Sajira, Wewengkon Tua dengan Berjuta Cerita

Sajira, Wewengkon Tua dengan Berjuta Cerita. Ada yang berbeda di Minggu (7/3/2019) siang itu. Setelah aku, Dina Septiani aktif bergabung di Komunitas Sastra Balkon, rasanya tak ada hari tanpa keseruan dan cerita baru yang mengisi aktivitasku sebagai pegiat literasi desa.

Bersama sejumlah rekan, sejak pagi hari kami sudah berada di rumah Miss Eka – panggilan akrab Eka Nurul Hayat, pendiri Komunitas Akar Pohon kami disibukkan dengan memasak santap siang yang akan dihidangkan untuk para tamu yang menurut kami adalah orang-orang yang patut dihormati kehadirannya.

Bagaimana tidak, tamu yang datang kali ini adalah orang yang paling bertanggung jawab soal pariwisata, Imam Rahmayadin Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lebak.

”Pak Kadis sudah ada di rumah Pak Jaenudin (Kepala Desa Sajira Mekar) sebentar lagi mau datang ke sini,” kata salah seorang teman sembari ngakeul nasi.

Tak lama berselang, rombongan Kadispar Lebak pun datang bersama pewarta Harian Umum Kabar Banten dan Si Abang berambut gondrong yang akrab dipanggil ‘Kakek’ oleh anak-anak Akar Pohon. Tanpa basa-basi kami pun segera menghidangkan makan siang yang sedianya akan disantap di sisi ca’i Sungai Ciberang. Namun berhubung tamu sudah datang terlebih dulu, maka pesta kecil siang itu digelar di teras rumah Miss Eka.

Nasi putih yang hangat disantap dengan sejumlah lauk seperti ayam goreng, ikan mas goreng, ikan asin sepat goreng, tahu-tempe, lalapan, jengkol muda dan petai serta dua macam sambal; sambal biasa dan sambal jahe membuat suasana jadi sumringah, dan hidangan terakhir ditutup oleh es buah segar.

Selepas jamuan makan siang, sambil membereskan alat-alat makan kami Salat Zuhur bergantian. Sementara aku menunggu giliran, kudengar Pak Kadis bercerita tentang desaku, Sajira Mekar di zaman baheula yang katanya walaupun jumlah warganya sedikit tapi desa ini lebih banyak komplek pemakamannya jika dibandingkan dengan jumlah warganya.

Sayang rasanya jika keseruan kami tidak kami bagikan pada masyarakat luas. Karena itulah dengan arahan si Kakek Gondrong, kami saling berbagi isi tulisan yang kemudian kami kirimkan untuk pembaca HU Kabar Banten.

”Kata orang tua dulu, di Desa Sajira ini sangat sepi penduduknya tapi komplek makamnya banyak sekali. Ini menunjukkan bahwa desa ini sudah ada sejak zaman dahulu, wewengkon kolot mun ceuk urang mah,” kata Kadispar Imam Rahmayadin.

Setahuku, Desa Sajira Mekar, Kecamatan Sajira dikelilingi oleh kompleks makam keramat yang terkenal, yaitu: Kompleks Makam Prabu Dalem Cikur, Kompleks Makam Prabu Dalem Hadi (Kompleks Makam Tengah) – ada satu makam keramat yang terpisah tidak jauh dari Kompleks Makam Tengah, yakni Makam Syeikh Ahmad Gunung Oko – Kompleks Makam Prabu Dalem Wong Sagati, Kompleks Makam Alingga Wastu (Makam Ayahanda Prabu Dalem Wong Sagati), dan Kompleks Makam Prabu Dalem Seda.

Rencana kami hari itu sebenarnya akan mengunjungi Kampung Hirung, masih di Desa Sajira Mekar, yang terkenal dengan Jembatan Hirung, jembatan yang melintasi Sungai Ciberang. Nah, di bawah Jembatan Hirung inilah terdapat hamparan bebatuan dan cadas berukuran besar dengan berjuta cerita yang sejak turun temurun terus dikisahkan oleh warga sekitar.

Jika air Sungai Ciberang surut, terlihat hamparan batu cadas dengan lubang-lubang berdiameter setengah sampai satu meter bahkan lebih yang banyak digenangi air, warga sekitar menyebut lubang-lubang di atas bebatuan tersebut Papariukan. Di salah satu titik lokasi hamparan batu cadas, dulu terdapat telapak kaki kuda seperti terpeleset dan telapak kaki bayi.

Namun sayang, saat ini sudah hilang ketika beberapa tahun silam warga digemparkan dengan adanya isu harta karun yang berada di bawah telapak tersebut dan beramai-ramai membongkarnya. Kemudian di sekitar bantaran sungai terdapat dinding batu cadas.

Di sela-sela dinding tersebut terdapat sejumlah gua di antaranya Gua Liang Goong, Gua Liang Tikora, Gua Sanghyang dan semua gua tersebut konon tersambung ke daerah yang jauh, ada yang ke Sangka Kosala dan ada juga yang ke Lebak Cibedug. Selain itu, ada juga batu-batu cadas yang memiliki kisah mistis, di antara yang aku tahu yaitu Cadas Bangkong dan Cadas Kadatuan.

Cadas Kadatuan terkenal dengan cerita pada saat banjir bandang menggenangi rumah-rumah di sekitar Sungai Ciberang, bagian atas batu cadas yang berbentuk segitiga itu tetap berada di atas permukaan air meskipun banjir.

”Kawasan ini bisa dikategorikan Geo Park, tidak beda dengan Tanjung Layar di Sawarna. Ini sangat berpotensi sebagai destinasi selain wisata religi yang sudah terkenal disini dan lokasinya tidak terlalu jauh dari kota Rangkasbitung. Perlu adanya penataan dan perencanaan yang serius untuk menangani wilayah ini,” kata Kadis Pariwisata.

Memang sangat disayangkan, daerah sekitar pinggir Sungai Ciberang terutama di sekitar Jembatan Hirung sampah terlihat berserakan menggunung. ”Nanti kita coba berkoordinasi dengan leading sektor yang lain untuk menangani wilayah ini,” pungkasnya. (Tono Soemarsono)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here