Relokasi SD Terdampak Tol Serang-Panimbang, Pandji Tirtayasa: Bareng Peresmian Tol

Pandji Tirtayasa, Wakil Bupati Serang.*

SERANG, (KB).- Wakil Bupati Serang Pandji Tirtayasa mengatakan, proses relokasi empat sekolah dasar negeri (SDN) terdampak pembangunan Tol Serang-Panimbang di Kecamatan Cikeusal dan Kragilan akan dilakukan bersamaan dengan peresmian tol tersebut.

Saat ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) tol sudah memiliki memorandum of understanding (MoU) kepastian relokasi.

“Jadi, bersamaan launching jalan tol dan penggunaan sekolah baru. Karena, kami lihat situasi keuangan mereka juga, sebelum ada pengganti (gedung SD) tidak akan dibongkar,” katanya kepada Kabar Banten saat ditemui di ruang kerja, Jumat (25/10/2019).

Ia mengatakan, saat ini proses pembangunan dipastikan tidak akan menggangu aktivitas belajar siswa. Sebab, pengerjaannya sudah lewat ke arah Pandeglang.

“Tapi, ketika sudah operasi itu kami pastikan bangunan sudah bisa difungsikan. Pelaksanaannya (relokasi) selama belum operasi enggak apa-apa kami masih di situ (di gedung lama), ketika jalan tol sudah operasi itu (SD baru) sudah terbangun,” ujarnya.

Ia menuturkan, untuk lahan saat ini sudah ada empat titik yang ditetapkan. Prosesnya sedang diukur oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) terkait berapa luas lahan yang akan direlokasi tersebut.

Setelah itu, pihak tol akan bernegosiasi dengan pemilik tanah. Sebab, dalam hal tersebut, Pemkab Serang tidak menerima ganti rugi dalam bentuk uang, melainkan bangunan.

“Sekarang mereka minta diukur saja luas eks (bekas) lahan. Sekarang BPN sedang menghitung, jadi sesuai lahan awal. Kalau awal empat ribu meter persegi berarti dapat empat ribu luasnya,” ucapnya.

Ia menargetkan pengadaan lahan akan selesai akhir tahun ini. “Kami hanya siapkan titik relokasi, mereka yang membebaskan dan bangun sudah ada kesepakatan itu. Lahannya enggak jauh (dari bangunan awal) kan itu melayani permukiman setempat, kalau jauh nanti diprotes warga,” tuturnya.

Disinggung soal lamanya proses relokasi, dia mengatakan, selama ini yang menjadi kendala, yakni proses negosiasi yang alot. Sebab, awalnya mereka hanya ingin merelokasi dua SD saja. Namun, pemkab bersikeras harus empat SD yang direlokasi.

“Sekarang sudah ada kesepahaman. Awalnya yang tidak kesabet mereka enggak mau (ganti). Padahal, pengaruh juga terasa, jaraknya (SD) tujuh meter ke jalan tol dan kebisingannya 40 desibel. Kalau rumah biasa enggak terganggu, tapi sekolah butuh konsentrasi,” katanya.

Kendala lain, ujar dia, proses pencarian tanah dilakukan oleh pemkab. Ketika sudah ketemu titiknya, pemilik lahan menginginkan harga ganti rugi yang mahal, sehingga pemkab kesulitan mencari lokasi.

Ia optimistis, pihak tol akan menepati janji untuk merelokasi SD terdampak sesuai kesepakatan. “Enggak mungkin (kabur) kan kami ikat perjanjian, rusak citranya apalagi yang dibohongi pemda (kalau ingkar janji),” ucapnya. (DN)*

1 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan ke Fahri Hamzah Batal balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here