Minggu, 24 Juni 2018
Sukeri (kiri) saat menunjukkan rumah kakak iparnya, Sapiah di Kampung Wangun, Desa Batukuwung, Kecamatan Padarincang yang sudah tidak layak huni, Rabu (7/2/2018).*

Rumah Nyaris Ambruk, Sapiah Terpaksa Mengungsi

Kemiskinan telah membuat Sapiah, warga Kampung Wangun Tarikolot, RT18/RW 08, Desa Batukuwung, Kecamatan Padarincang harus berusaha keras untuk bertahan hidup. Ibu tiga anak tersebut rela memungut tangkil atau melinjo di kebun milik tetangganya, agar bisa membiayai kebutuhannya sehari-hari.
Pascaberpisah dari suaminya enam tahun silam, dia harus berjuang seorang diri untuk membesarkan buah hatinya. Hidup dengan serba keterbatasan menjadi hal yang biasa dialaminya selama ini. Bahkan, rumah satu-satunya yang selama ini menjadi tempatnya bernaung, kini sudah amat memprihatinkan.

Rumah yang terbuat dari bilik, beralaskan tanah, dan beratap welit tersebut sudah dipenuhi lubang di beberapa bagiannya. Bahkan, kondisi di dalam rumahnya sudah nyaris tak berbentuk. Karena, kondisinya demikian membuat saudaranya menjadi iba. Akhirnya, dia bersama anaknya terpaksa mengungsi di rumah sang adik yang kebetulan hanya berjarak beberapa meter dari rumahnya.

Adik iparnya, Sukeri menuturkan, sebelumnya Sapiah beserta dua orang buah hatinya, yakni Satibi (17) dan Sunariyah (13) tinggal di rumahnya, namun saat mengungsi Satibi memilih tinggal di pesantren. “Satibi sambil belajar ngaji di kobong. Jadi, yang di sini cuma teh Sapiah sama anak bungsunya,” katanya kepada Kabar Banten di lokasi. Di rumah adiknya yang tidak begitu besar, Sapiah terpaksa tinggal beramai-ramai bersama lima orang anggota keluarga adiknya. Sudah sekitar tiga bulan Sapiah tinggal dalam kondisi yang demikian.

Tetangga Sapiah, Abdurohim prihatin dengan kondisi keluarga Sapiah. Selama ini, Sapiah hanya mengandalkan hidup dari buruh tani dan memungut tangkil. Hasil memungut tangkil tidak seberapa. Dalam sehari paling dia bisa mendapatkan sekilo dan bahkan kurang. Sekilonya buah tangkil itu dihargai Rp 10.000. “Di sini mah engap dapat Rp 20.000 per hari juga,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, anggota Komisi II DPRD Kabupaten Serang, Heri Azhari mengatakan, penerima bantuan rumah tidak layak huni harus dipahami secara benar. Mereka yang dapat, yaitu warga yang rumahnya tidak berlantai semen atau keramik. “Itu menjadi daftar kami membantu. Apalagi yang sampai ngungsi, karena mau roboh, maka itu prioritas,” ucapnya.

Ia meminta, agar Dinas Sosial melakukan verifikasi ulang data yang sudah masuk ke Dinas Sosial. Jangan sampai masyarakat yang membutuhkan tidak masuk prioritas. Setelah itu, data yang masuk harus dievaluasi dan monitoring. “Jadi, setelah dievaluasi atas proposal yang masuk itu dimonitoring ke lapangan langsung. Betul tidak orang tersebut tidak layak huni. Nah, jadi dengan keterbatasan jumlah dana rutilahu di sini harus betul-betul diverifikasi secara massal,” tuturnya. (Dindin Hasanudin)***


Sekilas Info

Dana Parpol Segera Cair

SERANG, (KB).- Bantuan dana partai politik (parpol) sudah bisa dicairkan pada Juli 2018. Parpol peraih kursi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *