Rasio Toilet Siswa 1 Banding 83, Sanitasi Sekolah di Kabupaten Serang Masih Minim

SERANG, (KB).- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang menggandeng PT Cargill Indonesia dan Yayasan Care Peduli Indonesia untuk meningkatkan sanitasi di lingkungan sekolah. Hal tersebut dikarenakan sanitasi di lingkungan sekolah masih minim, yakni baru mencapai 40 persen atau satu toilet berbanding 83 siswa.

Hal tersebut terungkap dalam kick off meeting prosper II PT Cargill Indonesia bersama Pemkab Serang dan Yayasan Care Peduli Indonesia. Kegiatan digelar di Ruang Rapat Tubagus Saparudin, Pemkab Serang, Senin (24/2/2020).

Corporate Responsibiliy Lead Cargil Indonesia Agung Baskoro mengatakan, hal yang menjadi isu utama dari program sanitasi sekolah tersebut, yakni rasio ketersediaan toilet dibanding murid. Seperti pada 2019, rasionya mencapai 125 murid banding satu toilet. Kemudian, berhasil ditekan menjadi satu banding 83 murid.

“Angkanya sangat tinggi, kebayang anak ke toilet harus ngantre panjang. Idealnya satu banding 50 murid,” katanya saat ditemui Kabar Banten di ruang rapat tersebut.

Kemudian, tutur dia, masalah kebersihan toilet yang berkaitan dengan pembuangan air limbah dan suplai air bersih masih kurang.

“Terus kebiasaan mencuci tangan, itu bisa membantu mengurangi risiko penyebaran virus corona. Di beberapa sekolah kami buat suport suplai air dan keran air bersih kami latih anak-anak cuci tangan dengan sabun,” ujarnya.

Ia menjelaskan, untuk prosper II tahun ini pendekatan yang dilakukan tidak hanya pemahaman fisik. Namun, juga pembiasaan hidup sehat bagi anak anak SD. Jadi, dari Cargil meneruskan program dari 2016.

“Kami teruskan 2,5 tahun ke depan kami tambah 10 sekolah, kami lihat praktik sanitasi baik itu bagaimana, misalnya kami lihat ternyata ada masalah di suplai air bersih itu yang kami suport. Toilet yang belum standar kami suport ke sana, kami tidak hanya suport, tapi juga pancing orangtua murid, agar ada rasa memiliki,” ucapnya.

Ia menuturkan, dalam implementasinya akan ada program dokter kecil juga membuat kebun sekolah, agar anak-anak bisa tahu bagaimana mendapatkan gizi sederhana dari lingkungan sekitar sekolah. Untuk 2020, ada 10 sekolah yang akan mendapatkan program sanitasi tersebut.

“Kecamatannya variasi. Tapi, pemilihannya konsultasi dengan Dindik dan Bappeda. Tersebar di beberapa kecamatan. Rencananya program di lapangan baru bisa mulai pertengahan tahun. Tapi, sebelum itu kami sudah ToT (training of trainer) guru dulu kan ada sekolah yang baru (dapat program) juga,” tuturnya.

Kepala Dindikbud Kabupaten Serang Asep Nugraha Jaya mengatakan, pada 2020, pihaknya memiliki anggaran replika sanitasi sekolah Rp 1,4 miliar untuk 14 sekolah. Angka tersebut, lebih sedikit dibanding tahun sebelumnya yang mencapai Rp 3 miliar dan dibagi di 29 sekolah di 29 kecamatan.

“Sekolah sudah disurvei, karena harus ada lahan, saya tidak mau di belakang saya mau sanitasi itu harus tampak di depan yang justru memperindah sekolah,” katanya.

Ia menuturkan, tingkat sanitasi sekolah di Kabupaten Serang masih belum maksimal. Bahkan, menurut dia, belum sampai di posisi 50 persen.

“Masih banyak yang belum. Ada tapi belum maksimal paling sekitar 40 persenan,” ujarnya.

Untuk kegiatan yang dilakukan bersama Cargill tersebut, ucap dia, sejak awal sudah dipacu berkaitan dengan sanitasi dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Sanitasi tersebut, berkaitan dengan pembangunan fisik, kemudian pemanfaatan sarana sanitasi tersebut.

“Untuk PHBS ada pelatihan guru tentang penggunaan sarana dan pemeliharaan sarana (sanitasi), ada kantin sehat, seluruhnya berorientasi pada kesehatan. Dari sini ada dampak besar pada masyarakat orientasi akhirnya,” tuturnya.

Ia berharap, apa yang dilakukan oleh Cargill bisa diikuti oleh perusahaan lainnya di Kabupaten Serang.

“Saya harap perusahaan lainnya bisa beri perhatian spesifik ke pendidikan. Kami berharap (ke bidang pendidikan), tapi tentunya kami harus lihat kepentingan perusahaan, ada hal-hal yang jadi kebijakan perusahaan,” katanya.

Ia mengungkapkan, untuk CSR secara umum ada pengurusnya.

“Kami mengimbau ke perusahaan di Kabupaten Serang sama seperti Cargill melakukan posting anggaran untuk pendidikan dan kesehatan. Jangan berpikir anggaran untuk masyarakat sekitar pabrik tapi menyebar,” ujarnya.

Sekretaris Daerah Kabupaten Serang Tubagus Entus Mahmud Sahiri mengapresiasi apa yang dilakukan Cargill dan Yayasan Care Peduli Indonesia.

“Dengan ada dua lembaga yang peduli kesehatan anak, maka pemerintah daerah OPD (organisasi perangkat daerah) terkait harus bersinergi berkolaborasi untuk menyatukan pandangan apa yang perlu dilakukan bersama. Dengan harapan ada berbagi peran antar-OPD terkait dengan Cargill dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,” ucapnya.

Sebab, tutur dia, diketahui bersama, bahwa persoalan kesehatan di lingkungan sekolah, meliputi aspek fisik infrastruktur maupun nonfisik, seperti gaya hidup, mental, dan kesadaran kesehatan yang masih rendah.

“Itu harus diupayakan bersama untuk ditingkatkan. Melalui kegiatan ini kami harapkan ada kesamaan pandangan untuk segera mengentaskan persoalan kesehatan lingkungan sekolah,” tuturnya.

Ia mengatakan, program tersebut, merupakan yang kedua kalinya di Kabupaten Serang. Sebelumnya, program dilakukan di dua tempat, yakni Kabupaten Serang dan Makassar. Akan tetapi, menurut pengakuan Cargill, hanya Pemkab Serang yang memiliki semangat tinggi untuk sinergi program tersebut.

“Makanya, untuk kedua ini mereka mengulang kegiatan di Kabupaten Serang dan memindahkan untuk Makassar ke daerah lain. Tapi, kami lihat sinergitas pemda dan perusahaan sangat baik,” katanya. (DN)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here