‘Rapid Test’ Ditolak, Sosialisasi Disorot

ilustrasi. net

SERANG, (KB).- Fenomena penolakan rapid test bermunculan di beberapa daerah di Banten. Banyaknya penolakan terhadap metode skrining awal untuk mendeteksi antibodi tersebut, dilakukan dengan berbagai cara. Selain terang-terangan menyatakan sikap, warga bahkan sampai mengungsi untuk menghindari rapid test.

Berdasarkan data yang dihimpun Kabar Banten, penolakan rapid test cukup ramai terjadi di Kota Serang. Padahal, anggaran yang disiapkan Pemerintah Kota (Pemkot) Serang untuk pengadaan alat rapid test cukup besar yakni sekitar Rp 5 miliar. Namun pada pelaksanaannya justru menuai banyak penolakan dari masyarakat.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Serang Ikbal mengatakan, anggaran yang disiapkan untuk pengadaan rapid test sekitar hampir mencapai Rp 5 miliar. Dari total 22.700 alat rapid test, saat ini ada sekitar 8.000 lebih untuk cadangan. Rencananya, jumlah 22.700 itu disiapkan sampai bulan Oktober.

Untuk sasaran rapid test sendiri, ia menuturkan, sasaran utamanya adalah pasien ODP, PDP dan seluruh tenaga kesehatan khususnya yang bekerja di seluruh puskesmas dan rumah sakit di Kota Serang.

Terkait munculnya berbagai penolakan dari masyarakat, ia mengklaim semua sudah ditangani melalui tim gugus tugas yang di kecamatan dan kelurahan. Munculnya penolakan itu karena adanya ketidakpahaman dari masyarakat.

Hal hampir senada dikatakan Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat (Kesmas) pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Serang Lenny Suryani. Sejumlah kejadian masyarakat yang kabur ketika lingkungannya diadakan rapid test, menurut dia, karena kurangnya sosialisasi dan pemahaman yang diterima oleh masyarakat.

“Iya ada yang kabur ketika akan di-rapid test. Sebenarnya itu dikarenakan informasi yang mereka dapat tidak lengkap tentang kegunaan rapid test. Mereka (warga) mengira apabila hasil rapid reaktif, mereka akan diisolasi dan dibawa ke rumah sakit oleh petugas,” katanya, Ahad (28/6/2020).

Masyarakat banyak yang mengira jika rapid test sama dengan swab test yang banyak beredar di siaran televisi dan media sosial. Sampai akhirnya mereka merasa takut dan khawatir hingga mengungsi untuk menghindari petugas kesehatan melakukan rapid test.

“Iya, mereka kira akan dicolok hidung dan mulutnya. Jadi banyak yang ketakutan untuk dilakukan pemeriksaan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, peran gugus tugas sangat penting untuk melakukan sosialisasi dan edukasi agar masyarakat paham tentang pemeriksaan rapid test dan swab test.

“Kalau peran gugus tugasnya kurang berjalan, tentu akan seperti ini terus. Peran gugus tugas tingkat kelurahan dan RW itu harus berjalan untuk mengedukasi masyarakatnya,” ucapnya.

Sebab, ia menuturkan, informasi yang diterima masyarakat tentang Covid-19 dan penanganannya masih belum paham sepenuhnya.

“Maka, disini peran gugus tugas itu sangatlah penting. Karena mereka belum paham sepenuhnya, yang diterima mereka itu hanya setengah-setengah saja. Jadi kalau memang masyarakat tidak mau, kami pun tidak akan memaksa,” kata Lenny.

Pelaksanaan rapid test massal tersebut, kata dia, hingga akhir bulan ini dan dilakukan kepada seluruh masyarakat dan instansi pemerintahan serta yang lainnya.

“Seperti organisasi perangkat daerah (OPD), kelurahan, Polres, MUI, dan seluruh masyarakat Kota Serang. Untuk sementara ini akan dilakukan sampai 31 Juli 2020,” tuturnya.

Butuh sosialisasi

Bukan hanya di Kota Serang, penolakan rapid test juga terjadi di Kabupaten Serang. Banyaknya masyarakat yang menolak, karena merasa ketakutan akibat salah persepsi. Oleh karena itu, sosialisasi tentang rapid test tersebut harus terus dilakukan oleh semua pihak.

“(Pelaksanaan) rapid test harus dikasih penyuluhan masyarakat, jangan sampai salah persepsi di-rapid test mereka takut ketahuan dan diambil ke RS. Teman-teman bantu bahwa itu untuk kesehatan mereka,” ujar Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah kepada Kabar Banten, Jumat (26/6/2020).

Ketua gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 Kabupaten Serang mengatakan, masyarakat perlu tahu bahwa akan sangat berbahaya jika mereka positif tanpa gejala dan tidak ada penanganan medis.

Oleh karena itu, perlu terus dijelaskan bahwa rapid test dilakukan untuk kebaikan semuanya. Sebab, orang tanpa gejala kelihatan sehat. Tapi tiba-tiba bisa drop sekaligus dan akan sulit ditolong oleh tim medis.

Tatu menjelaskan, saat ini penggunaan protokol covid seperti pakai masker saja masih belum jadi budaya di masyarakat. Masyarakat masih ada yang rikuh dengan hal-hal semacam ini.

“Harus terus kita sama teman-teman media kalau ketemu masyarakat sampaikan jadi semua bicara, tokoh masyarakat dan agama,” katanya.

Disinggung soal jumlah kasus positif yang sudah mencapai 56 kasus, Tatu mengatakan, lonjakan ini terjadi karena masyarakat tidak sabar. Selama tiga bulan belakangan, masyarakat sudah masuk masa jenuh dan ingin keluar rumah. Padahal, pemerintah pusat sudah sebutkan ada tahapan masuk era new normal, tatanan kenormalan baru.

“Jadi bukan normal seperti dulu semua serba lepas, mungkin jarang cuci tangan, nah yang dilakukan selama tiga bulan kemarin sekarang dilakukan sehari-hari. Jadi hal yang normal kita pakai masker dulu kan enggak biasa, cuci tangan sering, jaga jarak, hindari kerumunan, masyarakat sepertinya masyarakat tidak begitu peduli padahal itu bahaya buat semuanya. Dan peningkatan di Kabupaten Serang karena ada pasien positif yang kabur dari Jakarta,” ucapnya.

Sementara, seorang pedagang di Pasar Baros Iwan Setiawan mengatakan, sampai saat ini di Pasar Baros belum ada rapid test.

“Enggak ada, semua pedagang nolak soalnya,” ujarnya kepada wartawan saat dihubungi melalui saluran telepon.

Iwan mengatakan, para pedagang khawatir adanya rapid test bisa berdampak terhadap sepinya pembeli di pasar. Kedua, para pedagang selama ini sehat semua.

“Bukan masalah ada yang positif. Orang awam kalau ada rapid test khawatir takut berkunjung. Saya dari forum juga pedagang baik-baik saja karena kalau ada orang sakit ada acara jenguk jadi tahu siapa yang sakit. Dan selama ini enggak ada yang sakit,” tuturnya.

Pria yang juga Anggota Forum Komunikasi Pedagang Pasar Baros (FKPPB) tersebut mengatakan, selama ini dari pihak dinas kesehatan juga sudah ada yang datang untuk memberikan sosialisasi dengan didampingi kepolisian.

“Tadi ada, kemarin juga ada sosialisasi. Kasih pemahaman supaya pedagang mengerti karena ketidaktahuan dan ketakutan,” katanya.

Tutup toko

Sementara itu, dari Tangerang dilaporkan bahwa sejumlah pedagang di Pasar Kebon Besar, Kecamatan Batu Ceper, Kota Tangerang, menutup toko, Jumat (26/6/2020). Mereka menghindari tim medis Puskesmas Batu Ceper yang melakukan rapid test massal.

Pengelola Pasar Kebon Besar, Untung Subagio membenarkan hal tersebut. Dia menduga para pedagang merasa panik sehingga memilih menghindar dari pelaksanaan rapid test ini.

“Memang bingung. Tidak dikasih tahu, nantinya takut ribut. Kalau dikasih tahu, efeknya begini, sebagian malah tutup,” ujarnya, Sabtu (27/6/2020).

Meski demikian, dia menuturkan, tidak semua pedagang menghindar karena ada juga sebagian pedagang yang tetap buka dan mengikuti rapid test. Dia memperkirakan sekitar 50 persen pedagang yang tidak hadir.

“Pedagang sayur aja 25 persen (yang tutup). Kalau keseluruhan, fifty-fifty, lah,” katanya.

Dia menjelaskan, dua hari sebelum pelaksanaan rapid test massal ini, jajarannya telah memberitahukan kepada para pedagang, yakni sejak Rabu (24/6/2020).

Untung mengatakan, rapid test tersebut dilakukan terhadap 100 orang yang ada di pasar, baik pedagang, pengunjung, maupun masyarakat.

“Mintanya 100 karena di pasar itu kan tempat berkumpulnya antara pedagang sama pengunjung. Jadi, ini buat sampling,” ujarnya saat dimintai keterangan.

Untuk mencegah penularan Covid-19 di pasar telah didirikan juga posko pemantauan yang dijaga petugas sejak bulan Mei 2020, sekitar Hari Raya Idulfitri 1441 Hijriah yang lalu. Mengenai hasil rapid test kali ini, ia belum mengetahui apakah ada warga yang reaktif Covid-19.

Sementara itu Kepala Puskesmas Batu Ceper Iradani Yupitaningrum menjelaskan, pihaknya belum bisa memberikan penjelasan tentang hasil rapid test ini dan masih menunggu arahan dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang. Sejauh ini, keadaan masih baik-baik saja. (Tim Kabar Banten)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here