Satu Tahun Tsunami Selat Sunda, Dompet Dhuafa Dirikan Masjid

Pimpinan Dompet Dhuafa Banten, Mokhlas Pidono menyerahkan bantuan di Kampung Batu Hideung, Desa Tanjung Jaya, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Banten, Jumat (22/11/2019).*

Peristiwa tsunami yang terjadi pada 22 Desember 2018 di wilayah pesisir Selat Sunda di Provinsi Banten yang meliputi Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Serang menewaskan ratusan orang dan menyisakan kerusakan cukup besar. Hampir satu tahun, peristiwa yang berawal dari letusan Gunung Anak Karakatau (GAK) itu, menyisakan luka bagi warga yang selamat dari terjangan ombak laut yang ganas.

Suhartini, salah satu warga Kampung Batu Hideung, Desa Tanjung Jaya, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Banten yang selamat dari musibah itu mengatakan, pada malam itu, suasana kampung yang diisi oleh 14 kepala keluarga terasa indah dengan sinar bulan purnama dan hembusan angin pantai yang damai. Seorang tamu mengetuk warungnya dan meminta dibuatkan kopi.

Sementara, saat itu listrik di kampung yang hanya berjarak 50 meter dari bibir pantai tersebut padam. Tiba-tiba, ia mendengar teriakan suaminya yang mengaku mendengar gemuruh kendaraan. Rupanya, suara gemuruh itu berasal dari ombak besar yang datang dari tengah laut. “Malam itu tidak ada tanda-tanda, langit tidak hujan tidak gelap,” kata Suhartini dikediamannya.

Suhartini yang saat itu sedang ada di warungnya yang menghadap pantai tidak bisa melarikan diri dan hanya mencoba berenang samampunya. Sedangkan genangan air laut sudah mencapai atap rumahnya. Genangan itu, bertahan beberapa menit hingga datang terjangan air laut lainnya. “Waktu itu suami saya terjepit etalase atau pecahan apa hingga kakinya sobek,” ucap dia.

Setelah musibah itu, diketahui lima warga di kampungnya meninggal dunia. Isak tangis suami yang kehilangan istri dan anaknya atau anak yang kehilangan orangtuanya masih teringat dibenaknya. Bahkan, untuk beberapa lama ia tidak berani mendekati bibir pantai. “Kalau sekarang saya sudah berani kepinggir laut. Sudah gak trauma,” ujarnya.

Dirikan Masjid Dilokasi Terdampak Tsunami

Bantuan dan relawan bencana pun berdatangan, salah satunya Lembaga Amil Zakat Dompet Dhuafa yang menurunkan relawan kebencanaan dan bantuan. Tidak hanya itu, masyarakat penyintas tsunami diajarkan keahlian dan modal seperti perahu untuk bisa ‘survive’.

Bahkan, saat ini Dompet Dhuafa Banten mendirikan masjid di Kampung Batu Hideung, Desa Cikujang, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Banten yang menderita kerusakan cukup parah akibat tsunami.

“Hari ini kita meresmikan masjid yang tanahnya berasal dari wakaf, dulu tempat ini hanya mushala kecil dan rusak akibat tsunami,” kata Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Banten Mokhlas Pidono usai Peresmian masjid batu hideung dan gerakan magrib mengaji di 100 kampung Banten di Kampung Batu Hideung, Desa Tanjung Jaya, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Banten, Jumat (22/11/2019).

Selain membangun masjid, di tempat yang sama Dompet Dhuafa juga memberikan insentif kepada 100 guru ngaji. Insentif itu akan diterima setiap bulannya sebesar Rp 300 ribu dengan tunjangan awal yang direalisasikan dan diserahkan langsung kepada guru ngaji mencapai total Rp 100 juta. “Ya memang tidak seberapa tapi yang penting niat baik Kami. Apalagi tidak semua pemerintah memperhatikan para ustad,” kata dia.

General manajer budaya, dakwah dan layanan sosial Dompet Dhuafa pusat Juperta Panji Utama mengatakan, pembangunan masjid di daerah terdampak tsunami merupakan yang pertama oleh DD Banten. Hal itu bertujuan untuk membangkitkan semangat beribadah warga penyinyas tsunami. “Gerakan magrib mengaji baru di Banten. Karena Banten ini tentang kedalamannya cukup kuat ya, agar menjadi contoh aja di tingkat nasional,” ujarnya. (Masykur)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here