lojor teu menag dipotong pendek teu meunang disambung, ngasuh ratu ngajayak menak, mipit kudu amit ngala kudu menta. “Amanat leluhur tersebut dikemas dalam event seba baduy yang diawali dengan perjalanan dari tanah wiwitan baduy,” ucapnya.

Sebagai penyambutan, dikatakan Kosasih pemprov dari mulai tadi sore menyambut kedatangan warga baduy dengan ekciting seba baduy yang dikemas oleh kementerian pariwisata. “Sedangkan kami mengemas malam ini dengan seba,” katanya. Sebelumnya, jaro bagian pemerintah di desa Kanekes, Saija mengatakan bahwa tanah hulayat milik desa Kanekes yang merupakan tanah adat seluas 5638 hektar yang harus dilestarikan dan dijaga yakni Gunung teu boleh dilebur, lebak teu beunang dirusak, sasaka teu beunang dirobah.

“Kekhawatiran-kekhawatiran orang baduy, titipan yang seperti tadi kalau yang gunungnya kalebur, lebaknya karusak, sasakanya karobah takut longsor bumi, gempa bumi, angin topan, resah ka negara sareng ka bangsa itu takut bencana lain di waktu,” katanya. Menurutnya, sesuai dengan amanat kokolot (tokoh) bahwa harus ada ritual upacara di 7 gunung yang sudah dilaksanakan masyarakat badut untuk berdoa mencegah bencana alam.

“Kami itu kekhawatiran soalnya ada peringatan dari leluhur dan karuhun di tahun 2018 itu, kekhawatiran ada pengancaman itu tsunami diselatan itu satu, keduanya yang di Anyar, itu kami mudah-mudahan berdoa yang kuasa supaya ulah sampe terjadi,” ujarnya. (Masykur)*


Sekilas Info

Berburu Spot Selfi Rumah Hobit di Kampung Wisata Karodangan

BAGI anda penggemar karakter Hobit dalam film The Lord of The Ring, ada baiknya datang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *