Ruh Hari Jadi Provinsi Banten

Oleh : Tubagus Najib

Provinsi Banten, walaupun usianya baru 19 tahun, namun seyogyanya telah matang, dibanding provinsi-provinsi lainnya yang sudah lebih dahulu berdiri. Kematangannya karena telah melalui proses panjang perjuangan menuju terbentuknya sebuah institusi. Sehingga Banten telah dikenal sebagai Imperium dan Emperium.

Status tersebut sebagai sumber semangat, sebagai spirit Provinsi Banten, untuk lebih unggul dibanding provinsi-provinsi lainnya. Hal itu telah disadari oleh Gubernur Banten terpilih tahun 2017- 2022. Dalam langkah awal memulai dari Banten Lama. Seakan ia tahu bahwa spirit Provinsi Banten ada di Banten Lama.

Prof.Dr. Uka Tjandrasasmita yang punya andil dalam menetapkan hari jadi Kabupaten Serang, ketika ditanya, kenapa hari jadi Kabupaten Serang pada tanggal 1 Muharram 933 H atau tanggal 8 Oktober 1526 M? Jawabannya singkat, agar hari jadi Kabupaten Serang memiliki ruh Kesultanan Banten.

Begitupun pada hari penetapan hari jadi Provinsi Banten, Prof. Dr. Imat Tihami mengusulkan yang sama untuk menghidupkan ruh Banten. Namun suara terbanyak jatuh pada tanggal 4 Oktober 2000, berdasarkan disahkan RUU Pembentukan Provinsi Banten. Tiga belas hari kemudian, tepatnya tanggal 17 Oktober 2000, RUU Pembentukan Provinsi Banten disahkan menjadi undang-undang.

Ada dua kasus salah bunda melahirkan. Yang pertama, hari lahirnya Kabupaten Serang yang lahir pada tahun 1816 namun dibuat dalam akta kelahirannya jatuh pada tahun 1526. Yang kedua hari jadi Provinsi Banten yang ditetapkan pengesahannya menjadi undang-undang pada tanggal 17 Oktober 2000, namun dalam akta hari jadinya ditulis tanggal 4 Oktober 2000.

Empat (4 ) Oktober 2000, merupakan baru semacam draf RUU yang belum menjadi undang-undang. Sebagaimana hari lahirnya kabupaten, juga hari jadinya provinsi patut ditinjau kembali.

Memang apalah artinya sebuah hari lahir atau hari jadi. Hari jadi menurut bahasa adalah saat pertama kali digunakan atau selesai dibuat atau diresmikan. Artinya bukan saat pertama diusulkan atau direncanakan tetapi pada saat pertama kali digunakan atau diresmikan. Resmi di sini adalah sudah menjadi kesepakatan hukum dan disahkan.

Namun persoalannya adalah suara terbanyak juga menjadi suatu kekuatan yang diperhitungkan. Hari jadi ada beberapa sumber dasar pijakan, selain undang-undang yang disahkan, sumber lainnya adalah; dari sumber prasasti, sumber manuscrip, sumber arsip dan sumber foklor. Seperti hari jadi Kabupaten Serang yang merupakan munculnya di masa Kolonial, sumber rujukannya adalah yang terdokumen dalam arsip Belanda.

Setelah masa Belanda, seperti berdirinya kota-kota administrasi, sumber rujukannya adalah undang-undang ketika ditetapkan sebagai kota. Demikian juga hari jadi provinsi, sumber rujukannya adalah ketika diundangkan sebagai berdiri sebuah provinsi. Persoalannya ada hari jadi provinsi, ada hari jadi kabupaten atau ada hari jadi kota administrasi, dan ada hari jadi sebuah kota. Hari jadi sebuah kota, prosesnya dari sebelum kota menjadi kota.

Hari Jadi Kabupaten Serang sesungguhnya untuk menetapkan awal mulai adanya kota di Banten, bukan sebagai hari jadi dimulai berdirinya sebuah kabupaten. Sehingga Kabupaten Serang usianya dituakan dalam aktanya.

Menurut Prof.Dr. Uka Tjandrasasmita, sebagai salah seorang yang membidaninya, “agar Kabupaten Serang memiliki ruh Kesultanan Banten”. Kesultanan Banten sebagai ruh yang diperebutkan, sesungguhnya kapan hari jadinya? Pada masa kesultanan, hanya ada dua referensi yang ditelusuri untuk mencari kapan hari jadi Kesultanan Banten, yaitu sumber prasasti dan sumber manuscrip.

Tentu harus kita bedakan Banten sebagai status kerajaan dan Banten sebagai status kesultanan. Banten sebagai status kerajaan hari jadinya sudah dikonversi ke hari jadi Kabupaten Serang tanggl 1 Muharram tahun 933 H atau tanggal 8 Oktober 1526 M. Bagaimana dengan Banten yang telah menyandang status kesultanan. Kapan hari jadi Kesultanan Banten. Kapan Banten menyandang status sultan dan keratonnya disebut kesultanan.

Berdasarkan sumber manuscrip, Banten menyandang Status Sultan pada tanggal 12 Rabiul Awwal 1044 atau 7 Oktober 1634. Ditetapkan oleh Syarif Jahed dari Mekkah, sebagai penguasa Mekkah pada saat itu. Hingga saat ini maulid di Banten, merupakan peringatan yang sangat meriah, yang awalnya sebagai bentuk memeriahkan status Banten sebagai kesultanan yang bertepatan dengan Maulid Nabi Muhamamad SAW.

Namun perkembangan berikutnya yang tersisa diarak, dimeriahkan arak-arakan membawa pajang mulud, yang berisi, hiasan, nasi dan lauk pauk. Setelah dibagikan nasi dan lauk pauknya, menjadi nasi berkat. Kemeriahan peringatan status Banten sebagai kesultanan telah beralih peran menjadi arak-arakan nasi berkat.

Aneksasi institusi Banten telah berdampak luas, khususnya terhadap nama Kesultanan Banten, yang mulai muncul pada tanggal 12 Rabiul Awwal tahun 1044 atau tanggal 7 Oktober 1634 telah berakhir pada tanggal 22 Agustus tahun 1809 Nama Kesultanan Banten setelah runtuh ditetapkan menjadi Cagar Budaya oleh Kolonial Belanda sekitar tahun 1913, menjadi nama Old Banten atau Banten Lama. Peringatan ditetapkannya Banten sebagai kesultanan, dengan mengarak kebanggaan nama kesultanan berubah dengan mengarak nasi berkat. Yang diarak setiap bulan maulid.

Namun demikian, ruh Kesultanan Banten tetap hidup. “Banten Lama” mejadi tempat kunjungan wisata religi, bahkan hampir yang berkunjung ke Banten puas setelah berziarah dan lupa bahkan seakan-akan tidak ingin tahu tentang tapak-tapak, jejak-jejak Kesultanan Banten yang berada di sekitar makbaroh makam sultan. Ini menjadi tugas dan bagian dari revitalisasi Banten yang sedang berjalan untuk memberi informasi yang utuh tentang Banten Lama sebagai sebuah kawasan cagar budaya. Revitalisasi Banten kurang sempurna kalau hanya satu zoning yaitu zoning inti.

Padahal dalam Perda tahun 1990 bahwa Banten Lama, telah diatur dalam tiga zoning, zoning inti, zoning penyanggah dan zoning pengembang. Banten Lama terdiri dari beberapa situs monumental. Ada Situs Keraton, Situs Gedung Ijo, Situs Jembatan Rantai, Situs Rumah Cina, Situs Spelwijk, Situs Pangindelan, Situs Tasikardi, Situs Gapura Lawang Saketeng. Belum lagi situs yang masih diduga ada temuan yang masih berada di bawah tanah. Persoalan aktual muncul tentang Banten Lama.

Apakah disebut Banten Lama ataukah akan disebut Kesultanan Banten. Dalam diskusi tentang nama dalam forum Obrolan Mang Fajar tanggal 5 September 2018, usulan yang muncul adalah Eks-Kesultanan Banten. Munculnya usulan tersebut boleh jadi karena adanya forum-forum Kesultanan Nusantara atau implementasi dari revitalisasi yang telah berjalan.

Old Banten adalah sebuah nama bentuk perlindungan, pelestarian situs-situs yang berada di Banten Lama. Sebagai bentuk kompromi apakah bernama Banten Lama ataukah Kesultanan Banten, maka nama yang patut disandang adalah “Kawasan Situs Kesultanan Banten” (KSKB). KSKB memiliki dua nilai penting yaitu; Nilai Pelestarian dan Marwah Kesultanan. (Penulis adalah Peneliti pada Pusat Penelitian Arkeologi Nasional)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here