Sang Hyang Sakti di Pandeglang

SANG Hyang Sakti di Situs Pasir Muncang, Desa Gunung Sari, Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang.*

Batu orok dikenal sebagai salah satu batu arca berbentuk manusia tidak sempurna. Peninggalan zaman megalitikum ini diperkiarakan gambaran dari tokoh yang dihormati kala itu. Keberadaan batu ini sejatinya bukanlah satu-satunya batu berbentuk manusia tidak sempurna di Pandeglang, batu lainnya adalah Sang Hyang Sakti di Situs Pasir Muncang, Desa Gunung Sari, Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang.

Batu tersebut dibentuk seperti manusia sedang duduk. Tangan bertemu dalam satu dada membentuk posisi seperti sedang menyembah. Di bagian dada dan perut terdapat benjolan, sedangkan muka hanya berbentuk goresan-goresan menyerupai mata dan telinga. Batu tersebut dibentuk menjadi dua bagian, kepala dan badan. Tinggi arca secara keseluruhan 40 sentimeter dengan lebar 22 sentimeter. Tinggi kepala 7 sentimeter dengan lebar 13 sentimeter.

Nama Sang Hyang Sakti adalah nama yang diberikan oleh masyarakat sekitar. Namun jauh dari pada itu, dilihat dari namanya batu ini memiliki makna sejarah tersendiri. Diperkirakan batu ini sama dengan batu orok, yakni gambaran tokoh yang dihormati manusia zaman megalitikum. Dalam Wikipedia disebutkan, kata Sang Hyang bermakna filosofis sebagai wujud penghormatan kepada sesuatu yang suci. Kata ini gabungan dari Sang dan Hyang. Sang memiliki makna personalisasi atau identifikasi.

Sedangkan Hyang dikaitkan dengan keberadaan spiritual yang dimuliakan atau mendapatkan penghormatan yang khusus. Sudarji Prijono dalam sebuah penelitian yang diarsipkan Badan Arkeologi Bandung berjudul budaya megalitik mata rantai penutur austronesia di kawasan Pandeglang mencatat, bentuk goresan yang membentuk anggota tubuh pada arca ini juga terdapat pada arca megalitik dari Lahat, Sumatera Selatan.

Direktur Banten Heritage, Dadan Sujana menuturkan, batu arca dengan beragam bentuk biasanya memiliki kegunaan masing-masing sesuai kebutuhan manusia zaman megalitikum. Peninggalan manusia zaman megalitikum memiliki banyak ragam, ada yang berbentuk menhir, juga peralatan lain yang rata-ratanya terbuat dari batu. ”Seperi menhir situs batu lingga di Kecamatan Baros, Kabupaten Serang. Ini diduga menjadi tempat pemujaan orang-orang zaman dahulu (zaman megalitikum),” ucapnya. (Sutisna/”KB”)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here