Revolusi Mental Dalam Pendidikan

Oleh: 

Dr. Budi Ilham Maliki, S.Pd., MM

Tidaklah bisa dipungkiri walau realitas mengingkari, pendidikan nasional kita sangatlah penting bagi bangsa ini. Melalui pendidikan nasional, kita sebenarnya bisa mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Lewat pendidikan nasional pula, kita sesungguhnya bisa mewujudkan berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi negara yang berdemokrasi, serta bertanggung jawab. Tetapi, mengapa dalam kenyataannya kita belum bisa, padahal umur bangsa ini sudah cukup tua.

Sedih terasa, pendidikan yang bernilai luhur dan mulia itu yang berperan memanusiakan manusia, kini dalam realitasnya diolok-olok, dicibir, ditampar, bahkan dijadikan kambing hitam atau biang keladi permasalahan bangsa. Padahal, hanya karena ulah para pelacur, pengkhianat, pembegal, dan penjahat pendidikan, sehingga pendidikan itu sampai bernasib demikian, bahkan dijuluki si pembusuk manusia.

Katakan ‘Tidak!’ untuk membiarkan pendidikan kita teraniaya begitu. Kita harus membela pendidikan itu agar kembali kepada kemuliaan dan keluhurannya sebagai pembebas bangsa dari pembinatangan dan kebinatangan. Kita jangan hilang kepercayaan dan membenci pendidikan itu karena terpengaruh dan tertipu oleh para pendistorsi pendidikan. Justru, kita harus jahit pendidikan itu, kita bersihkan dari kotoran-kotoran lemparan para penjahat dan pendistorsi edukasi.

Dengan cara apa kita bisa menolong penderitaan pendidikan kita itu, agar tidak lama kesakitan? Bagaimana kita bisa membebaskan pendidikan itu dari cengkraman para antagoninya? Ya, kita harus kobarkan keberanian melawan para antagonis atau penjahat pendidikan itu dengan senjata mentalitas yang dapat menaklukkannya. Kita serang mereka yang bersarang dalam diri kita. Kita serang mereka yang berada di rumah-rumah pendidikan yang selama ini mereka jadikan penjara bagi jiwa pendidikan.

Ya, kita harus melakukan revolusi dengan kekerasan mental yang berupa kuatnya kesadaran, keinsyafan, komitmen, kesiapan berubah, dan kerja keras untuk memerdekakan pendidikan dari penjajahan mentalitas setan yang menyelundup ke dalam diri kita maupun yang merasuk kepada saudara-saudara kita sehingga menjadi musuh-musuh pendidikan.

Sudah saatnya pendidikan nasional, kita jalankan peranan dan fungsinya secara hakiki, tanpa distorsi, tanpa anomali, tanpa inkonsistensi, dan tanpa antagonisme, sehingga bisa mencapai tujuan yang kita harapkan. Kerinduan kita terhadap sosok indah dan paripurna manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi negara yang berdemokrasi, serta bertanggung jawab.

Sudah saatnya tidak hanya sekadar lagu rindu, tetapi harus benar-benar menjadi aksi berlari untuk menggapainya. Mari kita revolusi mental negatif yang ada pada diri kita sekarang, yang menjadi penyakit sehingga kita tidak bisa mengejar kerinduan itu. Dengan mental sehat yang positif, konstruktif, dan kondusif sehingga kita mampu bertemu dengan kondisi yang dirindukan itu.

Yang lalu biarlah berlalu, sebagai sejarah bodoh yang memberi pelajaran kepada kita sehingga mau berubah jadi pintar. Maksudnya, praksis pendidikan yang anomalis, inkonsisten, antagonistis, dan kontaminatif-politis, di masa lalu yang telah membusukkan pendidikan kita sampai saat ini, harus kita jadikan sebagai pelajaran moral yang mencerdaskan spiritual kita untuk menginsyafi dan mengubah diri menjadi baik. Kita stop kezholiman edukasi terebut jangan sampai terjadi lagi di saat sekarang ke depan.

Hasil pendidikan kita sekarang yang menyakitkan bahkan mengancam kematian bangsa di masa mendatang, sungguh semestinya membuat kita sudah saatnya segera memperbaiki diri dan melakukan perubahan cepat untuk menyelamatkan bangsa ini dan sekaligus mencapai tujuan yang diharapkan. Untuk itu, kita perlu melakukan revolusi mental, mengubah cepat cara berpikir dan berperilaku yang menyesatkan dan mengubah cepat sifat-sifat mental yang mengeroposkan kekuatan bangsa dalam mencapai tujuan.

Tidak mudah memang, tapi bisa dimudahkan dari hal-hal yang kecil dan bisa dipercepat dengan kekuatan spiritual untuk segera meninggalkan yang salah dan bergegas melaksanakan yang benar, meninggalkan sifat-sifat buruk dan melaksanakan sifat-sifat baik.

Mari kita lakukan hal-hal berikut demi terwujudnya harapan kita bersama. Pertama, kegagalan pendidikan yang telah mengakibatkan terjadinya berbagai masalah kompleks multi dimensi bangsa kita sampai saat ini sudah saatnya kita insyafi dengan penyesalan yang sesungguhnya dan bertekad bulat meninggalkan segala mentalitas yang mengakibatkan gagalnya pendidikan. Serta membenci untuk kembali kepada mentalitas itu, seraya segera melakukan kebaikan-kebaikan progresif bagi kemajuan pendidikan dan bangsa ini yang dilandasi mentalitas yangbaik, benar, kreatif, produktif,dan berkarakter.

Kedua, perjalanan pendidikan kita selama ini sering dibegal kepentingan pribadi, kelompok, politik, ekonomi, dan kekuasaan. Sehingga pendidikan celaka di tengah jalan dan tidak selamat sampai pada tujuan yang sebenarnya. Oleh karena itu, sudah saatnya pendidikan kita jalankan dan kawal agar bergerak lurus dengan selamat pada tujuan yang sejatinya.

Ketiga, sekolah yang menjadi tempat atau lembaga penyelenggaraan pendidikan yang sejatinya dan diandalkan untuk mencerdaskan bangsa secara kaffah dan menjadi solusi bagi masa depan bangsa ini, justru realitasnya dipandang sebagai lembaga pembusukan manusia dan pembuat masalah bangsa. Oleh karena itu, saatnya kita membangun karakter pendidikan untuk pendidikan berkarakter, sehingga problematik dekadensi karakter bangsa yang merendahkan dan menerbelakangkan bangsa bisa kita hindari.

Keempat, selama ini kita sering mengganti lensa kacamata tanpa mengganti bingkainya. Sehingga diganti dengan lensa apapun tetap saja pola bingkai kacamata itu tidak berubah. Ya, itulah yang selama ini kita lakukan, terutama dalam dunia pendidikan kita. Kita sering melakukan pembaharuan di sana sini, tetapi karena main set, paradigma berpikir, atau mentalitas kita tidak berubah, maka segala pembaharuan itu tidak memberikan hasil yang bermakna bagi bangsa ini. Oleh karena itu, sudah saatnya kita melakukan perubahan dari hal yang mendasar ini, yakni paradigma atau mentalitas.

Kelima, kenyamanan berstatus quo, matinya kepedulian maju, dan hilangnya tenggang rasa kepada pihak yang menjadi objek penderita, itu membuat kita malas, lambat, atau sulit untuk segera move on melakukan perubahan. Sedangkan zaman mega kompetisi ini menarik kuat kita untuk cepat bangkit melakukan perubahan dan untuk cepat juga dalam melakukan perubahannya itu (cepat berubah dan berubah cepat). Oleh karena itu, sudah saatnya kita melakukan revolusi mental, terutama dalam pendidikan kita ini.

Keenam, tanpa ada pertobatan pendidikan bangsa yang sebenar-benarnya atas segala mentalitas busuk yang telah menghinakan pendidikan, revolusi mental dalam pendidikan akan sulit dilakukan. Oleh karena itu, kunci revolusi mental dalam pendidikan adalah menyesali kesalahan melaksanakan pendidikan dan bertekad meninggalkan kesalahan serta tidak akan pernah kembali lagi kepada kesalahan itu. Dengan segera melaksanakan kebaikan-kebaikan pendidikan yang dilandasi kekuatan spiritual, emosional, dan intelektual yang harmonis.

Sedangkan yang ketujuh, revolusi mental dalam pendidikan akan berhasil apabila menjadi komitmen, gerakan perjuangan, dan cita-cita kolektif bangsa ini. Oleh karena itu, saatnya kita bersatu melawan mental setan yang menjermuskan pendidikan bangsa selama ini hingga bangsa ini terkapar di dalam gelap dan kejamnya jurang antara harapan dan kenyataan. (Penulis, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Bina Bangsa)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here