Rekonstruksi Teologi Banjir

Dr. Ahmad Tholabi Kharlie.*

Dr. Ahmad Tholabi Kharlie

Mengawali tahun 2020, banjir kembali melanda Ibu Kota Jakarta dan sejumlah daerah di tanah air. Bencana yang kini mengharu-biru wacana publik itu benar-benar membuat kita sadar betapa rapuhnya perencanaan infrastruktur dan sistem penanggulangan bencana yang dimiliki.

Pada musim penghujan tahun ini, di beberapa daerah, termasuk Ibu Kota Jakarta, ancaman banjir kembali mengintai dan siap menenggelamkan wilayah-wilayah rawan banjir. Peristiwa teranyar baru saja terjadi dan telah memorak-porandakan sebagian wilayah Jakarta dan Banten yang menelan sejumlah korban jiwa manusia. Pertanyaannya, akankah bencana itu terus berulang?

Telah menjadi pengetahuan umum, hujan merupakan fenomena alam (sunatullah) yang rutin terjadi dari tahun ke tahun. Patut disayangkan, kejadian yang bersifat periodik tersebut tidak pernah menyadarkan kita dan pemerintah, untuk berupaya melakukan serangkaian tindakan antisipatif yang bersifat permanen dan menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang di masa-masa yang akan datang. Agaknya, kita lebih suka berpikir pendek dan pragmatis. Apa yang terjadi pada saat ini, maka pada saat itu pula dicari solusi jangka pendek yang bersifat temporal.

Menyikapi kondisi semacam ini, agaknya hal terpenting yang patut kita perbuat saat ini adalah melakukan evaluasi diri yang dalam bahasa agama disebut “muhasabah”. Yakni mengukur seberapa jauh perlakuan kita terhadap alam dan Tuhan. Sebab, tak mungkin ada asap jika tidak ada api, tak mungkin terjadi bencana banjir jika tidak ada sebab yang melatarbelakanginya.

Fenomena alamiah

Dalam penalaran ilmiah, banjir diidentifikasikan sebagai sebuah peristiwa alamiah yang terjadi mengikuti hukum alam yang berlaku. Oleh karena itu, proses kejadiannya dapat dipikirkan berdasarkan hukum alam dan dapat diantisipasi secara preventif berdasarkan kaidah-kaidah hukum alam pula. Dari sudut pandang ini, maka faktor manusia sebagai relasi langsung dengan alam, menjadi variabel yang sangat menentukan. (Mujiyono Abdillah: 2001) Oleh karena itu, fenomena ini akan sangat bergantung kepada perlakuan manusia terhadap alam.

Maka tak heran jika kemudian muncul sebuah rasionalisasi berkenaan dengan bencana banjir: banjir sering kali dianggap sebagai akibat dari ulah manusia yang tidak ramah terhadap lingkungannya. Harus diakui, sebagian kita memang sudah sangat tidak bersahabat dengan alam.

Kita selalu ingin mendapat keuntungan sebanyak-banyaknya dari alam, tanpa peduli dengan kondisi alam. Logikanya, wajar jika kita menuai perlakuan yang buruk pula dari alam, sebagai konsekuensi logis dari sikap kita. Padahal alam diciptakan untuk dipelihara dan diambil manfaatnya untuk kemaslahatan umat manusia. Demikian pernyataan Allah dalam salah satu firman-Nya.

Dalam perspektif lain, banjir juga dinyatakan sebagai sebuah fenomena mistik. Oleh karena itu, proses kejadiannya tidak dapat dipikirkan secara rasional ilmiah. Sebaliknya, banjir diyakini sebagai peristiwa yang penuh misteri, sehingga kejadiannya tidak dapat diantisipasi dengan pendekatan ilmiah, melainkan harus ditempuh melalui pendekatan-pendekatan yang bersifat mistik pula.

Dalam perspektif ini agaknya tidak berlebihan jika kita mencoba menggunakan sebuah terminologi yang cukup normatif. Bahwa fenomena banjir erat kaitannya dengan konsep “balasan” dalam doktrin keagamaan. Dengan kata lain, peristiwa-peristiwa yang mengakibatkan penderitaan, baik fisik maupun mental manusia, biasa kita sebut sebagai bentuk kemurkaan dan kemarahan Allah terhadap hamba-hamba-Nya yang berdosa. Sikap pembangkangan dan kedurhakaan makhluk terhadap Tuhannya dapat berakibat turunnya azab atau siksa sebagai peringatan langsung dari Allah agar menjadi pelajaran bagi umat-umat yang akan datang.

Rekonstruksi teologis

Jika kita mau bercermin dalam sejarah, fenomena banjir sesungguhnya bukanlah hal baru. Kejadian serupa juga menimpa suatu komunitas besar bahkan terkadang menimbulkan dampak yang jauh lebih dahsyat ketimbang peristiwa-peristiwa serupa pada masa modern seperti saat ini.

Kisah-kisah kehancuran umat nabi-nabi terdahulu-sebagaimana diekspose secara lugas oleh Allah melalui ayat-ayat-Nya-menunjukkan bahwa kehancuran suatu bangsa menjadi niscaya atas kehendak Allah disebabkan penentangan mereka secara terbuka terhadap ajaran agama Allah SWT.

Telekisah banjir legendaris yang digambarkan sebagai “musibah internasional” ditayangkan ulang di dalam Alquran dalam berbagai episode. Ekspose banjir yang cukup populer dalam Alquran adalah kisah banjir Nabi Nuh As, yang terekam alurnya dalam Alquran surah Hud ayat 32-49, banjir Nabi Hud As. dalam Alquran surah al-A’raf ayat 65-72, dan banjir bandang di Negeri Saba’ yang diabadikan dalam Alquran surah Saba ayat 15-16.

Secara konvensional, ayat-ayat banjir yang terdapat di dalam Alquran menyusup dalam konsep teologis bahwa banjir merupakan fenomena kemarahan Allah atau fenomena musibah dari Allah. Banjir diyakini sebagai sebentuk kemurkaan Allah pada umat manusia dikarenakan mereka tidak mau menerima ajaran para Rasul untuk mengikuti ajaran Tuhan, maka Allah menurunkan azab berupa banjir sebagai ekspresi kemurkaan-Nya.

Seperti dalam firman-Nya, “Mereka mendustakan Allah, maka Kami selamatkan Nuh dan pengikutnya dengan naik kapal dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustai ayat-ayat Kami, sesungguhnya mereka adalah komunitas yang buta.” (Qs. Al-A’raf: 64) atau dalam bagian lain Tuhan berfirman, “Maka Kami selamatkan Hud dan pengikutnya dengan kasihku dan kami musnahkan orang-orang yang mendustai tanda-tanda Kami. Mereka bukan termasuk orang-orang yang beriman.” (Qs. Hud: 58)

Berdasarkan dua ayat epilog tersebut, melempangkan jalan untuk merumuskan suatu teologi banjir konvensional tradisional, yakni teologi banjir yang determinis. Teologi ini menggambarkan banjir sebagai bentuk kemurkaan Allah disebabkan manusia enggan menerima kehadiran Tuhan dalam dirinya.

Persoalannya, apakah konsep teologi banjir konvensional semacam ini masih relevan untuk masa kini? Dalam pandangan saya, pengertian banjir konvensional tradisional semacam ini menjadi niscaya, manakala saat ini kita mulai melupakan Tuhan. Dalam arti kata lain, kita sudah mulai meninggalkan tuntunan-tuntunan agama yang digariskan oleh Allah lewat Rasul-Nya, baik menyangkut ajaran-ajaran tauhid, ibadah, maupun muamalah dalam lingkup global, yang juga mencakup konsep berinteraksi dengan lingkungan.

Saat ini, banyak di antara kita, terutama di kota-kota besar, menunjukkan gejala-gejala negatif semacam itu. Sebagian kita telah menjadi sosok-sosok yang serakah, tamak, dan rakus terhadap hal-hal yang bersifat duniawi. Apapun yang kita lakukan seakan harus selalu mendatangkan keuntungan materi, sehingga kita terjerembab ke dalam praktik-praktik hedonisme, fandalisme, anarkisme, dan sebagainya. Kita seolah telah melupakan sisi kehidupan yang jauh lebih penting dan abadi, yaitu kehidupan di akhirat.

Jika demikian halnya, maka tidak mengherankan jika terjadi praktik-praktik kontraproduktif yang dilakukan manusia terhadap lingkungan sebagai ekses dekadensi moral yang tengah terjadi. Dalam arti kata lain, telah terjadi siklus atau hubungan sebab akibat, antara moralitas masyarakat dengan bencana yang menimpa.

Namun demikian, kita dapat saja merumuskan sebuah pemikiran tentang konsep neoteologi banjir yang tidak mengartikan fenomena banjir sebagai bentuk kemurkaan Allah terhadap umat manusia. Banjir bukan sekadar musibah yang datang dari Allah. Akan tetapi, banjir lebih merupakan fenomena ekologis yang disebabkan perilaku manusia dalam mengelola lingkungan bertentangan dengan “Sunah” lingkungan.

Adapun kerangka acuan teologisnya adalah didasarkan pada catatan ayat-ayat banjir dalam Alquran, “Bukanlah Kami yang menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, citra lingkungan mereka tidak mampu menolong di saat banjir, bahkan mereka semakin terpuruk dalam kehancuran”. (Qs. Hud: 101)

Refleksi neoteologi banjir yang demikian itu akan melahirkan sikap ekologis yang positif dan pertanggungjawaban manusia terhadap kejadian banjir. Karena manusia adalah faktor dominan dalam pengelolaan lingkungan yang potensial menjadi penyebab banjir, maka manusia menjadi makhluk yang paling bertanggung jawab terhadap fenomena terjadinya banjir, sekaligus bertanggung jawab pula untuk mencegah kejadian ini.

Dengan melakukan rekonstruksi pemikiran teologi tentang banjir, yakni dari teologi konvensional ke teologi yang tercerahkan, insya Allah, kesadaran akan pentingnya memelihara alam (lingkungan) dan pembangunan pola hubungan yang simbiosis mutualis antara manusia dan alam akan menjadi kenyataan. Dengan begitu, banjir tidak akan lagi menjadi hal yang merisaukan. Semoga. (Penulis, Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here