Refleksi Hari Sampah Nasional, Sampah Masih Menjadi Masalah

Front Aksi Mahasiswa Kota Cilegon menggelar refleksi Hari Peduli Sampah Nasional di Bunderan Landmark Simpang Tiga Kota Cilegon, Kamis (21/2/2019).*

SAMPAH menumpuk di Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Bagendung, Kota Cilegon. Hal tersebut menunjukkan, bahwa pengelolaan sampah hingga saat ini tidak mengalami perubahan yang signifikan.

Demikian diungkapkan para mahasiswa yang tergabung dalam Front Aksi Mahasiswa (FAM) Kota Cilegon saat menggelar refleksi Hari Sampah Nasional di Bunderan Landmark Kota Cilegon, Kamis (21/2/2019).

Dalam aksinya, para aktivis FAM sempat membeberkan spanduk sambil melakukan orsi ajakan. Aksi tersebut, berlangsung sekitar 60 menit.

Ketua FAM Cilegon Faisal mengatakan, kegiatan dan pengelolaan sampah yang tidak kunjung selesai membuat pihaknya menggelar aksi nyata dan mengajak masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya serta mengurangi sampah plastik.

“Kegelisahan inilah yang menggerakkan kami dari FAM untuk menggelar aksi dan mendukung Indonesia Bebas Sampah 2020 terbentuk,” katanya.

Ia menuturkan, pihaknya mengikuti isu yang berkembang mengenai sampah. Bahkan, sampai dengan saat ini ada 13 isu utama persampahan di Indonesia, yaitu melalui pendidikan formal nonformal, solusi sampah di tanah atau ruang yang tidak semestinya, upaya pengurangan sampah.

“Solusi sampah organik, strategi keberlanjutan, teknologi tepat guna, solusi sampah anorganik, strategi pembiayaan dan tempat pembuangan sampah akhir (TPSA) yang kondisinya saat ini memprihatinkan. Karena, ada beberapa lahan yang tidak rata dalam penyebaran sampah,” ujarnya.

Penanggulangan sampah, ucap dia, merupakan tanggung jawab bersama bukan milik pemerintah. Untuk itu, tutur dia, dia meminta kepada pemerintah menindak tegas atau serius dalam menerapkan pasal tentang membuang sampah sembarangan yang mengakibatkan sejumlah daerah di Kota Cilegon banjir.

“Pernyataan sejumlah kepala Kecamatan di Kota Cilegon, bahwa penyebab banjir yang paling dominan, adalah banyaknya sampah merupakan salah satu bukti, bahwa kesadaran dalam membuang sampah pada tempatnya masih kurang. Kami meminta kepada Satpol PP untuk menindak tegas pembuang sampah sembarangan. Untuk itu, mari maknai HPSN lebih dalam dengan melanjutkan dan menemukan solusi bersama terkait isu persampahan di Indonesia,” katanya.

Koordinator Aksi Ridwan mengatakan, minimnya sosialisasi terkait perda sampah dipicu naiknya volume sampah tiap bulan. Perda kebersihan yang sudah dibuat sekitar 2015. Di mana, ujar dia, pelanggar aturan akan dikenakan denda dan kurungan, namun hal tersebut banyak masyarakat yang belum mengetahui. (Himawan Sutanto)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here