Sampaikan Keluhan Jalan Simpang-Bayah, Warga Datangi Kantor Kecamatan

LEBAK, (KB).- Sejumlah warga mendatangi kantor Kecamatan Malingping Kabupaten Lebak, Kamis (27/7/2017) kemarin.  Selain menyampaikan keluhan akibat mangkraknya pembangunan Jalan Simpang-Bayah betulan di Kampung/Desa Cilangkahan Kecamatan Malingping, mereka (warga) meminta Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (FKPK) menyampaikan hal itu kepada pihak berkompeten.

Salah seorang warga, Hidayat mengatakan, kerusakan Jalan Simpang-Bayah betulan Kampung/Desa Cilangkahan Kecamatan Malingping yang terjadi beberapa bulan setelah selesai dikerjakan oleh pihak pelaksana, PT Conbloc nyaris dibiarkan begitu saja. Padahal menurutnya pihak rekanan mempunyai tanggung jawab selama dua tahun. ”Jalan Simpang-Bayah di betulan Kampung/Desa Cilangkahan Kecamatan Malingping hanya beberapa bulan saja setelah selesai dibangun 2015 lalu. Tapi sayangnya hingga sekarang belum ada perbaikan secara tuntas, yang ada hanya penutupan lubang menggunakan agregat,” ujarnya.

Menurutnya, kekecewaan warga semakin memuncak memaksa warga untuk melakukan aksi hingga beberapa karena jalan tersebut dibiarkan rusak parah dan kini berdebu akibat dibiarkan begitu saja dan tanpa penyiraman yang kontinyu. ”Terus terang kami bingung, kenapa pembangunan Jalan Simpang-Bayah seperti ini, kemana aparat berwenang dan penegak hukum,” katanya. Ditambahkan, kedatangan warga ke kantor Kecamatan Malingping merupakan upaya agar pemerintah khususnya Satker pada Kementerian PU terkait jalan nasional Simpang-Bayah melek dan tidak membiarkan pelaksana kegiatan seenaknya saja.

Camat Malingping, Sukanta mengatakan, pihaknya sudah sering didatangi warga yang mempertanyakan dan menyampaikan keluhan akibat kondisi Jalan Simpang-Bayah khususnya di Kampung/Desa Cilangkahan rusak dan berdebu. ”Kami sudah menyampaikannya kepada pihak Satker jalan nasional terkait hal tersebut. Kami juga meminta kepada pihak berkompeten tidak tinggal diam menyikapi keresahan warga. Sebab, saat ini saja di jalan ruas tersebut banyak penghalang baik dari batu maupun kayu sebagai bentuk protes dan upaya agar laju kendaraan yang melintas tidak kencang,” tuturnya. (H-34)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here