Ramadan Membangun Solidaritas

Fauzul Iman, Rektor UIN SMH Banten.*

Oleh : Prof. Dr. H. Fauzul Iman, MA

Kehadiran perintah ibadah puasa Ramadan selama satu bulan kepada umat Islam dengan tujuan agar bertakwa tentu akan diterima dengan penuh kebahagiaan. Kebahagiaan yang akan diraih para pelaku puasa seperti, kata Nabi SAW, adalah “pertama, saat berbuka menikmati hidangan makanan. Kedua, saat bertemu dengan Tuhannya”.

Kebahagiaan dalam berbuka maknanya terkandung rasa syukur bagi pelaku puasa menikmati hidangan makanan setelah di siang hari berjuang menahan haus, lapar bercampur letih.

Dalam situasi ini pelaku puasa merasakan betapa haus, lapar dan letih itu menjadi penderitaan harian kaum miskin sehingga dalam diri pelaku puasa tumbuh sifat solidaritas dan kasih pada setiap umat manusia yang didera penderitaan hidup.

Kebahagiaan bertemu dengan Tuhan mengandung persiapan hidup ke depan (hidup di akhirat) saat mempertanggungjawabkan prestasi amaliahnya di hadapan Tuhan kelak.

Upaya ke arah itu pelaku puasa ditantang untuk fokus mempersiapkan amalan-amalan positifnya sebagai yang terkandung dalam perintah dan larangan ibadah puasa.

Perintah dalam ibadah puasa berupa amalan Salat Tarawih berjamaah, pemberian sedekah, infak dan zakat yang diamalkan secara khusyuk, fokus dan konsisten merupakan pendidikan efektif yang dapat membentuk kepribadian sosial / akhlak yang tinggi.

Demikian juga larangan membuka aib, mencela, mengadu domba, berdusta dan menjaga syahwat/ hawa nafsu sejatinya menjadi kebahagiaan pelaku ibadah puasa itu sendiri karena bukan saja menumbuhkan suasana batinnya menjadi lembut, santun juga mampu membangun dan merajut hubungan solidaritas antara sesama.

Lima hal yang dapat merusak nilai ibadah puasa, kata Nabi SAW, adalah berdusta, sumpah palsu, membuka aib, mengadu domba dan mengumbar hawa nafsu.

Benar, perbuatan seperti ini merusak nilai ibadah puasa karena yang bersangkutan tidak mendapat kebahagiaan saat menerima hukuman di hadapan Tuhannya kelak. Ia juga akan meraih kesengsaraan hidup di dunianya karena selalu membuat keonaran dan tidak tumbuh dari batinnya guna merajut hubungan solidaritas antara sesamanya.

“Barang siapa yang tidak meninggalkan pernyataan cela dan onar”, demikian Nabi SAW, ” maka Allah tidak akan peduli/ butuh padanya daripada ia sekadar meninggalkan makanan dan minuman”.

Pendidikan kepribadian dalam ibadah Ramadan yang seperti ini, menurut al- Kalabazi tokoh sufi dalam bukunya Taaruf li al- Mazahib ahl at- Tasawuf , disebut dengan pendidikan damir yaitu pendidikan dalam membentuk kepribadian berhatinurani sejati.

Lewat damir inilah manusia tidak akan tergoncangkan menghadapi tantangan apapun yang membentang di hadapannya. Tapi ia akan tetap berdasarkan hati nuraninya yang suci dan steril dari angkara murka berprilaku konsisten, istiqamah dalam merajut hidup saling kasih, dan menebar kedamaian.

Di era situasi bangsa yang sedang merangkai misi besar demokrasi yang rentan konflik ini , maka hadirnya bulan Ramadan menjadi momentum penting karena dari pendidikan Ramadan ini telah lahir manusua damir/kepribadian berhati nurani takwa yang mampu menggalang solidaritas dan perdamaian. Semoga ! (Penulis adalah Rektor UIN SMH Banten)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here