Revolusi Hijab Generasi Milenial

Oleh : Sudaryono

Belakangan ini kita menyaksikan terjadinya perubahan besar pada konsumen kelas menengah muslim yaitu revolusi hijab yang terjadi secara massif di seluruh negeri. Mengapa disebut revolusi hijab? Hijab yang dahulu diasosiasikan sebagai busana kampungan, puritan, santri, dan identik ibu-ibu pengajian di kampung, saat ini berubah drastis menjadi tampil modern, stylish, dan fashionable.

Tidak hanya itu, dengan citra baru yang cool tidak heran jika jutaan muslimah kita kemudian berlomba-lomba mengenakannya. Fenomena baru inilah yang saya sebut sebagai revolusi hijab.

Dampak revolusi ini adalah orang semakin percaya diri mengenakan hijab karena sudah tidak identik sebagai busana kampungan sehingga semakin banyak orang yang memiliki kesadaran untuk mengenakannya.

Dengan citra baru yang modis dan trendi, kaum hawa merasa percaya diri menggunakan hijab saat pergi ke kantor, belanja ke mal, rekreasi, dan bersosialisasi dengan komunitas. Apabila kita cermati lahirnya fenomena revolusi hijab ini tidak lepas dari perubahan nilai-nilai yang terjadi pada konsumen kelas menengah muslim.

Menurut Yuswohady (2015), ada dua perubahan nilai-nilai yang paling mendasar pada konsumen kelas menengah muslim saat ini. Pertama, semakin pentingnya nilai-nilai religiusitas dalam kehidupan sehari-hari.

Hal ini bisa dilihat dari semakin pentingnya pilihan produk harus berlabel halal seperti makanan-minuman dan kosmetik. Kedua, terjadinya revolusi hijab karena didorong oleh cara berpikir yang semakin terbuka (open minded) pada konsumen kelas menengah muslim terhadap berbagai perubahan yang ada, seperti teknologi dan fesyen.

Cara berpikir yang semakin terbuka ini didorong oleh tingginya wawasan atau pengetahuan dan koneksi sosial yang luas. Keterbukaan cara berpikir berpengaruh terhadap pilihan produk yang semakin rasional dan memperhatikan kaidah-kaidah keagamaan.

Hasil survei Gallup di dunia (2009), Indonesia masuk dalam daftar 10 negara paling religius. Gallup menemukan bahwa 99 persen orang Indonesia menilai agama merupakan hal penting dalam kehidupan keseharian mereka. Gallup menyebut Indonesia sebagai paradox.

Mengapa? Hasil riset Gallup menemukan bahwa pada umumnya ketika suatu negara mengalami peningkatan pendapatan per kapita maka masyarakat di dalamnya akan semakin sekuler. Namun tatkala penduduk Indonesia semakin naik pendapatannya, mereka justru semakin religius.

Agama dinilai sebagai faktor penting dalam kehidupan sehari-hari mereka. Hal itu dapat kita lihat pada fenomena ini di berbagai hal, misalnya semakin banyaknya orang Indonesia mengenakan jilbab, tingginya kebutuhan musolla di berbagai fasilitas umum seperti mal, kafe atau restoran, tingginya minat masyarakat terhadap sekolah berpendidikan keagamaan, tumbuhnya industri yang sesuai dengan ketentuan syariah, sensitifnya isu label halal dalam makanan atau kosmetik, menjamurnya outlet atau online store hijab, maraknya dunia hiburan berbau keagamaan, ramainya Islamic Book Fair, dan lain sebagainya.

Apa dampaknya? Terjadinya revolusi generasi milenial adalah suatu bentuk kesadaran konsumen kelas menengah muslim terhadap penilaian pentingnya religiusitas dalam kehidupan mereka. Mereka merasa bahwa menampilkan identitas kemusliman dengan berhijab adalah hal penting dalam hidupnya sehingga sangat percaya diri mengenakan hijab untuk pergi ke kantor, mal, ataupun acara pesta lainnya.

Walaupun religiusitas itu kental dalam kehidupan konsumen kelas menengah muslim negeri ini, generasi milenial muslim menengah ini memiliki cara berpikir yang terbuka, modern, dan toleran.

Bentuk keterbukaan dan modernitas yang menonjol adalah semakin diterimanya busana muslim trendi, stylish, dan colorful. Generasi milenial muslim menengah ini semata-mata tidak melihat bahwa ajaran agama harus saklek diikuti.

Sebaliknya, mereka melakukan adaptasi terhadap perkembangan zaman yakni mengadopsi tren fesyen modern dan menampilkan wajah hijab yang stylish tanpa melanggar akidah agama secara hakiki. Akulturasi Islam dan modernitas dapat dilihat dari tren hijab yang mulai mengadopsi fesyen modern ala Barat seperti Threeva Style, Sarangheo Style, dan Bergo Eropa Zoya Style (Madyani, 2017).

Lahirnya era keterbukaan pada kalangan konsumen kelas menengah muslim tidak terlepas dari semakin tingginya wawasan atau pengetahuan dan luasnya pergaulan mereka. Umumnya mereka adalah lulusan sekolah menengah dan perguruan tinggi.

Di samping itu, mereka terkoneksi secara offline (komunitas) dan online (media sosial). Menjamurnya komunitas-komunitas para hijaber adalah cerminan koneksi sosial para pengguna hijab di tanah air untuk aktif mengampanyekan cool-nya menggunakan hijab, menyelenggarakan pengajian, kegiatan amal, arisan, tutorial hijab dan bahkan menyelenggarakan event pameran hijab.

Tatkala konsumen kelas menengah muslim semakin open mind dan koneksi sosial tinggi, mereka pun semakin toleran dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Dalam hal pengenaan hijab mereka mentoleransi setiap model ataupun tren hijab stylish yang dikenakan masyarakat.

Hasil survei kualitatif oleh Ikhwan Alim (2018) dikonfirmasi bahwa pada umumnya responden mengenakan hijab karena perubahan model busana muslim ke arah modern. Dengan begitu mereka dapat mengekspresikan diri dari sisi religiusitas maupun gaya berbusana.

Hijab yang mereka kenakan tidak sekadar melambangkan identitas diri sebagai muslim, melainkan juga menjadi cerminan sosok yang modern, cool, trendi, dan stylish. Di samping semakin modis hijab pun kini semakin terlihat keren karena mulai banyak dikenakan oleh para artis.

Banyak sederet nama artis yang baru-baru ini mengenakan hijab dan menjadi trendsetter seperti Marshanda, Dewi Sandra, Inneke Koesherawati, Zaskia Adya Mecca, Nuri Maulida, Zaskia Sungkar, Risty Tagor, dan lainnya.

Dengan banyaknya artis yang berhijab, banyak masyarakat yang mulai terdorong untuk mengenakan hijab. Ada banyak responden yang ditemui mulai menggunakan hijab karena merasa terdorong oleh artis yang menggunakan hijab.

Bagi para pengguna hijab, supaya bisa tampil modis dan trendi mereka sering memanfaatkan majalah, Instragram, Youtube untuk mengetahui tips dan cara pemakaian hijab model terbaru.

Tutorial cara pemakaian hijab adalah fenomena yang akhir-akhir ini sedang marak digunakan konsumen kelas menengah muslim. Cara pandang modern dan terbuka ini yang mendorong lebih lanjut perkembangan revolusi hijab di negeri ini. (Penulis adalah Rektor Universitas Banten Jaya)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here