Minggu, 24 Juni 2018

Rumah Hutan Cidampit

Rumah Hutan Cidampit, terletak di Kampung Cidampit, Desa Bojong, Kecamatan Taktakan, Kota Serang layak menjadi wisata alam. Rumah tersebut lebih mirip anjungan rumah yang terletak di tengah hutan. Rumah Hutan Cidampit ramai dikunjungi wisatawan setiap harinya. Apalagi menjelang akhir pekan, pengunjung cukup banyak.

Rumah hutan ini memiliki sensasi yang berbeda. Pengunjung tidak menemukan gemerlap lampu, melainkan aneka suara satwa. Banyak juga pengunjung yang bersepeda gowes. Destinasi wisata Rumah Hutan Cidampit ini memiliki keindahan yang sangat menarik untuk dikunjungi.

Wisata tersebut memiliki keindahan yang sangat menarik untuk sayang dilewatkan begitu saja. Di Rumah Hutan Cidampit sangat sesuai untuk mengisi kegiatan liburan, atau sekadar jalan-jalan sore bersama orang tersayang. Selain keindahan alamnya juga dilengkapi fasilitas seperti saung tempat rebahan.

Dikutip dari laman dispar.bantenprov.go.id, menyebutkan, sebelumnya rumah hutan ini hanya untuk kebutuhan pemilik pribadi tidak diperuntukkan umum. Namun berjalannya waktu, satu persatu pengunjung mengetahui keberadaan rumah hutan ini.

Kemudian pengelola memperbolehkan pengunjung umum boleh masuk tanpa dipungut biaya masuk sepeserpun alias gratis. Meski demikian, pengelola hanya meminta pengunjung menjaga kebersihan, tidak membuang sampah sembarang.

”Di sini (Rumah Hutan) tidak memungut biaya masuk, cuma semuanya harus bersama-sama menjaga alam ini supaya tetap lestari, minimal tidak membuang sampah sembarangan,” ujar Bapak Liem Oie Ping selaku pemilik Rumah Hutan.

Lim Oei Ping merupakan pria keturunan Tionghoa asal Sulawesi Tengah. Ia merantau ke Serang sejak 1962. Rumah Hutan adalah cita-citanya sedari dulu. Menurutnya, Rumah Hutan ialah ‘Surga’ yang harus dijaga dan dirawat.

Koh Iping pelan-pelan mewujudkan cita-citanya. Pada 2005, dia membeli tanah seluas 6.000 m2. Ia mengajak beberapa warga untuk menatanya. Pohon-pohon yang tidak perlu dibabat, sehingga beberapa pohon durian tampak indah seperti bonsai raksasa. Semak-semaknya dibabat ditanami rumput.

Lalu dia membangun pondok-pondok, lumbung padi, perpustakaan, lapangan badminton, kandang ayam dan kambing. Diberinya nama ”Rumah Hutan”. Setiap sebulan sekali, dia datang ke surganya. Bagi Koh Iping, hutan adalah anugerah terindah dari Allah SWT.

Koh Iping menawari beberapa warga untuk menjaga ”surga” miliknya. Bahkan memberinya gaji rutin perbulan. ”Mereka kaget. Tinggal di hutan bukanlah tradisi mereka. Padahal saya menawarkan sistem ’hak milik’. Mereka saya berdayakan dan saya beri penghargaan dengan cara memiliki setiap tanaman yang mereka tanam.

Untung ada sebuah keluarga yang menerima tawarannya. Baginya, jika kita mau menghuni hutan, itu sama dengan melestarikan hutan pemberian Tuhan. Setelah 2 tahun berlalu, pohon-pohon yang ditanam, seperti pisang dan nangka, berbuah.

Koh Iping membelinya jika sedang berkunjung untuk dibawa pulang ke kota. Bahkan setiap apa yang dimakan dan diminumnya, dia membayarnya. ”Dengan begitu, kita menghargai setiap jerih payah kita. Terlebih lagi, kita menghargai pemberian Tuhan,” ujarnya. (Endang Mulyana)*


Sekilas Info

Gunung Pinang Jadi Primadona

Gunung Pinang merupakan salah satu dataran tinggi yang berada di Desa Pejaten, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *