Reuni Nabi SAW di Atas Langit (Sebuah Kontemplasi Mikraj)

Fauzul Iman, Rektor UIN SMH Banten.*

Fauzul Iman

Misi Nabi Muhammad SAW sebagai Rasulullah dalam melanjutkan ajaran para nabi sebelumnya telah membuahkan hasil yang sangat spektakuler. Selama 23 tahun misi itu dijalankan tidak pernah sunyi dari kecamuk cobaan/tantangan dan penderitaan. Cobaan yang paling memberatkan nabi tidak sekadar ancaman kejiwaan tapi juga serangan fisik dan ancaman pembunuhan yang amat histeris.

Sebagai pemegang komitmen amanah Tuhan, nabi tidak pernah membalas ancaman itu dengan serangan balik kemarahan apalagi dengan dendam brutalisme. Ia justru menyikapinya dengan pribadi kebumian berupa tuntunan keharmonisan dan akhlak tinggi. Semua komponen sosial kebudayaan muda tua, miskin kaya, muslim dan kafir Qurais dihadapi dengan norma kebumian yang sama.

Nabi tidak pernah menghindar apalagi mundur dari misi dakwah. Segenap segmen baik kawan maupun lawan ia peluk dan rangkul. Selama hidup di bumi nabi sangat mengenal kaidah kehidupan kebumian yang demikian complicated dan tendensius. Terdapat pihak yang santun dan taat pada nabi.

Ada yang ingin disanjung dan menyanjung. Ada juga pihak yang mencari muka dan yang selalu memusuhi dengan cara biadab. Demikian pula ada pihak yang berkepentingan saling mengejar status kedudukan serta kehidupan umat yang hanya senang mengumpulkan materi.

Kompleksitas kebumian ini pernah diprotes malaikat mengapa Tuhan menciptakan munusia di bumi yang kerjanya hanya melakukan perusakan dan pertumpahan darah. Tuhan justru menjamin manusia dengan anugerah akal kekhalifahan yang akan dipikul oleh manusia guna mengelola bumi.

Inilah yang membuat Sutan Takdir Ali Sahbana, pemikir sekuler Indonesia, insaf menjalani keislamannya setelah mengagumi kekhalifahan bumi sebagai mujizat besar dari Tuhan. Tanpa khalifah kemanusiaan, demikian Takdir Ali Sahbana, dunia akan kering kerontang dari peradaban.

Melalui anugerah kekhalifahan inilah Nabi SAW melakukan kecerdasan konektif dengan memetakan detail- detail program manajerial yang meneduhkan umat. Tanpa melalui emosi brutal, nabi mengonsolidasi umat dengan dialog dan pendekatan egaliter.

Ketika konglomerat dari Quraish kafir ingin melakukan deal- deal sentimental dan sensitif, nabi memenuhinya dengan perundingan diplomatik sehingga sempat ditegur Tuhan karena nabi tidak meladeni seorang kakek tua yang ingin mendapatkan pelajaran keagamaan yang lebih mendalam. Peperangan terjadi hanya lah untuk membela nyawa peradaban dari kekerasan pelanggaran dan serangan musuh yang tak pernah henti dan melampaui batas.

Kasus lain, nabi tidak berpegang secara dogmatik terhadap penolakan kafir Quraish tentang dibubuhkannya kalimat Muhammad dalam perjanjian Hudaibiyah. Langkah cerdas nabi justru lebih menyepakati poin lain dalam perjanjian yang paling strategis dan perspektif sehingga nabi dengan umatnya mencapai kemenangan yang gemilang.

Tantangan di era kebumian memang tidak hanya sampai disitu nabi mengalaminya. Penderitaan yang paling tragis dialami Nabi saat melakukan serangkaian hijrah ia selalu saja diteror, dikepung dan diancam dihabisi nyawanya. Saat menuju Thaif, nabi ditolak dengan cara kejam dan dilempar batu hingga terluka dan bercucuran darah. Namun sebagai minijer kalbu yang sangat tangguh, Nabi tetap mampu mengelola tantangan berat itu dengan akal sehat dan tenang.

Bahkan kesediaan malaikat menawarkan secara serius pada nabi untuk membalas kebiadaban kaum Thaif, sebagai jawabannya nabi dengan tenang mendoakan, “Ya Allah berilah petunjuk pada kaumku ini karena mereka belum mengerti dan memahami”.

Sikap dan kepribadian Nabi seperti inilah, menurut William Montgomery Watt dalam bukunya Bell’s Introduction to the Quran, semakin membuktikan bahwa Muhammad adalah benar sebagai utusan Allah yang berakal tenang/sehat tidak ayan apalagi gila.

Reputasi bumi nabi dengan segala penderitaannya yang telah dicapai dengan tenang. Belakangan ditambah dengan duka yang amat mendalam terutama setelah ditinggal oleh kematian Khadijah istri paling setia di kala suka dan duka. Kematian Abu Thalib, paman nabi , penyekong besar dakwah dan pengasuh nabi sejak ditinggal ibunya makin menambah deretan duka yang tak terlupakan.

Dalam kondisi inilah nabi dimikrajkan. Menurut sufi , nabi yang telah mencapai reputasi perjalanan bumi dengan tenang masih dipandang bernilai rendah. Reputasi yang paling tinggi, menurutnya, adalah reputasi perjalanan langit. Di mikraj langit inilah nabi melakukan reinventing intelektual dengan para senior nabi semacam reuni untuk mendapatkan apresiasi dan keluhuran spiritual.

Di atas langit Nabi SAW membangun dialog dan tukar pikiran dengan para nabi senior untuk mendapatkn legacy pengalaman spiritual dan informasi penting dalam rangka melanjutkan aktivitas kebumian mendatang.

Di Masjid Aqsha menjelang mikraj ke langit Nabi SAW diapresiasi oleh nabi senior untuk mnjadi imam salat. Apresiasi kepada nabi junior ini menunjukkan kearifan para senior dalam memposisikan dan memberi kesempatan ( tidak menghalangi) juniornya melanjutkan kepemimpinannya.

Perintah salat

Di Sidratul Muntaha, nabi diantar Malaikat Jibril untuk melihat dari dekat (empiris) tentang gambaran kebahagiaan di surga dan tentang gambaran kesengsaraan di neraka. Setelah secara empiris nabi merekam gambaran fantastik mengenai surga dan neraka yang tak terhingga tandingannya di bumi, Nabi segera diajak Jibril untuk bertemu dengan Tuhan. Pertemuan Nabi dengan Tuhan membuahkan hasil yang paling ultimate dan prospektif dalam upaya membangun harmoni dan spiritual kreatif kehidupan yaitu berupa perintah wajib salat lima waktu.

Perintah salat ini pada mulanya diwajibkan Tuhan sebanyak lima puluh waktu dalam sehari. Berkat saran dari seniornya, Nabi Musa, Nabi SAW menghadap kembali ke Tuhan untuk meminta keringanan sehingga perintah salat diturunkan menjadi lima waktu sehari setelah Nabi SAW berulang-ulang menghadap Tuhan.

Keringanan perintah salat yang diberikan dalam figurasi Tuhan di satu sisi. Saran Nabi Musa selaku senior dan Nabi SAW sebagai yang diamanahi perintah salat di sisi lain. Figurasi ini menggambarkan bawa Tuhan Zat Yang Maha Arif, demokratis dalam arti tidak membebani perintah dengan berat kepada hamba-Nya. Figurasi lain adalah Nabi Musa selaku senior turut serta mengayomi dan membimbing juniornya.

Sementara Nabi SAW selaku junior sangat menghargai seniornya untuk menerima masukan- masukan yang sangat positif. Inilah konfigurasi prospektif reuni Nabi SAW di atas langit dengan para nabi seniornya yang telah menghasilkan bekal kewajiban salat sebagai ibadah yang sangat inti dari Tuhan Yang Maha demokratis.

Perintah salat ini kemudian menjadi bernilai lebih dibanding dengan ibadah lainnya. Jika ibadah haji dalam kondisi darurat bisa digantikan dengan bentuk badal atau ditunda dan puasa bisa digantikan dalam waktu yang berbeda. Sementara salat tetap dilakukan tanpa bisa ditunda. Ini menunjukkan salat mengandung hikmah terbesar dalam membentengi kekuatan, kesabaran dan ketangguhan pribadi untuk mencapai derajat kemenangan hidup.

Kesuksesan besar telah dibuktikan oleh Nabi SAW justru setelah mendapatkan perintah salat dari mikrajnya ke langit berupa kesuksesan menaklukkan Kota Mekah dan kesuksesan hijrah dalam upaya membangun peradaban di Kota Madinah.

Alexis Carrer dalam bukunya Man, The Unnkown mengakui kedahsyatan hikmah salat dengan menyatakan bahwa apabila pengabdian, doa dan salat yang tulus disingkirkan dari tengah kehidupan umat, berarti telah menandatangani kontrak bagi kehancuran umat tersebut.

Pandangan yang sama spektakulernya adalah Jhon Renard dalam bukunya In The Foot Step of Muhammad : Understanding the Experience, sebagai pernah dikutip Azyumardi Azra, Isra Mikraj adalah satu dari tiga perjalanan terpenting dalam sejarah hidup Rasulullah selain perjalanan hijrah dan haji wada. Menurutnya, benar-benar merupakan perjalanan heroik dalam menempuh kesempurnaan dunia spiritual. Wallahu A’lam. (Penulis, Rektor UIN SMH Banten)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here