Selasa, 21 Agustus 2018

Saluran Irigasi Dipenuhi Sampah, Antara Tingginya Kebutuhan & Rendahnya Kesadaran Masyarakat

SEJAK zaman dahulu manusia sudah memulai untuk memakai dan mengembangkan sistem irigasi, untuk mempermudah proses pengairan lahan pertanian ataupun perkebunan. Pembuatan saluran irigasi pada suatu daerah merupakan upaya rekayasa teknis untuk penyediaan dan pengaturan air dalam menunjang proses produksi pertanian, dari sumber air ke daerah yang memerlukan serta mendistribusikan secara teknis dan sistematis. Dengan adanya pemberian air yang tepat waktu dan tepat jumlah, diharapkan produksi tanaman akan meningkat.

Ironisnya, tingginya kebutuhan akan distribusi air melalui saluran irigasi itu belum disertai dengan kesadaran masyarakat dalam merawat dan menjaga saluran irigasi yang melintasi daerahnya.
Kondisi itu setidaknya nampak pada saluran irigasi di sepanjang Desa Sukamekarsari hingga Desa Aweh, Kecamatan Kalanganyar, yang sepertinya tidak berfungsi normal untuk mengaliri areal persawahan. Hal itu terjadi karena sejak beberapa bulan terakhir, air di saluran irigasi tersebut tersumbat akibat tumpukan sampah disejumlah titik salurannya.

Berdasarkan pantauan Kabar Banten, Ahad (14/1), sampah yang menumpuk di saluran irigasi yang sumber airnya dari Situ Palayangan, Kecamatan Cimarga tersebut, berada di Kampung Portal, Desa Aweh serta Kampung Bojong, Desa Sukamekarsari. Anehnya, meski tampak terlihat, namun warga setempat seolah membiarkannya tanpa mau membersihkannya. Niko, salah seorang warga Desa Sukamekarsari mengatakan, beberapa bulan sebelumnya, saluran irigasi di desanya bersih. Bahkan sebelumnya, ketika banyak parit yang sempat menyumbat aliran airnya cukup lebat, selalu ada pihak yang membersihkannya.

Namun sekarang, tepatnya di beberapa bulan terakhir justru saluran irigasi di desanya menjadi tempat pembuangan sampah, yang akhirnya aliran irigasinya tidak mengalir normal. ”Saya rasa, kalau warga yang kebetulan rumahnya berdekatan dengan lokasi saluran irigasi memiliki kepedulian yang tinggi, maka tidak mungkin irigasi tersebut tersumbat oleh sampah. Makanya, selama tidak ada yang peduli, maka selamanya saluran irigasi di desa kami tidak akan bisa mengaliri sawah,” ujar Heri.

Sarmin, salah seorang petani di Desa Aweh menambahkan, karena banyak sampah yang menyumbat saluran irigasi, maka kini sawahnya menjadi sawah tadah hujan. Karena meski memiliki irigasi, tetap saja airnya tidak memenuhi kebutuhan tanaman padi di sawahnya akibat tersumbat sampah. ”Kami tidak bisa berbuat banyak, karena akibat tumpukan sampah yang menyumbat aliran irigasi di desa kami, maka seluruh areal persawahan di Aweh menjadi sawah tadah hujan,” ucapnya.

Menanggapi hal itu, Kepala Bidang Sumber Daya Air pada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Lebak, Dade Yanapriandi mengatakan, terjadiya penumpukan sampah disejumlah saluran irigasi itu diakibatkan masih banyak masyarakat yang kurang peduli terhadap kondisi irigasi. Bahkan, tidak jarang banyak warga yang justru membuang sampah ke lokasi irgasi, yang akhirnya merugikan para petani pemilik sawah. ”Yang pasti, kami selalu melakukan pemeliharannya, agar saluran irigasi tetap normal untuk memenuhi kebutuhan air persawahan. Namun, agar kondisi irigasi tetap terpelihara dengan baik, kami berharap warga jangan sampai menjadikan irigasi sebagai tempat pembuangan sampah,” kata Dade Yanapriandi. (Lugay/Job)***


Sekilas Info

Tujuh SMPN Terapkan Lima Hari Sekolah

LEBAK, (KB).- Tujuh SMPN yang tersebar di Kabupaten Lebak pada tahun pelajaran 2018-2019 menerapkan pelaksanaan lima …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *