Revitalisasi Sastra Angklung Buhun Baduy, Upaya Nyata Kemendikbud Lestarikan Budaya Adiluhung

KEBERADAAN komunitas masyarakat adat Baduy dengan berbagai jenis pantangan serta ragam tradisi adiluhung yang diwariskan sejak ratusan tahun lalu, memberikan warna dan ciri tersendiri bagi Kabupaten Lebak.

Salah satu warisan tradisi kesenian yang terus dijaga dari generasi ke generasi oleh masyarakat Baduy adalah kesenian angklung buhun yang merupakan salah satu kesenian yang dianggap sakral dan memiliki nilai khusus di dalamnya. Kesenian angklung buhun yang dipercaya sudah ada sejak terbentuknya masyarakat adat Baduy, yang biasanya hanya ditampilkan pada acara tertentu saja, terutama pada saat penanaman padi.

Angklung buhun ini dalam bahasa Sunda berarti ”angklung tua” atau ”angklung kuno” memiliki makna yang sangat penting dalam mempertahankan eksistensi dan menjadi salah satu pusaka masyarakat adat Baduy. Seiring perkembangan zaman, angklung buhun tidak lagi hanya dimainkan pada upacara sakral di bumi Baduy. Namun, sering dimainkan pada berbagai kegiatan lain di luar wilayah Baduy.

Untuk lebih memahami, melestarikan dan menjaga keberadaan kesenian khas daerah itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Kantor Bahasa Banten, menggelar kegiatan revitalisasi sastra angklung buhun yang diikuti oleh ratusan siswa SMA negeri dan SMA swasta di Kabupaten Lebak, awal pekan ini.

Ketua Pelaksana kegiatan Kemendikbud Kantor Bahasa Banten, Nondi Sopandi menjelaskan, kegiatan revitalisasi sastra angklung buhun dilaksanakan sebagai upaya untuk melestarikan dan menjaga keberadaan seni khas daerah sehingga tetap ada.

”Melalui revitalisasi sastra angklung buhun ini tentu kami harapkan para peserta yang terdiri dari siswa SMA di Kabupaten Lebak ini dapat mengetahui lebih jelas apa itu angklung buhun sekaligus juga dapat memainkan dan mempraktikkannya,” kata Nondi, Rabu (7/2/2018).

Guna lebih memahami keberadaan angklung buhun, ujar Nond, pihaknya mendatangkan langsung para pemandu dan pemain angklung buhun asli dari Baduy yang dipimpin langsung oleh Sarpin. ”Mereka kami undang untuk mempraktikkan dan menjelaskan secara langsung seni angklung buhun ini kepada peserta siswa SMA yang ada di daerah ini,” ucapnya

Ia menyebutkan, melalui revitalisasi sastra angklung buhun ini, diharapkan keberadaan angklung buhun sebagai warisan budaya asli daerah Banten dapat didokumentasikan sehingga tidak punah, karena ini juga menjadi arsip nasional untuk disimpan.

Sementara itu salah seorang pemandu atau seniman angklung buhun dari Baduy, Kendut menjelaskan, permainan seni angklung buhun ini dimainkan oleh 12 orang sedangkan alat atau tetabuhan angklung buhun ini namanya bermacam-macam.

Antara lain bedug, kalinting, ketik, indung ringkong, dongdong, kunjing, engklok, indung leutik, torolog, roel. Ia menambahkan, angklung buhun ini merupakan warisan budaya Baduy yang sudah ada sejak dahulu kala dan dari generasi ke generasi sudah pasti akan tetap ada dan dilestarikan masyarakat suku Baduy. (Nana Djumhana) ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here