”Reinventing” Peradaban Banten

Peradaban unggul memiliki beberapa ciri, antara lain: berbasis pengetahauan, mendunia, dominan, dan powerfull. Di Banten, empat ciri peradaban unggul tersebut dapat dipersonifikasi dengan tokoh-tokoh pahlawan asal Banten, yakni Syeikh Nawawai Al-Bantani (ilmuan kelas dunia yang menjadi rujukan kaum terpelajar); Syeikh Yusuf (ahli tasawuf yang menginspirasi gerakan damai bangsa Asia-Afrika dalam melawan imperialisme); Sultan Ageng Tirtayasa (pemimpin negara yang membawa kejayaan Banten dengan politik dagang dan pembangunan ekonomi pertanian); dan KH. Wasid (tokoh kuat yang disegani dalam menggerakkan revolusi sosial). Keempat tokoh inspirator peradaban Banten di atas berpusat di masjid dalam suatu lingkungan pusat kota yang disebut “Kasunyatan”.

Dalan tradisi mistik Jawa, kasunyatan berarti esensi Nur Muhammad. Ilmu kasunyatan menekankan pada esensi dan bukan ritual Islam. Esensi Nur Muhammad adalah eling dan penyatuan diri dengan Tuhan – manunggaling “kaulo-Gusti”. Orang yang mencapai ilmu kasunyatan menjalankan meditasi tasawuf untuk menyatu dengan Tuhan. Pada tingkat ini, Syeikh maulana Yusuf – ulama asal Makassar yang tumbuh dan berjuang di Banten – mengingatkan untuk tidak mengabaikan syariat yang mengantarkan pada sikap zindik.

Dalam perspekif ini, Syeikh Yusuf membagi lapisan masyarakat menjadi lima: (1) orang kafir yang menolak ajaran Islam, (2) Muslim awam yang bersyahadat, namun tidak menjalankan syariat sepenuhnya, (3) Muslim khowas, yang telah menjalankan syariat Islam sepenuhnya, tetapi belum menyadari konsekuensinya, (4) Muslim istimewa yang mengamalkan tasawuf sesuai syariat dan menyadari maqoshid syariah yang dijalaninya, dan (5) orang yang menjalankan meditasi tasawuf dan meyadari kehadiran Tuhan pada setiap wujud, namun meninggalkan syariat. Pada lapisan kelima inilah ilmu kasunyatan yang berkembang dalam mistik Jawa. Kelompok pertama dan kelima tidak sesuai dengan Islam, sedangkan kelompok kedua dan ketiga perlu kembali mempelajari Islam dari seorang guru spiritual yang disebut “syekh”. Kelompok Muslim yang diharapkan adalah kelompok pada lapisan keempat.

Berbeda dengan tradisi mistik Jawa, Kasunyatan di Banten berarti pusat kota Islam yang dikendalikan oleh masjid dan semangat entrepreneurship. Esensi kota Islam adalah masjid. Menurut Houroni, sebuah kota Islam yang ideal, meliputi lima komponen, yakni (1) benteng, (2) masjid dan sekolah keagamaan, (3) istana dan tempat permukiman kaum bangsawan, (4) pusat permukiman warga pribumi, dan (5) pinggiran kota tempat permukiman para pendatang. Kota Islam, terdiri dari masjid dan madrasah (sekolah Islam), pusat pemerintahan, alun-alun, pasar, militer, dan rumah sakit.
Di Banten, Kasunyatan adalah pusat kota yang berpenduduk Muslim istimewa yang mengamalkan tasawuf sesuai syariat dan menyadari maqoshid syariah yang dijalaninya.

Kasunyatan adalah pusat pendidikan agama dengan bimbangan para syarif keturunan Arab atau syekh, guru sufi yang berpegang teguh pada syariat. Kasunyatan adalah city of intellect yang memiliki kemandirian finansial, di mana seluruh aktivitasnya lebih dipengarui oleh ide dan gagasan serta visi tentang masa depan dunia Islam, daripada dikendalikan oleh dana dan jaringan struktur. Banten sebagai city of intellect mewadahi makna simbolik sekaligus menjalankan semangat intelektualisme sebagai pusat kajian Islam dalam pentas nasional dan internasional. Hal tersebut terinspirasi oleh Syekh Nawawi yang dihormati sebagai guru dan imam masjid di Mekkah, pusat Islam; dan Syekh Yusuf yang menjadi guru kebhinnekaan bangsa-bangsa di Benua Asia-Afrika.

Syekh adalah guru spiritual yang berwenang memberikan pertimbangan kepada sultan dan berwibawa di kalangan umat sebagai tempat konsultasi dalam menyelesaikan berbagai persoalan. Syekh berkedudukan di masjid sebagai pusat kajian dan kebudayaan. Di masjid itu berhimpun ilmuan pendidik yang bertugas menyiapkan sumber daya insani dan kader kepemimpinan bangsa yang dibutuhkan oleh negara. Dalam pengertian baru, belajar dari guru bisa dilakukan dengan membaca karya intelektual dari guru dan penulis yang hebat serta dilakukan melalui pertemuan ilmiah. Maka, peradaban Banten sejatinya, adalah peradaban buku.

Peradaban yang mengantarkan warga masyarakat khususnya kaum muda terpelajar untuk menjalankan jihad intelektual, yakni “tafaqquh fid din” dalam berbagai perspektif. Tentu saja basisnya, adalah kajian Alquran, sunnah Nabawiyah, dan kitab kuning sebagaimana kepakaran “Syekh Nawawi”. Namun tafsir, syarah, dan pemahaman keagamaan yang dikembangkan bersifat inklusif, sehingga dapat diterima sebagai pemikiran dunia sebagaimana diteladankan oleh Syekh Yusuf. Dalam posisi tersebut, peradaban Banten memiliki kedudukan terhormat sebagai mesin pencetak ilmu dan penemuan teknologi, sekaligus pengarah yang memberi pertimbangan bagi pemerintah dan umat. Inilah ikon Banten sebagai pusat kebudayaan Islam di nusantara.

Pada taraf praksis, peradaban Banten mewadani makna simbolik “Sultan” dan “Jawara”. Hal tersebut terinspirasi oleh sosok Sultan Ageng Tirtayasa yang dihormati hingga kerajaan Inggris – pusat Kristen saat itu yang menguasai dunia; dan KH. Wasid yang terus bersemangat memompa energi rakyat dalam menggelorakan semangat jihad.  Sultan adalah eksekutor yang wajib melaksanakan hukum dan kehidupan sesuai syariat Islam dalam rangka mewujudkan masyarakat yang tertib, adil, dan sejahtera. Sultan berkedudukan di Surosowan sebagai kepala negara dan pemerintahan yang bertugas memimpin dan melayani seluruh rakyat.

Dalam hal tersebut didasarkan pada doktrin, bahwa ilmu bukan hanya wacana. Ilmu harus diamalkan! Tafaquh fid Din harus berlanjut pada usaha menjalankan misi negara dan pemerintah dalam memberdayakan masyarakat, terutama dalam bidang ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Menjadi lokomotif gerakan revitalisasi masjid di seluruh wilayah Banten, mulai Masjid Raya, Masjid Agung, Masjid Besar, dan Masjid Jami’ di tingkat desa. Peradaban Banten membuka ruang komunikasi yang luas, yang memungkinkan terjadinya interaksi ulama, umara, dan umat dalam suasana kekeluargaan. Komunikasi bersifat kultural dan bukan struktural.

Kepemimpinan ulama dan umara mengedepankan musyawarah dalam proses pengambilan keputusan. Pendeknya, logika, alur, dan kepatutan lebih dikedepankan daripada kekuasaan dan aksi massa. Akhirnya, Peradaban Banten diharapkan mampu “menghidupkan” kembali roh “kasunyatan” sebagai konsep tata kota Islam yang terbuka dan ramah lingkungan, rahmatan lil alamin! Kota yang warganya bahagia, tidak mengalami kekeringan spiritual, kegersangan inteletuktal, dan keterbelakangan. Wallahu ‘alam. (Fadlullah, Ketua Masjid Kampus Untirta)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here