Rancangan RPJMD 2019-2023 Kota Serang, Pendidikan Hingga Kemiskinan Jadi Fokus

SERANG, (KB).- Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2019-2023 Kota Serang difokuskan pada lima persoalan, yakni pendidikan, kesehatan, infrastruktur, kekumuhan, dan kemiskinan. Organisasi perangkat daerah (OPD) diminta menyusun rencana strategis (renstra) selaras dengan RPJMD tersebut.

Hal tersebut dikatakan Wali Kota Serang, Syafrudin, seusai pembukaan forum konsultasi publik rancangan awal RPJMD Kota Serang tahun 2019-2023 di salah satu hotel Kota Serang, Senin (7/1/2019).

“Hal yang menjadi fokus untuk diselesaikan dalam RPJMD 2019-2023, yakni persoalan pendidikan, kesehatan, infrastruktur, kekumuhan, dan kemiskinan. Ini kami sedikit demi sedikit akan kami tumpas. Mudah-mudahan dalam lima tahun ini kami selesaikan,” katanya.

Ia menekankan, agar penyusunan renstra selaras dengan RPJMD. “Kalau tidak sesuai dengan RPJMD ya nyimpang,” ujarnya.

Mantan Kadis DLH Kota Serang tersebut menuturkan, terpenting untuk diselesaikan saat ini dan sudah sejalan dengan RPJMD, yakni program 100 hari kerja yang terfokus pada tiga hal, yaitu penataan PKL, kelancaran lalu lintas di Terowongan Trondol, dan masalah sampah.

Sementara itu, dalam dokumen prospek dan tantangan pembangunan daerah Kota Serang tahun 2019-2023 disebutkan, bahwa Kota Serang punya tantangan menyediakan infrastruktur wilayah yang menunjang peran dan fungsi sebagai ibu kota provinsi.

Beragam jenis pelayanan berskala regional, bahkan nasional, seperti stadion, pasar induk, drainase, dan infrastruktur yang ramah disabilitas. Kemudian, dalam bidang pendidikan yang dirasa masih sangat memprihatinkan dapat dilihat dari 2,38 persen penduduk buta huruf, rata-rata lama sekolas (RLS) yang baru mencapai 8,61 pada 2017, dan ketimpangan gender yang nyata antara laki-laki 9,35 tahun serta perempuan 7,86 tahun.

Permasalahan lainnya, yakni penanganan penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS), pemanfaatan dan pengendalian tata ruang, pengendalian pencemaran, revitalisasi budaya, dan kearifan lokal, serta permasalahan lainnya.

Ketua DPRD Kota Serang, Namin menuturkan, pemkot harus membuat grand design, agar pembangunan Kota Serang tidak berjalan secara parsial dan lebih komprehensif. “Jangan sampai kaya kemarin, membangun Masjid Agung di Alun-alun Barat, ini kami sayangkan. FS (feasibility study)-nya saja belum dilakukan,” ucapnya.

Ia berharap, dalam program penataan PKL pemkot tidak hanya menertibkan dan menempatkan. Tetapi, harus mengerti alasan PKL tidak mau mengisi lokasi baru dan mampu mencari solusinya. “Seperti di Kepandean, jika PKL enggan, karena sepinya pembeli, maka pemkot harus bisa lebih kreatif untuk meciptakan suasana yang bisa menarik orang banyak datang,” tuturnya. (Masykur/RI)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here