Rabu, 22 Agustus 2018

SDN Sadah Akan “Dimerger” Dengan Sekolah Terdekat

SERANG, (KB).- Proses negosisasi pengadaan lahan untuk relokasi SDN Sadah yang berlokasi di Desa Kaserangan, Kecamatan Ciruas dipastikan batal dilakukan pada tahun ini. Oleh karena itu, Dinas Pendidikan Kabupaten Serang berencana untuk melakukan sistem merger terhadap sekolah yang saat ini terletak di ibukota Kabupaten Serang tersebut, dengan sekolah terdekat.

Sekretaris Disdikbud Kabupaten Serang, Sarjudin mengatakan, proses negosiasi pengadaan lahan tahun ini sudah dipastikan tidak berlanjut. Oleh karena itu, pihaknya berencana melakukan merger SDN Sadah dengan sekolah terdekat yang berada di Cisait, Kecamatan Kragilan dan juga Ciruas.

“Tidak dilanjutkan. Mungkin nanti ada yang ke Ciruas dan ada yang ke Kragilan. Kalau mereka mau, kalau enggak mau terserah lah milih saja daripada ke Serang. Yang penting terjangkau saja,” ujar Sarjudin kepada Kabar Banten di ruangannya, Jumat (24/11/2017).

“Sudah dapat lokasinya, sudah analisa, bahkan sudah DED (Detail Engineering Design) ternyata begitu kita nego harga dengan pemilik lahan harganya minta Rp. 500.000 per meter, sedangkan kita anggarkan itu dibawahnya RP. 255.000 per meter. Jadi harganya tidak masuk. Kesimpulannya dibatalkan,” tuturnya.

Menurut dia, untuk kelanjutan masalah pengadaan lahan tersebut sepenuhnya diserahkan kepada Pemkab Serang. Sebab, bagaimana pun Pemkab Serang yang memiliki wewenang penuh. Terkait rencana melakukan merger tersebut, dia mengaku sudah sempat mengumpulkan pihak sekolah untuk menjelaskan bahwa persoalan yang ada.

“Lahannya itu sekitar 2.000-3.000 meter persegi, dan anggaranya sudah ada tahun ini. Cuma ya itu terganjal harganya melangit, disana kan harganya belum sampai segitu, masih bawah Rp. 300.000, mereka minta Rp. 500.000. Harga mati, ya sudah dibatalkan,” tuturnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Pattiro Banten Ari Setiawan menyayangkan mepetnya timeline yang ada. Selain itu selama ini pemkab pun terkesan yakin dengan satu opsi lahan, sehingga tidak mencari opsi lahan yang lain. Kemudian juga, ujar Ari, perlu dipikirkan nasib guru dan tenaga pengajar yang ada di sekolah tersebut.

Jangan sampai, langkah yang diambil kemudian menimbulkan persoalan baru. “Sebelum dimerger, saya pikir bupati (Ratu Tatu Chasanah) perlu ngobrol dengan masyarakat di sana. Sebab, Bupati pernah janji untuk tidak dimerger dan difasilitasi pengadaan lahan serta pembangunannya. Bahkan, dijanjikan dijadikan sebagai sekolah model,” tuturnya. (DN)***


Sekilas Info

LAZ Harfa Banten Gelar Sholat Ghaib dan Doa Bersama Untuk Korban Gempa Lombok

SERANG, (KB).- Lembaga Amil Zakat Harapan Dhuafa (LAZ Harfa) Banten menggelar sholat ghaib dan doa bersama …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *