Satu Keluarga Tinggal di Gubuk Reyot

PANDEGLANG, (KB).- Hampir sepuluh tahun satu keluarga di Kampung Ciparumpang, Kelurahan Pagerbatu, Kecamatan Majasari, Kabupaten Pandeglang tinggal di gubuk reyot berukuran 3×5 meter.

Mereka adalah pasangan suami istri Sapiah (53), Jari (75) dan dua orang anaknya yang masih duduk di bangku sekolah. Menurut informasi warga, pasutri tersebut memang tergolong masyarakat bermata pencaharian rendah.

Untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari saja pria berusia 75 tahun ini hanya mengandalkan pekerjaan serabutan. Meski sesekali ada tetangga yang belas kasihan memberi makan.

”Untuk sehari-hari pekerjaan saya tidak menentu dan hanya menunggu pekerjaan dari tetangga. Saya juga tidak punya kebun. Paling saya kerja di kebun orang dan sesekali diminta bantuan untuk mengurut atau memijat orang,” kata Jari kepada Kabar Banten saat ditemui di kediamannya, Kamis (14/5/2020).

Ia mengaku gubuknya sudah reyot dan atapnya rusak. Oleh karena itu, jika hujan turun, atap dan dinding bilik bocor terkena air hujan.

Jari mengaku pernah mendapatkan bantuan rumah dari program RTLH dari pemerintah. Namun rumah tersebut tidak sampai selesai dibangun, sehingga Jari masih tinggal di gubuk tersebut. Karena terbentur biaya, Jari mengaku tidak mampu menyelesaikan rumah dari program pemerintah.

”Bantuan rumah dari pihak kecamatan terbengkalai dan sudah hampir satu tahun belum ada perbaikan. Saya mau melanjutkannya bagaimana, tidak ada biaya,” ujarnya.

Meski demikian, sampai sekarang Jari bersama istri dan anaknya berharap kepada pemerintah agar dapat membantu memperbaiki rumahnya. Terlebih saat ini sedang masa pandemi Covid-19, kondisi semakin membuat dirinya merasa bingung dan kesulitan.

”Saya hanya berharap pemerintah bisa membantu membangun rumah. Saya sungguh bingung saat pandemi Covid -19, saya pun belum mendapat bantuan,” ucapnya.

Sementara itu, Camat Majasari Caswa menuturkan, pemerintah kecamatan sudah memasukkan nama Jari ke beberapa program pemerintah seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dan program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).

Terkait rumah Jari yang terbengkalai, karena program tersebut bersifat pendorong atau stimulan, jadi pemerintah tidak dapat sepenuhnya membangun rumah tersebut.

”Semua program yang berkaitan akan kita usulkan kepada pemerintah. Ya, seharusnya masyarakat ikut membantu memperbaiki rumah Jari, karena waktu itu pemerintah tidak bisa membangun total rumah tersebut,” tuturnya.

Menurut Caswa, dalam waktu dekat bantuan dari pemerintah pusat, kabupaten maupun kecamatan akan segera disalurkan kepada masyarakat, termasuk kepada warganya bernama Jari.

”Insya Allah bantuan dari pemerintah akan segera disalurkan secara bertahap. Minggu ini juga ada 500 paket sembako yang akan disalurkan,” katanya. (Ade Taufik/EM)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here