Rumah Bahasa Penguat Literasi Budaya

Rumah bahasa yang diprakarsai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lebak menjadi penguat literasi budaya dan kewargaan. Selain itu, hadirnya rumah bahasa membentuk peran strategis dalam membantu tercapainya visi dan misi Kabupaten Lebak yang salah satunya, adalah menuju Lebak Cerdas.

Hal tersebut dikemukakan Relawan Rumah Bahasa Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lebak Abdusubhan Jayani kepada Kabar Banten, di Rangkasbitung, Kamis (19/9/2019).

Ia menjelaskan, Rumah bahasa Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lebak saat ini menyediakan layanan pembelajaran bahasa asing ditujukan untuk masyarakat umum dari berbagai kalangan.

“Saat ini layanan pembelajaran bahasa asing yang terselenggara mencapai sembilan bahasa asing, antara lain Inggris, Prancis, Jerman, Belanda (Eropa), kemudian Arab, Jepang, Korea, India, dan Thailand (Asia),” katanya.

Sejauh ini, ujar dia, sambutan masyarakat terhadap kehadiran rumah bahasa cukup baik. Hal tersebut dibuktikan dengan jumlah peserta belajar bahasa yang mencapai 262 orang dari berbagai level pendidikan dan sosial, sedangkan untuk mentor atau pengajar, relawannya sebanyak 10 orang.

Ia menuturkan, kehadiran Rumah Bahasa Disdikbud sebagai tempat belajar dan mengajar tentu membuka kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat dari berbagai level atau lapisan untuk ikut serta belajar bahasa asing.

Karena ini manfaatnya sangat besar. Selain dapat memahami bahasa asing juga tentunya dengan belajar bahasa kita dapat menjadi seorang guide bagi warga asing dan itu turut mendukung program pembangunan kepariwisataan Kabupaten Lebak.

Ia mengatakan, untuk kegiatan pembelajaran di rumah bahasa berlangsung selama sepekan penuh. Mulai Senin sampai Jumat mulai pukul 15.00 WIB hingga 17.00 WIB, dilaksanaan di Ruang Rumah Bahasa Disdikbud Lebak, sedangkan Sabtu dan Ahad, dilaksanakan di Museum Multatuli Lebak.

Menurut dia, dirinya sebagai mentor atau relawan pengajar bahasa Inggris menerapkan metode pembelajaran klasikal seperti sorogan. Hal tersebut, untuk memudahkan peserta dalam memahami bahasa yang diajarkan, sekaligus penguatan literasi. “Literasi itu artinya melek, ya melek bahasa juga melek budaya,” ucapnya.

Ia menuturkan, kehadiran Rumah Bahasa untuk ke depannya dapat menyelenggarakan festival bahasa untuk membentuk penguatan pada layanan dan minat masyarakat terhadap bahasa asing.

Selain itu, pihaknya juga menunggu adanya volunteer (relawan) bahasa daerah Banten, seperti bahasa Jawa Serang, bahasa Sunda Baduy, bahasa Sunda Parahyangan, dan bahasa daerah lain, untuk bisa pemperkaya keberadaan Rumah Bahasa. Sebab, bahasa daerah juga dibutuhkan dan sangat penting untuk dilestarikan juga menjamin tidak punahnya bahasa daerah tersebut. (Nana Jumhana)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here