Minggu, 22 Juli 2018

Raup Rp 600 Juta/Bulan, Gudang Elpiji Oplosan 3 Kg Digerebek Polisi

TANGERANG, (KB).- Tim Satgas Pangan Dittipideksus Bareskrim Polri menggerebek sebuah gudang oplosan elpiji 3 kg, di Kavling DPR Blok C, Kelurahan Nerogtog, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang, Jumat (12/1/2018). Dari penggerebekan tersebut, petugas menyita ribuan tabung gas berbagai jenis.

Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto kepada wartawan di lokasi mengatakan, gudang milik tersangka Frengki (30) ini rata-rata membeli 5.000 tabung gas ukuran 3 kg setara dengan berat 15.000 kg gas, untuk kemudian dioplos. ”Tersangka membelinya untuk disuntikkan ke dalam tabung gas berukuran 12 kg dan 50 kg,” ujarnya.

Setyo menjelaskan, ribuan tabung gas 3 kg itu dibeli dari pengecer dengan harga di atas harga pasar. Lalu tersangka menjual gas hasil suntikkannya ke wilayah Jakarta, Tangerang dan beberapa tempat di Provinsi Banten. Usaha oplosan gas tersebut, lanjut Setyo, sudah berlangsung selama dua bulan dan tidak memiliki izin sama sekali. Bisnis kejahatan ini pun sudah diatur tersangka secara terorganisir dengan dibantu 3 tersangka lainnya yakni berinisial A, T, dan S.

A, T, dan S tugasnya berbeda-beda. Ada yang mencari pihak yang akan menjual, ada yang mencari pembeli tabung hasil suntikan dan mencari tenaga kerja,” tuturnya. Setyo menuturkan, tersangka membeli gas 3 kg (melon) dengan harga dia tas harga pasar dari para pengecer. Para pengecer mengantar langsung tabung gas melon itu ke tempat usaha milik tersangka. ”Tersangka membeli tabung gas melon dengan harga Rp 21.000, padahal harga pasar gas 3 kg seharusnya Rp 17.000,” ujarnya di lokasi penggerebekan.

Dijelaskannya, karena itulah para pengecer lebih tertarik untuk menjual gas 3 kg kepada tersangka daripada kepada masyarakat. Selanjutnya, tabung gas melon yang dibeli tersangka tersebut disuntikkan ke tabung gas 12 kg dan 50 kg menggunakan selang. Perbandingannya, untuk tabung 12 kg adalah empat banding satu. Artinya, empat tabung gas melon disuntik menjadi satu tabung 12 kg. Sedangkan untuk perbandingan tabung 50 kg adalah 17 banding satu.

Lalu, tersangka menjual gas isi 12 kg dengan harga Rp 125.000 dan Rp 130.000. Padahal harga di pasaran sebesar Rp 160.000. “Terdapat selisih harga Rp 30.000. Jadi yang dijual tersangka lebih murah daripada harga pasar,” kata Setyo. Sementara untuk gas isi 50 kg, tersangka menjualnya dengan harga Rp 450.000, padahal harga dipasaran sebesar Rp 550.000. “Terdapat selisih harga Rp 100.000 lebih murah,” tuturnya. Untuk proses pengerjaan penyuntikan gas, satu tabung gas melon membutuhkan waktu berkisar 15 hingga 20 menit untuk dapat dipindahkan ke tabung 12 kg maupun 50 kg.

“Sehingga waktu yang dibutuhkan untuk mengisi tabung gas 12 kg sekitar 1 jam,” ucap Setyo. Tak sampai disitu, tersangka yang merupakan pemilik serta pengelola bersama dengan 3 rekannya meletakkan es batu pada tabung gas 12 kg atau 50 kg. “Dengan es batu agar suhunya lebih dingin, dengan demikian gas akan lebih cepat masuk,” kata Setyo.

Raup Rp 600 juta per bulan

Gudang pengoplosan gas elpiji 3 kg milik tersangka Frengki, di Kapling DPR Blok C, Kelurahan Nerogtog, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang, ternyata meraup omzet yang tinggi. Per bulannya, gudang yang bisa mengoplos puluhan ribu tabung gas elpiji itu dapat mengantongi Rp 600 juta.
Setyo menuturkan, meski tersangka Frengki menjual hasil suntikan gas lebih murah daripada harga di pasaran, namun dia tetap meraup keuntungan. “Dalam sebulan sindikat ini meraup keuntungan Rp 600 juta, menjual tabung gas oplosan itu ke masyarakat,” ujar Setyo.

Tersangka Frengki menjual gas hasil suntikannya yang ukuran 12 kg seharga Rp 125.000 per tabung. Sementara untuk gas hasil suntikan dengan ukuran 50 kg, dijual seharga Rp 450.000 per tabung.
”Keuntungan dari gas 12 kg sebesar Rp 46.000 dan gas 50 kg sebesar Rp 100.000. Jadi dalam sehari, diperkirakan sebesar Rp 25.000.000 dari produski sekitar 1.000 tabung,” ucapnya. Karena aksi tersebut, Frengki sebagai penanggung jawab dibekuk petugas. Sedangkan 60 pegawai lainnya berhasil melarikan diri.

Sementara dari hasil penggerebekan, polisi berhasil mengamankan 4.200 tabung gas berukuran 3 kg, 396 tabung gas ukuran 12 kg, 110 tabung gas ukuran 50 kg, serta 25 unit mobil pengangkut gas dengan berbagai jenis. “Frengki dikenakan UU Perlindungan Konsumen dan UU Migas dengan ancaman penjara lima tahun dan denda Rp 2 miliar,” tutur Setyo.

Pengawasan kendor

Terkait penggerebekan gudang yang produksi ribuan tabung gas oplosan di Kavling DPR Blok C, Kelurahan Nerogtog, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang, maka pengawasan gudang di lokasi tersebut terbilang kendor. Padahal lokasi gudang ini berada di belakang Mapolres Cipondoh. Bahkan jaraknya juga dekat dengan kediaman Gubernur Banten, Wahidin Halim yang berlokasi di kawasan Pinang.
“Ini gudang perizinannya ilegal,” ujar Setyo.

Pantauan di lokasi, gudang tersebut berada di sekitar area persawahan dan rawa-rawa. Di lokasi itu juga banyak berdiri gudang-gudang lainnya. Gudang pengoplos tabung gas ini tak memiliki atap. Dindingnya juga dilapisi dengan bahan seng. Di dalamnya terdapat puluhan mobil pikap dan truk untuk mengangkut tabung gas.

Ada juga balok-balok es sebagai pendingin ditaruh di tengah-tengah gudang tersebut. “Padahal polisi juga sering patroli bolak-bolak ke kawasan ini,” ucap Fahri (26) warga sekitar. Hal senada diungkapkan Wahyu (35) yang juga merupakan masyarakat setempat. “Dulunya gudang itu kosong begitu aja. Baru sekitar tiga bulanan beroperasi lagi. Pegawai-pegawainya juga bukan warga sini,” katanya. (DA)***


Sekilas Info

Pemkot Tangerang Gratiskan PBB dan BPHTB Waris

TANGERANG, (KB).- Badan Pendapatan Daerah (BPD) Kota Tangerang menggelar sosialisasi tentang pajak bumi dan bangunan (PBB) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *