Rumah Rusak Akibat Gempa Capai 776 Unit

PANDEGLANG, (KB).- Pemkab Pandeglang memastikan data kerusakan rumah akibat gempa bumi beberapa waktu lalu mencapai 776 unit.

Sekretaris Daerah Pandeglang Pery Hasanudin mengatakan, pihaknya sudah menerjunkan tim ahli untuk melakukan verifikasi terhadap laporan camat, terdiri dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR), Perkim, Dinas Sosial (Dinsos), Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) dan di lapangannya didampingi langsung oleh Kepala desa (Kades) setempat.

“Hasil dari laporan tiap-tiap camat, jumlah total yang rusak ringan dan sedang ada 525 rumah, dan 56 rumah rusak berat. Dari jumlah itu kami lakukan verifikasi lagi oleh tim khusus yang terjun langsung ke lapangan,” tutur Sekda Pandeglang, Ahad (18/8/2019).

Pery mengaku, dirinya memimpin langsung penanganan gempa tersebut. Pihaknya sudah menemukan data real by name by adres, dan data itu juga sudah final.

“Hasil verivali tim bahwa yang mengalami rusak ringan itu berjumlah 542 rumah, rusak sedang 179 rumah, dan rusak berat berjumlah 55 rumah. Ini sudah bersifat final, dan bahkan sudah di SK-kan oleh Bupati Pandeglang,” ujarnya.

Pery mengklaim, data tersebut sudah sesuai keadaan yang sesungguhnya. Karena, kata dia, tim langsung terjun ke lapangan untuk melihat kondisi langsung rumah para korban sesuai data yang dilaporkan.

“Mudah-mudahan tidak ada yang ketinggalan, karena kami kerja maksimal. Bahkan tim tidak ada liburnya melakukan verifikasi. Kami melakukan ini sangat cepat, karena kami ingin segera masyarakat mendapatkan batuan baik itu dari BNPB maupun dari Pemprov Banten,” ucapnya.

Sementara itu, Camat Mandalawangi Entus Bakti mengatakan, data kerusakan akibat gempa bumi kemarin sudah disampaikan sejak 5 Agustus sesuai dengan waktu yang ditentukan oleh Pemerintah.

Data awal yang disampaikan ke Bupati Pandeglang, ungkap dia, ada 157 bangunan rusak terdiri dari 3 bangunan sekolah, 6 bangunan tempat peribadatan dan 148 rumah warga.

Namun setelah tim verifikasi dari Kementerian Sosial turun ke lapangan jumlah itu bertambah lagi 9 bangun sehingga total 166 bangunan rusak di Kecamatan Mandalawangi.

“Alhamdulillah datanya sudah lengkap. Jadi pascaferivikasi nambah 9 bangunan dari 157 data awal yang kami laporkan, tim verifikasi juga sudah turun,” katanya.

Menurutnya, bantuan dari berbagai pihak sudah banyak datang, namun tidak semua bantuan datang langsung ke kecamatan, tetapi ada juga yang disalurkan langsung kepada para korban baik oleh dinas atau instansi lain.

Namun untuk kepastian kapan dana bantuan rehab rumah diterima oleh warga, ia belum bisa menyampaikan. Alasannya karena masih menunggu informasi dari pemerintah pusat.

“Kalau itu (dana untuk rehab rumah), mungkin tim verifikasi yang kemarin turun untuk menentukan mana rumah yang rusak berat, sedang dan ringan. Sepertinya itu yang akan jadi patokan, dananya berapa saya kurang tahu. Secepatnya,” ucapnya.

Menurut Entus, warga yang rumahnya mengalami rusak berat sementara tinggal di rumah kerabatnya. Hal itu karena sistem kekerabatan di daerah yang ia pimpin masih sangat kental.

“Karena sistem kekerabatan, jadi ada yang tinggal di rumah ibunya atau adiknya. Jadi, penanganan pascagempa ini karena sistem kekerabatan kuat jadi itu yang kami anggap tidak perlu ada posko. Saya sering pantau ke lapangan kebanyakan mereka tinggal di rumah kerabatnya,” tuturnya. (Ade Taufik/IF)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here