Rabu, 21 Februari 2018

RSUD Kabupaten Tangerang Dapat Tambahan Pasien Difteri

TANGERANG, (KB).- Penderita penyakit Difteri di Tangerang terus bertambah. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tangerang,  Pada Kamis (7/12/2017) menerima tiga pasien Difteri dari Kota dan Kabupaten Tangerang. “Kami dapat tambahan tiga pasien Difteri lagi,” ujar Kepala Bagian Humas RSUD Kabupaten Tangerang Ade Yudi Firmansyah, Jumat (8/12/2017).
Ade mengatakan tiga pasien yang yang datang itu berusia 25 tahun, 35 tahun dan 40 tahun. Mereka berasal dari Balaraja dan Rajeg Kabupaten Tangerang dan dari Kisamaun Kota Tangerang. Menurut Ade, saat tiba di rumah sakit kondisi pasien dalam keadaan panas tinggi dan sakit tenggorokan. “Mereka langsung dirawat diruang isolasi dan dilakukan penindakan vaksin difteri dan diberikan obat obatan,” kata Ade seraya menambahkan Pasien diisolasi selama 14 hari. Saat ini, lanjut Ade, RSUD Kabupaten Tangerang masih merawat enam pasien Difteri.

Bocah 6 Tahun Meninggal Dunia

Sementara itu seorang bocah berusia 6 tahun bernama Rustam dinyatakan meninggal dunia karena penyakit difteri. Sebelum meninggal, Rustam sempat mendapatkan penanganan khusus di RSUD Kabupaten Tangerang. Namun pada Kamis (7/12/2017) malam dia menghembuskan nafas terakhirnya. “Ada satu orang yang meninggal dunia karena penyakit difteri,” ujar Staf Humas RSUD Kabupaten Tangerang, Lilik.  Penyakit difteria adalah penyakit infeksi akut pada saluran nafas yang sangat menimbulkan kematian karena menyebabkan penyumbatan saluran nafas serta peradangan pada otot jantung.

Penyakit ini sangat mudah menular melalui percikan udara terutama pada individu yang tidak mendapat imunisasi lengkap. Sedihnya gejala penyakit tersebut sudah mewabah di Tangerang dan sekitarnya. “Pasien yang meninggal atas nama Rustam berusia enam tahun,” ucapnya. Rustam beralamatkan di Kampung Rawajati RT 01/RW 15, Rawa Rengas, Kosambi, Kabupaten Tangerang. Lilik menyebut pihaknya sudah memberikan pelayanan semaksimal mungkin terhadap pasien. “Kami langsung memberikan pelayanan dan diisolasi di ruangan khusus. Tapi nyawanya tidak terselamatkan,” kata Lilik.

Dikatakannya,  Difteri ini disebabkan oleh infeksi bakteri. Gejalanya seperti batuk, pusing, dan mual. Umumnya bakteri itu menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan. “Makanya kami dalam pemeriksaan benar – benar teliti, kalau dilihat di dalam tenggorokan sudah menjamur, itu sangat bahaya,” paparnya. Sementara Total kapasitas ruangan isolasi rumah sakit itu 11 pasien. Hingga Agustus-Desember RSUD Kabupaten Tangerang telah merawat 35 pasien Difteri, tiga diantaranya meninggal dunia. (DA)***


Sekilas Info

PDAM Tirta Benteng Gelar ”Gathering” dengan Wartawan

KELOMPOK Kerja Wartawan Harian Tangerang Raya (WHTR) kembali menggelar gathering di Pantai Anyer, Kabupaten Serang, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *