Sambut Maulid Nabi, Ratusan Golok Ciomas Dimandikan

Ratusan golok Ciomas berjejer rapi di atas meja panjang di Padepokan Pande Golok milik Abah Sidik Santani, di Kampung Cibopong, Desa Citaman, Kecamatan Ciomas, Selasa (20/11/2018). Para pemilik hingga perajin dan pecinta golok Ciomas dari berbagai daerah, berkumpul di tempat tersebut.

Acara sakral tersebut dilakukan dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhamad SAW yang jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awal 1440 Hijriah. Masyarakat sekitar biasa melakukan ritual memandikan golok di bulan kelahiran Nabi Muhamad SAW tersebut.

Sebelum ritual dimulai, pemimpin ritual Kiai Muhaemin Soleh terlebih dulu memimpin doa dan melantunkan salawat. Setelah itu, satu persatu golok yang telah diberikan nomor urut tersebut dibuka dari sarungnya, untuk diasah dengan godam si denok atau palu yang biasa digunakan untuk menempa golok.

Godam tersebut merupakan warisan leluhur asli Ciomas pemberian dari Sultan Banten. Dalam ritual ini, mereka juga menggunakan kembang tujuh rupa yang dicampur dengan air, untuk memandikan golok dan minyak wangi khusus untuk kemudian dioleskan ke Golok Ciomas.

Ketua Umum Seni Golok Indonesia (SGI) yang hadir dalam ritual, Opick, sangat mengapresiasi acara Maulid Nabi Muhamad SAW itu. Dia mengatakan akan membawa golok Ciomas ini menjadi bahan untuk maju ke Unesco sebagai warisan dunia. “Ini sangat positif sekali, banyak sekali golok dikumpulkan, dan dijelaskan sejarahnya,” ujarnya kepada wartawan, selepas acara.

Sebagai pecinta golok, dirinya juga bercita-cita akan membuat museum senjata tradisional nusantara Sakti di Jakarta. Ia terinspirasi saat datang di Rusia, dimana di sana semua museum sangat ramai didatangi oleh masyarakat. Mereka mengenalkan bakti leluhurnya kepada negeri terhadap anak-anaknya.

“Nah ini sangat penting, karena apa yang bisa kita sampikan di masa depan, itu pekerjaan kita hari ini. Kita lagi proses pengumpulan senjata dari Papu sampai Aceh, kita kumpulkan satu persatu, seperti apa sejarahnya,” katanya.

Bebersih

Sementara, Ketua Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Potensi Sumber Daya Masyarakat Daerah Banten (LP3SDMDB), Oman Solihin mengatakan, ritual memandikan golok ini sudah dilaksanakan sejak 15 tahun yang lalu setiap Maulid Nabi Muhamad SAW. Menurutnya, maksud dari memandikan golok ini mengandung makna bebersih.

“Jadi itu sebagai simbol saja. Kegiatan yang sudah kita lakukan berdasarkan kegiatan orangtua dulu, kita hanya melaksanakan tuntunan leluhur. Nah kemudian apa artinya, kita harus mencari apa yang terkandung dalam filosofi itu. Tapi yang jelas, nilai positifnya akan ketemu, minimal satu yaitu silaturahim. Jadi, timbul rasa ingin tahu, ingin berkenalan dengan pemilik golok Ciomas yang lain,” ujarnya.

Apalagi, kata dia, yang hadir dalam ritual ini cukup banyak. Mereka datang dari berbagai daerah seperti Depok, Jakarta, Bandung dan Sumatera. Mereka yang hadir umumnya yang mempunyai golok Ciomas.”Intinya dari yang tidak kenal menjadi kenal, kita harapkan menjadi satu saudara,” tuturnya.

Setelah golok Ciomas ditetapkan menjadi warisan budaya tak benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2017, pihaknya ke depan akan terus berupaya melestarikannya, yaitu dengan membuat aplikasi Golok Ciomas Banten (Gociba) di tahun 2018. Hal itu bertujuan agar kaum milenial dapat mengakses dengan mudah terkait sejarah tentang Golok Ciomas.

“Sejarah golok Ciomas ini cukup panjang, jadi dulu itu dibuat oleh seorang Ki Gede. Dia itu adalah satria lalanang jagat, orang perkasa yang diberikan amanah untuk mengurus bayi. Jadi sambil mengurus bayi dia dibekali palu si Denok oleh Sultan Banten, palu si Denok ini masih ada kaitannya dengan kesultanan. Nah sejarah ini nanti bisa dilihat di aplikasi itu,” tuturnya. (Dindin Hasanudin)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here